Prolog

71 5 1
                                        

Seorang gadis remaja berdiri di sebuah lorong gelap, penglihatannya tak menangkap secercah cahaya pun. Darah terus mengalir tanpa henti dari lutut dan pergelangan tangannya, sangat perih.

Gadis itu berdiri dengan perasaan takut, dihadapannya ada tiga orang laki-laki bertubuh besar usianya 30 tahunan. Dia terperangkap, tak mampu berlari lagi, tenaganya sudah habis.

Tiga laki-laki itu mengepungnya dari segala penjuru, memblokade semua jalan keluar. Keringat dingin mengucur deras dari pelipis sang gadis, jantungnya berdegup kencang, kakinya gemetar. Entah apa yang akan dirinya alami, begitu menakutkan untuk dibayangkan.

Ketiga laki-laki itu berjalan mendekatinya, membuatnya semakin terperangkap.

"Arghhhh!!"

Teriak sang gadis begitu kuat, namun sayang lorong yang ia lewati adalah jalan menuju hutan, hanya ada rumah-rumah kosong di sebelah kanan dan kirinya. Gadis itu terus menjerit, berusaha melawan sebisa mungkin, menepis setiap tangan yang mencoba menyentuh tubuhnya.

Namun, naas keberuntungan tidak berpihak pada dirinya. Kekuatannya tak mampu mengalahkan 3 pria dewasa dihadapannya, ia kehilangan harga dirinya, kehilangan kehidupannya, kehilangan hal paling berharga dan begitu ia jaga. Kehilangan sesuatu yang ia rencanakan akan berikan pada suaminya, hanya pada suaminya di masa depan.

Gadis itu menangis terisak, dia melipat lututnya dan terus menangis. Ia ketakutan setengah mati, dia tak akan mampu lagi menatap siapapun. Setelah berjam-jam dia menangis diantara keheningan, gadis itu memutuskan untuk pulang. Kembali ke rumah dan  memberanikan diri menghadapi sang ayah.

"Plak"

"Bugh"

"Prang"

"Duk"

Pukulan demi pukulan diterima gadis itu, dia salah, ayahnya tidak membelanya tapi malah menambah sakit hatinya. Nyeri pada luka yang diberikan 3 pria tadi maupun luka fisik dari ayahnya tak lagi ia rasakan. Hatinya lebih terluka dari apapun, hatinya hancur. Tak menyangka sang ayah bisa melakukan ini padanya.

"Ayah bukan salahku yah! Mereka melecehkan diriku! Aku tidak menggoda mereka! Percaya padaku yah!" Kalimat itu selalu diulang-ulang oleh sang gadis, berharap ayahnya percaya sedikit saja padanya.

"Jangan membual!" Bentak sang ayah.

"Hiks"

"Hiks"

"Sret"

Tangisan gadis itu masih belum berhenti, kini ia duduk di taman. Di sebuah kursi panjang berwarna putih tanpa motif. Dia duduk membungkuk, menutup wajahnya dengan tangan.

"Hai."

Gadis itu terkejut karena suara "hai" dan tepukan yang ia rasakan di bahunya. Dia menoleh dan mendapati seorang laki-laki seusianya berdiri dengan bibir terangkat. Gadis itu menegak liurnya, bayangan tentang kejadian kemarin kembali menyerang ingatannya. Tangisannya semakin menjadi.

"Jangan takut, aku akan menjagamu." Ucap laki-laki itu.

•OoO•

Akankah laki-laki tadi akan menyelamatkan sang gadis? Atau malah membuat keadaannya semakin memburuk?

30 days challenge

Tolong!!Where stories live. Discover now