Halo everyone!
Ini cerita baru aku, aku tantang kalian yang udah mampir kesini untuk baca minimal 3 chapter sebelum mutusin bakal lanjut atau engga.
Ceritanya ngga mungkin mainstream, dan aku harap begitu.
Kalian bisa liat trailernya, karena ceritanya bakal lebih keren, happy reading
Galatia Gea Amanda, lebih akrab disapa Gea, salah satu jajaran siswi paling berprestasi di SMA 1 Mandala yang kini duduk dibangku kelas 11 MIPA 2. Gadis itu meraih 5 piala nasional bidang fisika dan satu medali dengan gelar juara 2 atlet renang wanita terbaik dalam tingkat nasional.
Gea dipandang dengan penuh puja, tiap langkah gadis itu selalu bisa menyita perhatian sekitarnya. Seperti sekarang, saat ia baru saja memasuki kantin bersama dengan sang kekasih.
Sarga Aditya Erwangga.
"Kamu mau pesan apa? Aku yang pesenin," Sarga mencari tempat duduk terlebih dahulu untuk Gea. Gadis itu mengekor, terlihat menurut dan tidak banyak tingkah.
Setelah mendapatkan bangku kosong, Sarga menyuruh Gea untuk duduk.
"Aku mau batagor." ujar Gea. Sarga mengangguk singkat. Sebelum berlenggang pergi kearah kedai makan yang dimau oleh gadis itu.
Sarga kembali dengan nampan yang berisi dua piring batagor di dalamnya. Gea tersenyum jenaka. "Kenapa harus pake nampan sih? Tangan kamu kan juga dua, jadi keliatan kaya mas mas tukang warteg tahu ngga kalo gitu,"tutur gadis itu diselingi kekehan.
Sarga menaikkan satu alisnya. "Susah tahu bawanya, ada mangkuk sambelnya juga nih." Pemuda itu menyodorkan nampan yang dibawanya. Gea mengangguk singkat sebagai balasan tak ingin memperpanjang.
"Iya deh, ngga kaya mas-mas warteg. Anak sultan mana bisa dibandingin," ujarnya, mengalah.
Sarga menatap puas. "Anak tunggal keluarga Erwangga ini!"sahut pemuda itu dengan bangga.
"Sombong!"
Sarga tertawa pelan.
Tangan pemuda itu terulur merapihkan rambut gadis didepannya, menyelipkan sejumput helaian rambut dengan lembut. "Tapi kamu sayangkan gini gini juga," Senyum lebar milik Sarga memang tidak ada tandingannya.
Gea mengakat bahunya. "Iya." jawab gadis itu singkat.
Sarga merenggut. "Kaya gak ikhlas gitu bilangnya, sayang ngga nih sama aku?"
"Alay deh kamu, udah ah." Gea segera menyuap satu sendok batagor kedalam mulutnya.
"Bilang sayang dulu dong," pinta Sarga, segera mendapat penolakan dengan satu gelengan tegas dari Gea.
"Aku marah nih ..." Gea terlihat tak peduli.
"Aku beneran marah nih ..." ucap Sarga sekali lagi, terdengar lebih serius namun masih tidak juga mendapatkan respon yang ia inginkan.
"Aku cari cewe lain nih ..."
Gea segera menoleh, alis gadis itu terangkat satu. "Emang ada yang mau sama kamu selain aku?" ujar gadis itu, terdengar tidak manusiawi ditelinga Sarga.
Sarga memilih menyuap makanannya, kesal dengan Gea yang selalu begitu. Ia kadang mempertanyakan apa gadis yang sekarang menjadi kekasihnya itu betulan mencintainya terlepas dari mereka sepasang sahabat dekat dulunya.
Terlalu terburu-buru saat makan Sarga terbatuk, tersedak makanannya. Gea berdiri mengusap punggung pemuda itu dengan sigap. "Pelan-pelan dong makanannya, kalo mati gimana?"
Itu jelas candaan, tapi waktunya benar-benar tidak tepat.
