03. Ketahuan

9 8 0
                                        

Langkah Zetta tak membawanya ke lapangan, tempat para siswa berbaris untuk melakukan kegiatan upacara. Ia justru memasuki kelas lain dan berjalan mendekati seorang gadis yang duduk tegap dengan tatapan kosong.

Zetta menatap sekeliling, hanya sepi yang ia temui. Tak ada pergerakan pun merasa terganggu dengan kedatangan Zetta. Gadis bersurai panjang melangkah dengan pelan hingga akhirnya membuat gadis lain menoleh tanpa menatapnya.

"Siapa?"

Zetta tak menjawab sebelum akhirnya ia memilih duduk dikursi depan gadis itu. Ia membalikkan tubuhnya guna berbicara dengan gadis yang sendirian di kelas.

"Lo nggak ikut upacara?" Zetta menatap manik hitam legam di depannya dan sorot tanpa tujuan itu hanya menatap lurus.

"Aku lupa membawa topi, dan nggak pakai dasi." Gadis itu menjawab dengan tenang. "Supirku bilang dia akan membawakannya, tapi sampai sekarang belum sampai juga."

Zetta mengangguk paham. Tangannya mengambang diudara dan melambaikannya tepat didepan wajah sang gadis mengundang si gadis tersenyum.

"Apa terlihat aneh dengan mataku?"

Gadis berambut panjang berwarna coklat itu menggeleng. Lantas hening beberapa saat membuat gadis di depannya bersuara.

"Apa kamu sudah pergi?" Gadis itu menolehkan kepala ke kanan-kiri berupaya mencari pergerakan seseorang dengan indera pendengarannya.

Zetta bergeming. Ia masih berada tepat dihadapan gadis itu. Bahkan menatap mata hitam legam yang terlihat tidak berfokus pada apapun.

"Gue masih di sini," sahut Zetta.

"Syukurlah." Gadis itu tersenyum, menampilkan gigi gingsulnya.

"Tetaplah di sini, setidaknya sampai upacara berakhir. Aku yakin kelas ini yang paling aman dari incaran para Osis."

Zetta menggeleng lantas melepaskan dasi yang bersembunyi dibalik kerah seragam putihnya. Ia meletakkannya diatas meja dan menarik tangan bertubuh kecil di depannya.

"Pergi dan berbaris di lapangan."

Gadis itu menggeleng menolak pemberian dari Zetta. Ia meraba meja mencari tangan gadis yang memberinya bantuan.

"Kalau kamu ingin ikut upacara, pergilah."

Zetta tak mengindahkan ucapan gadis bergigi gingsul. Ia mengambil dasi yang tergeletak di meja dan melingkarkannya di kerah gadis itu. Tak lupa Zetta juga melepas sesuatu yang melindungi kepala dari terik matahari dan memakaikannya pada gadis yang setingkat dengannya.

"Lebih baik terlambat dari pada bersembunyi dan menerima hukuman." Zetta menepuk bahu gadis bergigi gingsul.

"Mereka akan jauh memahamimu," pungkas Zetta dan pergi meninggalkan kelas itu.

Gadis itu termenung dan memegang topi yang melingkar di depannya lantas tersenyum. Ia menoleh ke kiri, mendengarkan derap langkah Zetta yang mulai menjauh. Lantas meraba sesuatu di laci, setelah mendapatkannya ia bangkit dan mengetuk benda itu hingga berakhir memanjang.

Gadis itu berjalan meninggalkan kelas ditemani tongkat hitam.

***

Selepas barisan dibubarkan dan upacara berakhir, Kinala bersama temannya datang menemui seseorang. Lelaki yang tengah melakukan pemanasan dipinggir lapangan bersama beberapa siswa.

Gadis itu berjalan dengan semangat dan juga membalas beberapa sapaan dari para juniornya. Mengingat Kinala ialah mantan ketua Osis membuatnya sedikit disegani oleh sebagian murid.

"Hai." Kinala menyapa. "Mau basket, ya?" tanya gadis itu basa-basi.

"Ya penglihatan lo aja gimana," sahut laki-laki lain yang tengah memainkan bola membuat Kinala berdesis melirik tajam.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 28, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

KATAZEWhere stories live. Discover now