Hai teman!! Selamat datang di cerita kedua aku👏 ya walau cerita satunya mogok hehe😅
Udah, gini aja basa-basinya. Vote dulu sebelum baca!
Selamat membaca💜
"Tapi Aza nggak mau bunda!" rengek Nahza menggoyang-goyangkan lengan Shaza yang menampakan wajah datar.
"Kamu mau? Tinggal sendirian di sini?" ujar Arzil sembari merapikan jas hitamnya.
"Nggak mau, takut." Aza menggeleng tegas.
Shaza menghela napas panjang.
"Ya terus gimana? Diajak ikut nggak mau, ditinggal pun juga nggak mau."
"Aza nggak mau ninggalin mansion ini, Aza juga bakalan kangen sama Fisya." mata Nahza mulai berkaca-kaca. Mau menangis rupanya gadis itu.
"Cuman sebentar doang Azaa, nanti kita pindah ke sini lagi kok."
Nahza tetap menggeleng tegas. Bibirnya mengerucut tanda sedang sebal.
"Yaudah kalo tetep nggak mau, Papa biar sama Mama aja ke sananya." pancing Arzil membuat mata Aza membulat sempurna.
"Ga! Aza gak mau ditinggal sendiri, Papa pergi aja sendiri sana! Mama biar sama aku!" tolak Nahza mentah-mentah.
"Tapi, Mama pengen ikut Papa ke Jakarta. Sekalian mau jalan-jalan,"
Wajah Nahza semakin tertekuk merasa tidak ada yang mengikuti kemauannnya. Ia beranjak dari duduknya, menghentak-hentakan kakinya berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Blam!
Mendengar pintu yang dibanting keras membuat pasangan itu menggeleng lelah. Ada-ada saja kelakuan anak kesayangan mereka itu.
****
"Huaa! Fisyaa, gimana dong? Aku dipaksa ikut sama Mama-Papa, hiks." rengek Nahza pada seseorang di seberang sana. Ingusnya pun sudah ke mana-mana karena menangis sejak tadi. Padahal ia sudah hampir menghabiskan satu pack tisu ukuran besar.
"Ya mau gimana lagi Azaa, kita itu memang ditakdirkan untuk berpisah." jawab seseorang itu mendramasir suasana.
"Hiks, sroot! Huaa! Tapi Aza gak mau ninggalin Fisya,"
"Aza, lo sayang Mama-Papa lo nggak?"
Nahza mengangguk. Meski tahu jika Fisya tidak akan melihat nya.
"Sayang banget."
"Kalo lo emang sayang, turutin kemauan orang tua lo ya. Gue tahu mereka khawatir semisal lo ditinggal sendiri di sini. Secara, lo kan anak tunggal."
"Aku juga gak mau ditinggal sendiri."
"Tuh kan, yaudah. Dari pada di tinggal sendiri mending ikut aja Zaa,"
"Tapi nanti aku kangen sama kalian."
"Kalian?"
"Iya, kalian. Kamu sama mansion aku, hehe." Aza cengengesan tidak jelas setelah suasana hatinya membaik.
"Udah ah! Meski gue rada gak rela kalo lo udah gak sekolah di sini lagi, tapi gue juga mau gimana lagi. Gue harus ikhlas relain lo pindah ke Jakarta."
Mata Nahza kembali mengembun.
"Nanti aku bakal rindu sama kamu."
"Iya, gue juga. Kalo lo udah dapet teman baru di sana, jangan lupain gue ya."
"Ihh! Kamu ko ngomong gitu sihh! Hiks!" sebal Nahza mengelap ingusnya yang meluber ke mana-mana.
"Udah lah, pokoknya pesan gue cuman satu. Jangan pernah lupain gue ya, dan..gue juga mau ngomong kalo..."
Nahza terdiam menunggu lanjutan ucapan Fisya. Bahkan ia sampai tidak mau menarik kembali ingusnya yang hampir keluar. Membuat hidungnya yang tadinya sudah sedikit bersih, kini kembali terluber oleh ingusnya.
"Gue mau pindah ke Jerman."
Nahza tak bisa berkata-kata lagi. Apakah sahabatnya itu bercanda?
"Kamu bohong yang Sya? Bercanda kamu gak lucu tau!"
"Gue gak lagi bercanda Nahza queena amaura, gue serius! Gue juga ikut Mama gue tinggal di Jerman sama Papa,"
Terdengar gadis di seberang sana tengah menahan tangis. Bahkan suaranya saja sudah serak.
Nahza melempar handphonenya ke sofa kamarnya. Merubah posisi duduknya menjadi tengkurap dengan kepala berada di atas bantal. Lalu melanjutkan acara menangisnya hingga tanpa sadar ia terlelap dengan mata sembab.
★To be continue★
Gimana? Kalo kalian jadi Nahza, bakal sedih juga ga?
Pesan buat Nahza?
Spam AN 💝
YOU ARE READING
Alganahza
Teen Fiction🚫 FOLLOW SEBELUM MEMBACA!!🚫 🚫 DILARANG KERAS PLAGIAT CERITA SAYA!🚫 Alga Rahzyfal Zio. Lelaki berparas tampan dan nakal. Bukan hanya tampan, tetapi juga pintar dan kaya adalah kelebihannya. Meski terkenal berandal dan bolak-balik masuk ruang BK...