Sarga menepis tangan Gea kesal. Gadis itu terkekeh, sudah biasa dengan Sarga yang mudah merajuk. Gea membeli dua botol air mineral dari warung terdekat dan memberikan satu pada Sarga.
"Jahat banget sih kamu Ge," ucap Sarga.
Gea mengerijapkan matanya pelan. "Jahat dari mananya? Udah dikasih minum juga, dasar gak tahu terima kasih. Kamu hutang 3000 ya, aku gak ikhlas beli minimum buat kamu."
Sarga menutup mulutnya dengan tangan, terlihat tak percaya. "Dasar pacar perhitungan, huh, untuk sayang."gumam Sarga pelan.
Gea mengambil alih piring batagor milik Sarga, menariknya begitu saja membuat Sarga menatap cemberut. Sudah overthinking duluan, makanannya akan diembat.
"Mau disuapi?" tawar Gea, terdengar manis.
Sarga terbatuk, segera menyengir lebar sebelum mengangguk antusias. Gea menyendok batagor dipiring, tangannya sudah terangkat dan Sarga juga sudah membuka mulutnya.
Hap
Suapan itu masuk kedalam mulut Gea.
"Tapi bohong." Gea tertawa, Sarga sendiri menghela nafas lelah. Tapi setelah itu Gea segera menyodorkan satu suapan pasti untuk Sarga. Pemuda itu menerimanya setengah hati lantaran sudah terlanjur kesal.
Gea mengingat sesuatu ia segera menghadap Sarga dengan serius. "Paket dari aku udah sampe ke rumah kamu? Aku belanja online."tanyanya.
Sarga yang masih mengunyah tampak berfikir sejenak. Matanya melebar. "Kamu yang ngirim kondom kerumah?!"
Gea segera menutup mulut Sarga. "Ngga usah teriak!" ujarnya tak kalah kencang dari Sarga barusan.
Sarga bergumam lalu mendelik tajam. "Kamu juga teriak ya!"
"Jadi kamu mau main teriak teriakan?!" ucap Gea, dengan datar. Nyali Sarga seketika menciut pemuda itu mengacungkan dua jari pertanda damai. Mengalah.
"Kenapa kamu ngirim yang kaya gitu?" tanya Sarga.
Gea mengakat bahunya. "Katanya yang kaya gitu wangi buah, aku jadi penasaran,"jawab Gea dengan santai.
"Udah kamu coba belum Gar?"tanya Gea polos.
Sarga melotot garang, Gea pikir untuk apa benda seperti itu.
Tak
Dahi Gea disentil dengan keras, gadis itu meringis mengusap dahinya.
"Pikiran kamu itu, sejak kapan jadi kotor begitu! Istigfar kamu!" Sarga mengguncang tubuh Gea, berusaha menyadarkan gadis itu atas rasa penasaran yang kelewat ngawur.
Gea menyentak tangan Sarga yang mengguncang tubuhnya. "Becanda! Ih, kamu pikir aku cewe apaan," tuturnya.
"Terus itu buat apa?" tanya Sarga yang sebenarnya sudah hampir frustasi.
"Buat kucing dirumah kamu lah, si Bilo, dia kan hamil mulu. Jadi atas itikad yang baik aku beliin itu deh, meringankan beban kamu sebagai majikan kan?" ucap Gea dengan bangga.
Sarga menghela nafas frustasi. "Takut aku kalo kamu udah gini." ujarnya.
"Takut kenapa?"
"Takut ketularan gilanya."sahut Sarga segera ngacir, pergi menyelamatkan diri dari sana, meninggalkan Gea yang masih melongo.
"Sialan." gerutu Gea, mendengus kesal.
***
See you next chapter guys 💙
YOU ARE READING
GALATIA
Teen FictionGalatia Gea Amanda gadis yang selalu memberi 1000% dalam hal apapun. Gadis ambisius yang serba ingin sempurna, dianugerahi paras yang cantik membuat dirinya tidak segan untuk mengangkat dagu penuh arogan. Tapi Gea pantas melakukan itu. Dia gadis mul...
