Di sudut ruangan itu aku melihatnya sebagai sosok lelaki yang penuh misterius.
Langkahku semakin melambat dengan sorot mataku menatapnya.
Devan, namanya.
Tahun ini adalah tahun terakhir aku menginjakkan kaki di bangku sekolah. Entah apakah aku akan bertemu dia lagi setelah kelulusan, tapi aku berharap bisa lebih dekat lagi dengannya.
"Sher, kamu udah ngerjain PR matematika yang kemarin belum?" suara Cindy mengejutkanku seketika tatapku hilang arah.
"Ciin, udah-udah..mau nyontek?" jawabku sambil mengernyitkan bibir kepadanya. Lalu kusorotkan lagi tatapku kepada Devan, tapi tak kutemui lagi dirinya.
"Tau aja sih sher. Ngapain clingak-clinguk, nyari orang??" jawab Cindy membuatku gugup,
"Enggak, aku mau ke perpustakaan dulu. Ntar kembaliin bukunya, jangan lupa!" kataku dengan tegas terselip senyum tawa di bibir kepada Cindy.
Aku mencari alasan menyendiri untuk bisa leluasa mencari kesempatan mengajak kenalan Devan.
***
Dari depan pintu perpustakaan, aku melihat Devan. Sayangnya aku tidak melihatnya sendirian, melainkan ia sedang asik membaca sambil bercanda gurau dengan seorang wanita.
"Jlebb" kataku lirih dan rasa sesak didada.
Aku memutar arah, kembali menuju kantin menemui Cindy.
YOU ARE READING
DEVAN
Teen FictionKisah Devan yang penuh misterius. Terkadang Devan menjadi sosok lelaki yang sangat peduli. Namun terkadang ia menjadi lelaki yang sangat cuek. Apakah kisah Devan dan aku akan berlanjut setelah masalah besar mengancam hubungan kita? Antara perpisahan...
