PROLOG

160 35 12
                                        

Tubuhnya gemetar, tapi ia memberanikan diri untuk berlari sembari memegang sebilah pisau di tangan kanannya.

Matanya yang berkaca-kaca hanya tertuju kepada lelaki berjubah yang ternyata mengkhianatinya.

Saat hanya tinggal satu inci pisau itu tertancap pada punggung lelaki itu, tiba-tiba gadis itu teringat semua kenangan manis dengan nya. Ia kehilangan tenaga dan menjatuhkan pisau itu.

"Kenapa berhenti," bisik sang pria sembari mencekik leher gadis itu.

"Aku bukan pecundang yang menikam orang lain dari belakang," isak gadis itu karena kehabisan nafas.

"Penghia-." belum selesai gadis itu berteriak, tiba-tiba ia di dorong oleh laki-laki itu sembari bersiap menusuk sang gadis dengan sebilah pisau.

"BERHENTI, ERNEST," teriak seorang lelaki dari belakang Ernest.

Yeah, nama lelaki yang digadang-gadang sebagai penghianat itu adalah ERNEST.

Pria itu menarik sang gadis dari genggaman Ernest dan pisau itu mengenai lengan nya. Darah mulai menetes dari lengan pria tersebut.

"Lo udah gila!?" tanya pria itu.

Tiba-tiba saja sebuah petir menyambar dengan begitu keras, membuat gadis itu tersentak kaget. Sontak ia berjongkok dengan menutup telinganya dengan kedua tangannya.

"Hanya mimpi," kata gadis itu lega, karena semua itu hanya mimpi.

Gadis itu terbangun dengan mata mebelalak terkejut, jantungnya berdebar kencang saat menyadari apa yang terjadi padanya di mimpi itu. Siapa yang tidak takut jika bermimpi akan di bunuh oleh seseorang.

"Entah sudah berapa kali aku memimpikan hal ini, setelah 3 tahun silam semua ini terjadi ... Aku masih belum bisa melupakan semuanya," lanjutnya sambil menghela nafas.

"Sudah jam tujuh? Astaga aku terlambat lagi." Gadis itu terkejut karena jam menunjukkan pukul tujuh yang artinya ia terlambat bekerja.

Ia menurunkan kakinya dan meraba di mana sendalnya dalam keadaan mata sayup-sayup karena kantuk, setelah mendapati sendalnya, ia bergegas memakainya dan berlari ke arah kamar mandi. Tak berselang lama, gadis itu keluar dengan sudah mengenakan pakaian lengkap namun masih menggunakan gulungan handuk di kepalanya.

Sorai rambutnya yang terurai tampak indah saat ia melepaskan gulungan handuk dari rambutnya yang masih setengah basah sembari menuruni tangga dengan terburu. Tetesan air berterbangan membasahi ruangan saat ia mengibaskan rambutnya yang masih setengah basah.

"SURPRISE," sorak seorang wanita paruh baya itu mengejutkan gadis itu yang sedang terburu-buru.

"Selamat ulang tahun putri kecil ku yang ke-21 tahun," ucap wanita itu sembari mengacup kening gadis itu.

"Ibu, ayolah ... aku sudah dua puluh satu tahun, aku sudah dewasa," sangkalnya sambil meniup lilin di atas kue yang di bawa oleh wanita itu.

"Bagi ibu, Akhira tetaplah gadis kecil ku," jawab sang ibu sembari berjalan ke arah meja dan menaruh kue tersebut.

"Cup, aku berangkat dulu ya Bu." kecup Akhira di pipi kanan ibunya.

Akhira Louisa Caroline Delmond. Kerap di panggil Akhira, Seorang Agent mata-mata yang kini umurnya menginjak 26 tahun. Ia sering di juluki dengan "Sweetie Water" karena dirinya yang selalu bersikap manis namun  bengis saat berhadapan dengan musuh dan tenang dalam semua keadaan, namun itu juga yang kini menjadi kelemahannya, ia terlalu menggunakan perasaan dalam segala hal.

Dari kejauhan silau pantulan cahaya dari banner caffe tempatnya berjanji untuk menemui temannya mulai tertangkap oleh kornea mata kecoklatan itu. Langkah kaki mungilnya mulai terburu dengan sesekali mengumpat karena menyesali kesalahan yang selalu terulang setiap hari; terlambat saat bangun pagi.

"Sorry kalau nunggu lama." gegas Akhira duduk di antara dua wanita yang sedang menatap nya sinis.

"Janji jam 7, tapi sekarang udah jam berapa?" tanya salah satu gadis itu sembari merotasi kan bola matanya.

"Pinky Candy Andrealyn, natap gue biasa aja bisa ga sih. Kaya gue abis melakukan tindak kriminal aja," gurau Akhira bertujuan membujuk kedua sahabatnya itu.

Pinky Candy Andrealyn. Seorang gadis yang manis ... sama seperti namanya, namun sangat berbahaya saat ia sudah mulai menyusun rencana. Ia seorang Agent juga, sama seperti Akhira ... hanya saja bagian nya menyusun rencana.

"Jadi Send, kita ada misi apa dan di mana?" tanya Candy kepada Senddy yang masih fokus dengan leptop nya.

"Gue juga belum tau sih, email gue belum di bales sama Leo," jawab Senddy dengan tetap fokus pada pekerjaan nya.

Neora Senddy Maurensyah. Seorang gadis tomboy, dan memiliki tugas menghacker. Kemampuan nya dalam bermain komputer, medsos, dan jejaring internet tidak di ragukan lagi.

"Sampai kapan kita duduk ga jelas kaya gini," kesal Candy.

"Sabar bisa ga sih," jawab Senddy dengan ketus.

"Masih belum ada jawaban dari Leo ya Send?" tanya Akhira dengan suara lembutnya.

Tak ada angin tak ada hujan, tiba tiba Sandy menggebrak meja sembari bertanya, "Sekarang tanggal berapa?".

"Selow dong, sekarang tanggal 08 Maret. Kenapa?" jawab Senddy dengan melirik sinis kepada Candy. "Tunggu, tanggal 08 Maret? Artinya ultah Akhira dong," lanjut Senddy dengan wajah sumringah.

"Nah itu, makanya gue tanya tanggal berapa," sahut Candy dengan gelak kecil.

"Happy birthday ya bestie," ucap keduanya bersamaan.

"Telat Lo pada, udah sejam gue di sini baru ngeh kalau gue ultah," jawab Akhira sembari merotasi kan bola matanya.

"Artinya, ini hari peringatan kegagalan pertama kita dalam menjalankan misi," lirih Candy.

"Gausah merusak suasana deh Cand, Lo tuh mulutnya ga bisa di rem. Nih si Leo udah jawab," sentak Senddy.

"Ya maap, mengenang masa lalu kan ga salah. Si Leo Jawab apa?" celetuk Candy mereda suasana.

"Katanya kita suruh kumpul di markas, ini misi penting," jawab Senddy sedikit ragu.

"Setelah kegagalan kita 3 tahun lalu, baru kali ini kita di amanahi misi penting," sesal Akhira mengingat pada kejadian mengerikan itu.

"Udah lah, lupain kejadian itu ... mending kita ke markas aja," ajak Senddy merangkul pundak Akhira.

To be continued...

Kira kira akan ada misi apa ya?
Dan di mana?
Kejadian apa di tiga tahun lalu sampe ga bisa di lupain sama Akhira?
Dan apa yang akan terjadi di cerita selanjutnya.. simak terus yagesya

WARNING Where stories live. Discover now