USAHAKAN FOLLOW SEBELUM BACA!
"Dy. Gue orang yang enggak pernah bahagia dan di saat mencintai lo buat gue bahagia. Apa lo tega buat nyuruh gue ngelupain lo?" -Luna Ayulia
"Gue ngak suka sama lo tapi itu untuk hari ini! kalau besok gue enggak tau,"...
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
* * * Di hancurkan oleh dunia, dan di bahagia kan oleh air mata.
Luna Ayulia ⚜️
Di pagi buta sekali, terlihat seorang gadis bermata sipit, hidung pesek serta wajah yang sedikit bulat sedang berjalan sendiri di koridor sekolah. Pagi pagi seperti ini ia sudah berada di sekolah, bukan karena ia rajin, namun karena ia males mendengar setiap omelan dari sang mama.
Laila-mama Luna, seorang wanita paruh baya yang keras dan tegas. Tidak ada yang bisa Luna lakukan jika sudah berhadapan dengan Laila. Laila bagai pisau untuk Luna. Luna tidak pernah akrab dengan mamanya itu. Mereka seperti anak tiri dan ibu tiri.
Brakkk
Entah punggung siapa yang sudah Luna tabrak, yang jelas punggung itu sangat lah keras dan... sepertinya itu punggung seorang lelaki. Ah, siapa kira-kira yang tidak sengaja di tabrak olehnya.
"Au so-eh? Lo?" kaget. Luna benar-benar kaget melihat siapa orang yang dia tebrak. Ternyata, dia memang seorang lelaki yang amat Luna kenal. Bahkan lebih dari sekedar kenal.
"Kalau jalan hati-hati," ucap lelaki itu. Ah sungguh memalukan. Luna masih diam, memperhatikan lelaki itu yang perlahan meninggalkan dirinya.
"Yudy!" Luna berteriak, memanggil nama lelaki itu. Lelaki itu pun berhenti dan berbalik untuk melihat Luna.
Yudy, atau yang memiliki nama lengkap Nur Yudy. Lelaki tampan, manis, mata senduh serta alis yang tepal. Perfect satu kata yang mampu Luna dekskripkan tentang lelaki itu. Lelaki yang mampu membuat dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama dam ternyata cinta pada pandangan pertama itu memang ada.
"Kenapa?" tanya Yudy saat dia berhasil membalikkan badannya dan berhadapan langsung dengan Luna. Mata sipit keduanya pun saling bertemu membuat salah satu pemilik mata itu salah tingkah.
"Gu-maksudnya lo ngapain pagi pagi buta udah di sekolah?" ragu? Tentu, tetapi bagaimana lagi? Luna benar-benar penasaran mengapa Yudy berada di sekolah saat jam masih menunjukkan pukul 06:25. Bukankah Yudy salah satu lelaki yang amat jarang tepat waktu? Meski Yudy anak osis. Pemuda itu tetaplah manusia biasa yang memiliki perbedaan.
"Oh itu. Gue ada urusan makanya cepat datang," jawab Yudy. Ternyata lelaki itu memiliki urusan, tapi urusan apa? Luna tidak pernah meninggalkan info sedikitpun tentang pemuda di depannya ini. Pemuda itu adalah pemuda yang amat anti dengan yang namanya sibuk.
Yang selama tiga tahun Luna tangkap dari seorang Yudy adalah Yudy yang tidak pernah mau di ganggu bahkan pemdua itu jarang berinteraksi dengan perempuan. Pemuda itu hanya akan berbicara kepada anak osis sesamanya atau hanya kepada teman sekelasnya.