Prolog

1K 68 2
                                        

Dikediaman keluarga Abdurrahman, duduklah seorang pemuda dan gadis cantik yang tengah diwawancarai oleh sang ibunda tercinta. Tidak, sepertinya hanya gadisnya saja yang diwawancarai, karena terlihat jelas wajah datar yang ditunjukkan oleh sang pemuda itu.

Sepertinya ada yang salah? Kenapa pemuda itu hanya diam dan memainkan Handphone ditangannya, tanpa peduli sudah berapa kali pertanyaan yang ibundanya lontarkan kepadanya?

"Mau ngapain sih pindah ke Jakarta? Sekolah disini juga udah pada bagus-bagus kok kualitasnya. Nggak kalah jauh malah sama yang ada di Jakarta. Lagian, kalian juga udah kelas 12 loh," Tanya Umminya, yang bernama Zahra untuk kesekian kalinya.

"Ummi... Syifa sama Syafi, cuma kepengen cari suasana baru aja kok disana. Lagian, Cuma sampai lulus SMA doang kita disana," Jelas gadis cantik yang menyebut dirinya Syifa.

"Ummi nggak mau jauh dari anak-anak ummi, Sayang," lirih Ummi yang Membuat Syifa terdiam.

Sebenarnya Syifa tidak tega meninggalkan Umminya tinggal disini seorang diri. Ah, sebenernya tidak sendirian. Ada banyak santri di sini, tapi, bukankah beda suasana jika begitu?

Dia punya adik perempuan yang sangat-sangat keras kepala, tapi dia lebih memilih tinggal bersama Pakdenya di Jakarta, ketimbang bersama Umminya disini.

Tapi, dia juga tidak tega jika Melihat adik laki-lakinya tinggal sendirian di kota yang besar. Apalagi, Ada dendam dihati sang adik yang membuat hati Syifa was-was.

Rasa-rasanya, Syifa ingin mencegah adik laki-lakinya untuk tidak ke Jakarta. Tapi dia tidak bisa!

Entah kenapa, adik laki-lakinya sangat ingin pergi jauh dari pandangan Umminya, dan memilih Jakarta sebagai kota pelariannya.

Hal ini benar-benar membuat Syifa bingung. hanya karena satu permasalahan yang belum tentu itu benar, Kedua adiknya langsung begitu membenci sang Ummi.

Ah, dia sangat pusing memikirkan hal itu!

"Kalau Begitu, Ummi ikut kita aja ke Jakarta!" ujar Syifa enteng.

"Hush, Ngawur! Kalau Ummi ikut kalian, siapa yang bakal jagain pondok, hm?"

Syifa terkekeh mendengar penuturan Umminya. Dirinya lupa jika Umminya, harus menjaga dan mengurus Pondok sebesar ini sendirian.

"Terus gimana dong?" tanya Syifa cemberut.

"Kalian Disini aja ya, temani Ummi," ujar Ummi lagi.

Syifa mengatupkan bibirnya rapat. Dia hanya menatap Ummi dalam diam.

"Udah tua juga, ngapain minta di temani segala. Jangan manja!" kata Syafi ketus.

Syafi mengalihkan pandangannya dari handphone. Dia menatap Umminya dingin. Di matanya, terdapat kebencian yang sangat amat besar, pada sosok yang sedang ia tatap sekarang.

"Lagian, saya juga nggak peduli dengan izin atau tanpa izin dari anda. Karena besok pagi, saya akan tetap pergi dari sini!" Usai mengatakan itu, lelaki berbaju coklat itu langsung pergi dari hadapan Umminya.

Ummi terdiam melihat anak laki-laki satu-satunya yang berlalu dari hadapannya.

Sejak Sepuluh tahun belakangan ini, Anak lelakinya berubah. Dia berubah menjadi sosok yang seolah-olah membenci dirinya.

Bukan seolah-olah lagi, tapi memang seperti itu keadaannya. Dari cara dia menatap dan bersikap kepadanya saja, Zahra bisa tahu itu.

Bahkan yang lebih menyakitkan lagi, Syafi tidak lagi memanggil dirinya 'Ummi'.

Ya, mungkin ini memang salahnya. Semua masalah yang mereka dapat, titik permasalahannya ada apa dirinya.

"Ummi, Ummi maafin Syafi, ya. Mungkin Syafi kecapean, jadi bicara seperti itu," Syifa berkata demikian karena tak enak hati dengan perlakuan adik kembarnya itu.

Syifa terlalu menyayangi keduanya, hingga dia bingung harus memihak pada siapa.

Ummi tersenyum manis sambil mengelus kepala anak sulungnya. "Udah nggak papa. Udah sana ke kamar, Kamu packing aja, biar besok Ummi yang antar kalian ke Jakarta."

"Ummi beneran mengizinkan Syifa dan Syafi buat sekolah di Jakarta?" tanya Syifa girang.

Ummi mengangguk, "Kalau Ummi enggak mengizinkan, adik mu itu juga bakalan pergi, 'kan?"

Syifa tersenyum Canggung mendengarnya.

"Nantinya, Syifa harus jaga Syafi ya, disana? Awasi dia dan rawat dia dengan baik. Meskipun Syafi lebih tinggi dan lebih kuat dari Syifa, tapi Syafi adek kamu. Adek yang sudah seperlunya kamu sayangi dan kamu jaga. Oke cantik?"

Syifa mengangguk cepat, "Tanpa Ummi beritahu, Syifa sudah menanamkan itu dari dulu."

Ummi tersenyum senang. Diantara ketiga anaknya, hanya Syifa yang paling mengerti dirinya.

"Udah sana ke kamar, nanti kemalaman Packing nya!"

"Siap komandan! Kalau begitu, Syifa ke kamar dulu. Assalamualaikum,"

"Wa'alaikumsalam."

Setelah kepergian anak sulungnya, Zahra langsung memudarkan senyumnya. Senyum palsu yang selalu ia tunjukkan untuk menutupi segala luka dihatinya.

Senyum palsu yang menjadi alasan dirinya terlihat bahagia dan baik-baik saja.

"Sampai kapan kalian akan membenci Ummi?" Lirihnya.


TBC

Hallo Semua.....
Ada Yang kangen Sama Zahra dan kawan-kawan nggak?

Kalau ada, Aku bawa squel-nya Guz & Ning jatuh cinta, loh....

Yuk pantengin terus, dan lihat sosok anak-anak Yusuf dan Zahra yang pada ganteng dan Cantik itu.

Buat kalian yang baca cerita ini, tapi belum baca cerita Guz & Ning jatuh cinta, diharapkan baca terlebih dahulu ya~
Soalnya Cerita ini masih ada sangkut-pautnya sama cerita itu.

Tapi kalau nggak mau ya nggak papa, nanti aku juga bakal jelasin lagi kok di cerita ini.

Oh iya, Kalian tau cerita ini dari mana? Komen dong bawah!

Eh, ada yang udah nonton trailer cerita ini belum? Kalau ada yang belum nonton, ayok nonton dulu!

Kalian bisa nonton di

Ig : Ciaya_6
Atau di YouTube yang aku share di atas ya~

Aku mau upload di tiktok, tapi udah 3 kali di bisukan terus. Jadi aku upload di yt sama Ig.

Ditunggu Like & komennya cintaaaa~

Next?

Twins SyiSyaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora