Hujan

20 3 0
                                        


Mungkin Tuhan menciptakan hujan agar air mata tidak merasa kesepian
-RKuadrat


Hujan deras membasahi kota Semarang sore itu, seorang gading cantik berdiri di lahan tidak terpakai tanpa memikirkan tubuhnya yang sudah menggigil kedinginan.

"Gue mau mati, gue capek hidup. Kenapa tuhan tega banget kasih takdir ini ke gue, gue mau mati." Lirih Alexsandra. Hujan semakin lebat, Semesta seolah tau apa yang di rasakan gadis itu. Buliran air mata jatuh namun di samarkan oleh derasnya hujan tapi tidak dengan sesak yang berada di dada.

"Gue ngga kuat, buat apa gue hidup kalo di dunia ini ngga ada seorang pun yang mau nerima keberadaan gue, ya tuhan Alexsa udah capek."

Tangis Alexsa pecah, isakan yang ia tahan keluar tanpa perintah.

Ya, hanya di tempat ini Alexsa bisa mengeluarkan semua isi hatinya tanpa perlu memikirkan keadaan. Hanya di tempat ini Alexsa bisa menangis sepuasnya. Setelah merasa cukup tenang Alexsa bergegas pergi dari tempat itu, tidak peduli dengan kondisi dirinya yang berantakan, wajah pucat, mata bengkak , & bajunya yang basah.

¤¤¤
19.00 WIB

"Assalamualaikum,Alexsa pulang."

"Darimana aja kamu, jam segini baru pulang?" Tanya Angela, bunda Alexsa, dengan nada dingin.

"Tadi aku ada kelas tambahan bun." Alibi Alexsa.

"Terus itu kenapa bajunya basah? Kalo kamu sakit siapa juga yang repot?! Kamu itu bisanya ngerepotin doang tau gak?!" Bentak angela.

Bagai di hujani ribuan pedang, sakit. Hati Alexsa sakit mendengar ucapan sang bunda. Bukan sekali dua kali tapi setiap hari hati Alexsa di lukai oleh bundanya itu membuat ia terbiasa dengan keadaan.

"Maaf bun." Hanya 2 kata itu yang mampu di ucapkan Alexsa. Angela lalu melenggang pergi tanpa mengucapkan sepatah kata, ia bahkan sama sekali tidak memperdulikan keadaan putrinya.

"Bunda, aku ini siapa di mata bunda?" Batin Alexsa.

Memilih mengabaikan rasa sakit yang berada di hati Alexsa lalu bergegas berjalan menuju kamarnya.

Setelah sampai di kamar & mengunci pintu Alexsa lalu berjalan menuju balkon menatap langit hitam yang masih di temani rintik hujan, aroma tanah memenuhi indra penciumannya, sekelebat kenangan terputar kembali di otaknya membuat sang empu tersenyum manis.

"Alexsa, jangan lari-lari nanti jatuh." Teriak gadis berumur 7 tahun yang memakai mantel berwarna hijau bergambar angry bird itu.

Bruuukk

"Huaaaaa sakiiit."

"Kan kan kan apa aku bilang udah di kasih tau jangan lari-lari bandel sih, sekarang jatuh kan. Coba liat mana yang sakit?"

"Ini." Tunjuk Alexsa pada lututnya yang sedikit berdarah.

"Kamu tunggu disini dulu ya jangan kemana-mana aku mau beli plaster dulu, oke?"

"Oke."

Gadis itu lalu melenggang pergi untuk membeli plaster di warung terdekat.

Setelah menghabiskan waktu kurang dari 5 menit ia kembali sembari menenteng plaster di tangannya.

"Beli plastelnya kok lama banget sih? Lexsa takut." Ujar Alexsa dengan mata berkaca-kaca.

"Iya maap tadi ngantri dulu jangan nangis ya, siniin lututnya tadi yang berdarah."

"Udah yok sekarang pulang, nanti hujannya makin deres lagi." Lanjut gadis itu setelah memakaikan plaster di lutut Alexsa.

"Ngga mau Lexsa masih mau main hujan-hujannan."

"Nanti kalo kamu sakit gimana? Kamu mau bikin aku sedih?"

"Ngga mau"

"Makannya pulang ya? Bisa jalan ngga?."

"Bisa."

Lalu kedua gadis bermantel itu berjalan menerobos hujan sambil bergandengan tangan.

"Gue kangen lo, lo apa kabar di sana? Tungguin tugas gue selesai ya, setelah itu gue janji gue pasti nyusulin lo." Ucap Alexsa sambil menatap langit malam.

"Lo curang kenapa sih lo itu cepet banget terbang buat jadi bintang, jahat. Lo jahat kenapa lo tinggalin gue, kenapa-" Alexsa menghentikan ucapannya ia benar-benar tak sanggup melanjutkan kata-katanya, dadanya sesak karna berusaha menahan isak, bibir bawahnya ia gigit guna mengalihkan rasa sakit yang ada di dada.

"Kalo mau nangis, nangis aja. Nangis bukan berarti kita itu cengeng tapi bukti kalo kita itu masih punya perasaan yang bisa terluka."

Mengingat ucapan itu air mata Alexsa turun bersamaan dengan derasnya hujan.

Malam itu langit kembali menjatuhkan tetesan cairan bening. Mungkin tuhan menciptakan hujan agar air mata tidak kesepian.

●●●
Diketik: Rabu 11 Agustus 2021.
Dipublikasikan: Kamis 26 Agustus 2021.

Semarang, 00:22 WIB
-RKuadrat

YAMADonde viven las historias. Descúbrelo ahora