PROLOG

31 4 2
                                        

Dunia ini memang suka bercanda, memberikan aku harapan untuk tetap bertahan tapi malah dijatuhkan oleh keadaan. Kakiku gemetar untuk hal yang aku hadapi sekarang. Tertampar, terjungkal, dan tersungkur. Hanya hal yang menyakitkan itu yang aku rasakan. Kegagalan selalu menghantui diriku. Aku bangkitpun rasanya tak berguna karna kehidupan selalu menikamku.

Mimpi-mimpiku yang ingin kucapai untuk mengubah hidupku menjadi lebih baik hangus secara merata tak tersisa apapun. Ya, semuanya sia-sia. Hanya tangis dalam diam yang aku miliki. Banyak orang yang harus aku buat bangga, tapi seolah tak di beri kesempatan oleh yang kuasa.

Sore itu, angin membelai rambutku dengan damai, tapi tidak dengan hatiku. Aku berjalan menyusuri jalan yang ramai dengan lamunan kesana kemari. Hari ini hari penerimaan raport semester dua di kelas sepuluh. Nilaiku diluar targetku, sangat buruk.

Aku tak tau apa yang salah, padahal aku sudah berjuang mati-matian. Rela begadang agar tugas selesai, selalu berusaha memahami soal yang guruku berikan. Ini seolah tak adil. Mengingat tentang temanku yang menurutku kami memiliki tingkat perjuangan yang sama malah memiliki nilai jauh di atasku.

Sesampainya di rumah bernuasa biru langit, ku rebahkan diriku di sofa Panjang. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul tiga sore. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kamar. Kamar itu sangat hampa, sama halnya seperti hidupku. Tidak ada yang istimewa, nuansa hitam dan putih dengan buku yang agak berantakan di atas meja. Dan tak ada satupun benda di kamarku yang menurutku berkesan khusus.

IT'S OKAYWhere stories live. Discover now