PROLOG

25 4 0
                                        

Welcome to my first story-!

Aku minta maaf kalo ada beberapa kata yang kurang pas dipendapat kalian, cause ini cerita pertama aku dan aku harap kalian maklumin hehehe.

Aku menerima kritik dan saran, tapi tidak dengan hujatan. Be smart ya guys milih kosa katanya, biar kita sama-sama nyaman 😻

Happy reading and enjoy-!!!

↓↓↓↓↓

"Sangat menyedihkan." Suara berat dan husky itu secara langsung menghentikan tangis Aretha yang tengah terisak hebat.

Dengan wajah berlumuran air mata ia mendongak perlahan, lalu menatap ke depan. Disana, seorang pria yang tak jauh dari posisinya duduk terlihat sedang berdiri dengan posisi membelakanginya.

Siapa?

Aretha sungguh tak mengenalinya, melihatnya sekali pun tidak pernah. Lantas siapa?

Karena rasa penasarannya lebih mendominasinya sekarang, Aretha bangkit tanpa menghiraukan pakaiannya telah kotor ternodai debu yang berasal dari lantai.

Pampilannya cukup kacau. Tidak, sangat kacau. Wajahnya yang basah dan kotor terkena debu, beberapa anak rambut lepas dari kuncirannya, mata bulatnya memerah serta air mata yang masih menggenang dipelupuknya. Tapi tetap tidak melunturkan paras cantiknya.

"Pardon?"

Seperti adegan slow motion, Pria berjas hitam itu berbalik menambah rasa penasaran gadis remaja dibelakangnya.

Mata bulatnya meneliti penampilan sosok didepannya. Nampak asing dan jauh dari kata kenal.

Muda, rupawan, dan sedikit menyeramkan? Tidak, maksudnya ia merasakan aura bahaya setelah menatapnya dari segi fisik. Sekiranya itulah first impressionnya terhadap pria tersebut.

"Berjam-jam disini, yang lo lakuin cuma nangis?"

Wait....what?

Oke, tebakannya meleset. Aretha kira pria di depannya ini akan berbicara formal padanya. Melihat dari segala sisi, dari bentuk wajahnya yang kaku, setelan formal, dan gestur tubuh seolah mengatakan dia pria karir bukan pelajar. Setelah dilihat pun sepertinya pria ini lebih dewasa, mungkin seumuran dengan kakaknya.

Dan apa tadi? Dia...stalker? Bagaimana dia tahu jika dirinya sudah menangis berjam-jam disini?

Segera saja Aretha menciptakan jarak, menatap was-was pria didepannya. Feelingnya mengatakan bahwa ia bukan orang sembarangan!

"Lo....penguntit?" Matanya menangkap kejanggalan pria misterius itu.

Hening beberapa detik, gadis remaja itu makin waspada.

Melihat tingkahnya, pria misterius tersebut terkekeh geli merasa tindakan gadis itu menghibur selera humornya.

Tapi itu tak berlangsung lama, tatapannya kembali datar "Can i ask something?" Hah?

"Sure." Tanda tanya itu semakin besar, apakah pria itu mengenal dirinya?

"Seandainya lo tau pembunuh kakak lo, dan orang itu ada didepan mata lo sendiri, apa yang bakal lo lakuin?" Kedua tangannya ia masukan pada saku celananya, retinanya menghunus tepat mengunci pandangan Aretha.

Seketika gadis remaja yang tadi menatapnya ragu-ragu, sorot matanya berubah dalam hitungan detik. Terpancar kobaran dendam dan hasrat yang begitu besar, namun tak bisa ia lampiaskan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 20, 2022 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ARETHAStories to obsess over. Discover now