Aku tidak tahu bagaimana takdir akan bekerja nantinya, entah melangkah mendekat ke arahmu atau jusrtu melangkah jauh darimu. Tapi satu hal yang akan ku jadikan pegangan, pada segala rasa serta asa, aku bermunajat, mengalah lalu berserah.
Dari yang t...
Aku tidak pernah menyangka bahwa pepatah yang mengatakan usaha tidak pernah menghianati hasil tidak selalu benar adanya, atau mungkin hal itu hanya terjadi kepadaku? Buktinya, usaha yang ku lakukan sudah hampir sempurna ternyata berakhir dengan cuma-cuma, perguruan tinggi negeri yang aku idam-idamkan tidak berhasil berada di genggaman. Sebagai manusia, nampaknya aku melupakan satu hal tentang sebuah takdir yang bertitah bahwa, sekeras apapun usahanya, jika Tuhan tidak berkehendak maka tidak akan pernah di kabulkan, tidak akan pernah.
Kegagalan dalam meraih salah satu impianku untuk memasuki perguruan tinggi negeri menyebabkanku mengalami keputusasaan mendalam. Harapan-harapan yang kususun telah runtuh sebelum terbentuk, bahkan telah hancur di permulaan, menjadi kesedihan terhebatku dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Rasanya aku ingin menyerah untuk kembali meneruskan hidup, bahkan hanya sekedar untuk bertahan. Ya, salah satu tugas manusia memang bertahan, bertahan dari segala macam takdir. Prinsip yang selalu ku pegang itu, untuk pertama kalinya tidak berhasil ku terapkan.
Dan kamu tahu ... ? Kamu adalah salah satu mimpiku yang membuatku takut untuk memperjuangkanmu dengan keras, aku takut kegagalan terberat yang pernah ku alami akan menghampiriku lagi, kekecewaan dan bagaimana begitu berantakan serta kacaunya aku saat itu menjadi momok yang menakutkan, yang tidak mau untuk ku ulang.
Aku tidak pernah menyangka, bahkan ketika bertahun-tahun lamanya, perasaan ini tetap ada, aku kira jarak yang terbentang di antara kita akan menjauhkan perasaan ini darimu, tapi ternyata tidak, perasaan ini tetap utuh, sampai aku merasa justru dengan adanya jarak membuat rasa ini semakin besar, dan ketika cinta semakin ku tolak, ia semakin menang telak.
Aku pengagummu yang tidak pernah memiliki keberanian untuk memilikimu kecuali dalam mimpi yang tak sengaja hadir mengusik tidurku, aku tidak pernah memiliki kepercayaan diri dalam mecintaimu, bahwa keberanianku hanya sekedar mencintaimu dalam diam, dalam perenungan.
Jadi, jika aku tidak berani menyapamu dalam nyata, maka untuk itu izinkan aku menuliskanmu, menyapamu lebih lama pada lembar demi lembar buku ini.
Aku tidak tahu bagaimana takdir akan bekerja nantinya, entah melangkah mendekat ke arahmu atau jusrtu melangkah jauh darimu. Tapi satu hal yang akan ku jadikan pegangan, pada segala rasa serta asa, aku bermunajat, mengalah lalu berserah.
Dari yang tidak pernah memiliki keberanian untuk sekedar menyapamu, kecuali dalam mimpi dan doa-doa
Seruni Qiana Paramitha
____________________________________
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ada yang sama dengan Seruni ? sukanya nulis latin.
______________________________________
Note : SADRAH, Ditulis sejak Maret 2021, Dipublish pada tanggal 13 Januari 2022