2 Years Later...
Prilly melirik jam dindingnya, pukul 2 dini hari. Tiba-tiba, ia membayangkan satu mangkuk mie ayam super panas, dengan sambal yang banyak - meskipun Prilly tahu, ia dilarang keras untuk makan pedas - dengan sawi hijau yang menutupi permukaan mie ayamnya.
Prilly meneguk ludahnya dengan susah payah. Menahan rasa inginnya yang tiba-tiba muncul begitu saja. Tapi, semakin kuat Prilly menahan, semakin kuat juga rasa inginnya pada mie ayam tersebut.
Ia melirik Ali yang sedang tidur dengan pulas di sebelahnya. Tidak tega membangunkan Ali yang baru pulang dari kantor pukul sebelas malam. Mengingat posisi pentingnya sebagai penerus perusahaan Papa mertuanya yang baru beberapa bulan ini pensiun.
Tidak tahan dengan godaan untuk segera menyantap mie ayam yang diinginkannya, dengan terpaksa Prilly membangunkan Ali.
"Honey..." panggil Prilly sambil mengguncang badan Ali. Ali hanya bergumam, malah memeluk tubuh mungil Prilly.
"Honey bangun..." Prilly bersikukuh untuk tetap membangunkan pria tersebut. Ali mengalah, mengerjapkan kedua matanya yang berat untuk dibuka.
"Hmmm?" Gumam Ali. Prilly menggigit bibir bawahnya, ia menatap Ali gelisah.
"Aku.... mau mie ayam," kata Prilly pelan. Tangannya lebih memilih untuk memlintir baju Ali.
"Iya, nanti siang kita makan mie ayam. Sekarang, tidur aja. Aku ngantuk." Ali kembali memejamkan matanya. Melihat Ali yang kembali tidur, Prilly merengut.
"Maunya sekarang honeeeeyy!"
Ali tersentak, dengan cepat membuka kedua kelopak matanya. Menatap Prilly tidak percaya. "Hah? Apa? Sekarang?" Tanya Ali cepat. Prilly mengangguk sembari menatap Ali dengan puppy eyes nya.
"Astagaaa ini tengah malem, sayang. Mana ada yang jualan mie ayam tengah malem gini. Nanti siang ya? Kamu mau berapa? Semangkuk? Dua mangkuk? Atau se gerobak-gerobaknya aku beli deh! Tapi nanti siang," Ali mencoba untuk membujuk Prilly.
Nihil. Prilly tetap menggeleng. "Gamau. Maunya sekarang! Titik, gapake koma." Tegas Prilly. Membalikkan badannya sehingga memunggungi Ali. Melancarkan aksi ngambeknya.
"Gabaik loh munggungin suami sendiri.." Ali mencoba untuk membujuk Prilly. Biasanya di sindir seperti ini, akan mempengaruhi Prilly.
"Abis, kamu nakal sama aku. Gamau beliin aku mie ayam. Bodo, aku ngambek." Prilly tetap memunggungi Ali.
Ali menghela napas, bertahun-tahun bersama Prilly tidak membuat sikap manja Prilly hilang. Justru semakin bertambah, saat ia mulai sibuk dengan urusan kantornya.
Ali mendekat kearah Prilly, memiringkan badannya dan menyangga bobot tubuhnya dengan siku kanannya sehingga posisinya sekarang sedikit diatas Prilly. Ali menunduk, mencium pundak Prilly yang terekspos itu.
"Iya, aku beliin. Tapi janji, jangan ngambek lagi sama aku?" Ali mengalah. Prilly tersenyum, lalu membalikkan badannya kearah Ali.
"Beneran mau beliin?" Tanya Prilly. Ali mengangguk. "Tapi janji jangan ngambek?"
"Siap, honey! Yuk beli." Setelah mencium bibir suaminya cepat, Prilly menyingkap selimut tebalnya dan berdiri. Diikuti dengan Ali.
Ali mengernyit melihat Prilly yang mengenakan gaun tidurnya yang hanya disangga dengan tali model spaghetti itu.
"What?"
"Kamu mau beli mie ayam pake baju kayak gitu?"
Prilly menunduk memperhatikan pakaiannya. Merona malu saat sadar ia hanya menggunakan gaun tidur yang menggantung di atas lututnya. Prilly meringis. "Hehe enggak."
YOU ARE READING
Between Us
Fanfiction"We're bestfriend, aren't we? We shouldn't more than that." "Why?" "I'm afraid. Afraid that someday, I might be losing you." "Don't be afraid. I got your back, darl." WARNING!!! ✖️cerita pertama aku, the whole story masih super acak-acakan. But...
