I : The Caller [Penelepon]

285 30 5
                                        

※※※

Seorang wanita berambut kecokelatan menarik napas panjang dengan merentangkan kedua tangan untuk menikmati udara pagi yang sedang menyelimuti kota New York. Udara kebebasan benar-benar bisa dia rasakan dari lantai 15 apartemennya itu. Dia mengikat rambutnya ke belakang dengan tatapan mengarah ke bawah. Dia bisa melihat banyaknya kendaraan yang berlalu-lalang serta burung-burung berkicau ria.

Suara gonggongan anjing membuat wanita itu menoleh ke belakang. Dia lupa kalau hewan peliharaan berjenis Husky yang dia beri nama Pudel sedang meminta jatah makanannya. Dia berjalan masuk kembali untuk segera mengisi mangkuk milik Pudel selepas itu bersiap-siap berangkat bekerja.

Wanita itu menatap sejenak bingkai foto ketika dirinya lulus dari universitas dengan senyuman tipis terpancar jelas di foto tersebut.

Wanita itu menatap sejenak bingkai foto ketika dirinya lulus dari universitas dengan senyuman tipis terpancar jelas di foto tersebut

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Sebuah bis berhenti di depan halte salah satu fasilitas kota. Beberapa orang yang berada di depan halte terlihat masuk secara bergiliran ke dalam bis termasuk dengan Catherine Gracia Miller; wanita yang memiliki anjing Husky di apartemennya itu. Catherine memilih untuk duduk di samping jendela bis agar dia bisa melihat aktivitas penduduk kota New York.

Bangunan-bangunan kokoh terlihat menjulang tinggi dengan berbagai jenis jumlah lantai yang berbeda-beda. Deretan toko dengan merek ternama terpampang jelas di setiap tepi jalan. Maklum saja, New York adalah salah satu kota terpadat dan juga tersibuk karena merupakan sebuah kota metropolitan di negara Amerika Serikat.

Bis berhenti di halte selanjutnya, Catherine bergerak turun meninggalkan bis tersebut. Dia berjalan beberapa langkah sampai wanita itu berhenti di sebuah bangunan dengan kisaran 14 lantai yang membuatnya sempat mendongakkan kepala ke atas. Catherine menghela napas bersamaan dengan kembali menatap lurus ke depan.

Dia mulai bergerak masuk ke sebuah departemen kepolisian kota New York atau biasa disingkat dengan sebutan NYPD. Kedatangan Catherine mendapatkan sambutan hangat oleh beberapa anggota kepolisian di sana salah satunya adalah Oliver; pria berkulit hitam yang memang sudah menjadi teman Catherine sejak mereka berada di bangku perkuliahan.

"Apa ada kabar terbaru?" tanya Catherine pada Oliver sembari melangkah ke arah elevator bangunan.

"Ada potongan harga yang berlaku di semua toko Starbucks untuk minuman tertentu," kata Oliver.

Catherine menoleh dengan tatapan datar.

Oliver tertawa kecil. "Aku serius."

"Kapan masa itu akan berakhir?"

"Hari ini."

Kedua bola mata Catherine membulat.

"Sampai jam 12 malam."

[Completed] 911 [1]: The CallerStories to obsess over. Discover now