"Kamu." Danisha menunjuk Satria yang berdiri dengan raut keruhnya. "Statusmu sebagai seorang kakak, tapi apa pernah kamu memposisikan dirimu sebagaimana mestinya... seorang kakak kepada adiknya? Alih-alih menjaganya kamu malah mendorongnya sampai terjatuh. Tidakkah kamu ini pecundang?"
Satria terdiam dengan raut wajah kian keruh dan tangan terkepal. Mulutnya kaku untuk membalas ucapan Danisha.

"Kamu." Anggap dia tak sopan karna sudah menunjuk perempuan yang lebih tua darinya itu. "Apa Ma--ah." Danisha bahkan tak sanggup menyebut wanita itu Mama setelah  kalimat tak layak yang dilontarkannya  tadi.

Danisha menunduk sedikit, menghela nafas berat karena berada pada posisi Gladis nyatanya semenyesakkan ini. Bayangkan seorang gadis kecil, penuh kenaifan, mengiba kasih sayang dengan kedua tangan kecil dan tatapan polosnya, tapi malah dihadiahi hinaan dan cacian. Lantas untuk mendapat pengakuan sebagai seorang putri dia relakan harga dirinya menjadi boneka murahan dengan terus menempeli putra tunggal keluarga sultan. Bahkan di usia semuda ini dia harus rela melilitkan diri dengan ikatan pertunangan dan dalam pemikiran bahwa hidupnya akan menemui bahagia karena mempersembahkan cinta pada tunangannya. Namun itu semua hanyalah ilusi belaka, karena nyatanya gadis itu hanya bermain dengan dirinya sendiri diatas pecahan kaca yang tiap kali dipijakinya mengeluarkan luka. Yang kembali diyakini olehnya sebagai tanda kasih. Terus seperti itu, si gadis malang yang terjebak dalam ilusi bodohnya. Dan tidak ada satupun yang berusaha mengingatkannya. Bahkan keluarga nya, yanga malah terus mendorongnya.

Terjebak beberapa saat dalam kelambu pikirannya, Danisha tersentak menuju kesadaran.
Tatapan matanya kembali menajam menyorot Prita dan Hartono.

"Kalian mengaku sebagai orangtua ku, Mama dan Papaku. Tapi apa pernah kalian sekali saja benar-benar menempatkan diri kalian diposisi itu, tampa bersandiwara didepan orang lain? Apa pernah kalian dengan tulus menjadi Mama dan Papa untuk putri kalian? Apa pernah kalian sadar akan tanggung jawab dan kewajiban menjadi orang tua bagi putri kalian?" Lirih Danisha meratapi nasib Gladis yang diperlakukan bak boneka oleh keluarganya sendiri.

"Kamu nggak pantas untuk mempertanyakan itu!" Sentak Prita.

"Lantas apa yang pantas? Kalian yang sebagai orangtua tapi malah memperlakukan anak kalian dengan hina?" Remeh Danisha.

"Jaga bicara kamu!!"

"Prita!!" Hartono menahan tangan Prita yang hendak mendarat di pipi Danisha.

"Lepas! Biarin aku kasih pelajaran sama anak ini."

"Anak ini anak mu! Tapi kamu perlakukan seperti budak hina." Danisha menunjuk dadanya yang kini kian pengap dan sesak. Emosi Danisha dan Gladis agaknya berbaur jadi satu, Danishaka bahkan kembali menuding Prita yang keadaan wajahnya tak jauh beda dari Danisha, penuh amarah. "Sekarang biar aku tanya, ibu macam apa kamu ini?"

"Dasar anak kurang ajar! Berani sekali kamu bicara seperti itu padaku. Mana hormat mu sebagai seorang anak!" Prita berteriak keras.

"Lantas mana hati kalian sebagai orangtua?"

***

Tok! Tok! Tok!

"Non, Permisi..."

Suara Bik Ris terdengar dari balik pintu. Danisha mengerutkan keningnya. Dia sangat tidak ingin diganggu, dia perlu menstabilkan dirinya setelah kelepasan diliputi emosi tadi malam. Yah, Danisha sadar bahwa emosi Gladis terlalu mempengaruhinya malam itu.

The Plot TwistWhere stories live. Discover now