Empat cewek, satu rumah, segudang drama kampus, dan segelas teh manis tiap sore. Di tengah kehidupan anak rantau di Jogja, Naura, Ayara, Dhira, dan Qiana cuma pengen hidup tenang. Tapi kedamaian itu bubar jalan begitu mereka terlibat-secara gak seng...
Jalanan masih basah, udara masih lengket, dan di ujung gang kecil yang cuma bisa dilewatin motor, empat perempuan dengan keringat di dahi dan kardus di tangan akhirnya berhenti juga.
Rumah itu nggak besar, tapi punya halaman kecil dengan pagar putih kusam dan tembok yang katanya dulu putih—sekarang lebih mirip abu-abu patah hati. Tapi di balik kusam itu, ada empat kamar yang cukup buat mimpi mereka hidup bareng di tanah rantau.
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Mereka menyebut rumah itu, Kapas Putih.
Nama yang dikasih Ayara, katanya karena “aura rumah ini lembut, bersih, dan bakal nyerap semua rahasia kita.”
“Serius, Ay,” Naura mengangkat alis. “Gue gak ngerti elu kadang. Rumah retak-retak gini dibilang aura lembut.”
Di belakang mereka, Qiana nenteng dua tas ransel besar dan... pot bunga.
Bukan satu. Lima.
“Qian,” Dhira berdecak. “Lu tuh mau kuliah, bukan buka taman safari.”
“Taneman butuh adaptasi juga, Dhir. Kasian mereka kaget tempat baru.”
Naura langsung buka pintu dapur, naruh termos dan belanjaan. “Kalau tanaman lu mati duluan, kita gak usah manggil dukun. Panggil Ayara aja, biar dikirain kerasukan.”
“Lucu banget, Naura. Gue ketawa dalam batin,” Ayara mendelik.
Kamar sudah dibagi. Perdebatan sempat terjadi, terutama saat Naura ribut karena kamarnya deket kamar mandi, sementara Dhira nyolot karena kamar paling pojok kayak tempat karantina.
Tapi pada akhirnya mereka selesai juga. Pas matahari mulai miring dan langit warna oranye keemasan, keempatnya duduk melingkar di ruang tengah. Lantai belum dialasin karpet, bantal masih berantakan, tapi teh panas dan gorengan udah ada di tengah.
“Ini namanya pengesahan,” kata Naura, nyeruput teh. “Hari pertama di rumah baru, dengan teh manis dan gorengan abang-abang, artinya hidup resmi dimulai.”
“Plus,” Ayara menambahkan, “dengan ritual wajib: spill the tea.”
“Tea apaan,” gerutu Dhira. “Baru juga pindahan, gosip dari mana.”
Ayara mendongak dramatis. “Gosip itu gak perlu dicari, Dhir. Dia datang sendiri.”
Qiana mengangkat tangan pelan, "ada gosip apa emangnya?”
Naura nyengir. “Katanya di kampus kita, ada satu geng cowok yang terkenal banget. Gak jelas siapa aja isinya, tapi semua cewek nyebut mereka ‘The Tens’.”
Dhira langsung ngelirik skeptis. “The what?”
“The Tens. Katanya jumlahnya sepuluh, tapi bukan soal jumlah. Maksudnya kayak—kalo skala ganteng 1 sampai 10, mereka semua level sepuluh.”