Lantunan lagu Hindia "Secukupnya" menggema di restoran rooftop tersebut. Mereka sedang menikmati sisa-sisa waktu pesta ulang tahun seorang laki-laki bernama Muhammad Adam Putra Alamsjah atau Adam. Di meja itu tersisa enam orang termasuk dia sendiri. Entah apa yang membuat Adam tidak ingin pulang padahal waktu sudah menujukkan pukul 9 malam.
Di depannya terdapat perempuan muda berdarah Minang dan Arab, umur 24 tahun yang berpoleskan make up sederhana di wajahnya dengan rambut digerai yang tak lain dan tak bukan merupakan pacar Adam, yaitu Masaidah Tan Malaka atau Mai. Di sampingnya terdapat perempuan bernama Dewi yang merupakan pacar dari sahabat karib Adam, yaitu Esok yang duduk berada di samping Adam, dan dua laki-laki disamping Esok—yang juga merupakan sahabat karibnya Adam—Buana dan Luky.
Mereka mengobrol tanpa henti, bahas apapun yang bisa dibahas. Walaupun para perempuan sedikit bicara karena tidak terlalu akrab, mereka tetap mengobrol, lebih sering menimpali daripada mengawali pembicaraan.
Jam menunjukkan pukul setengah 10 malam, sudah setengah jam setelah waktu pesta ulang tahun itu berakhir, yaitu pukul 9 malam. Mereka tetap disitu dan tak beranjak, mungkin mereka sedang menghormati laki-laki yang sedang berulang tahun, karena dia daritadi tidak beranjak dari duduknya walapun untuk sekedar buang air kecil di kamar mandi.
Mai bingung kenapa Adam tidak mengajak dia dan teman-temannya pulang, sehingga dia bertanya kepada pacarnya, "Mas, Mas Adam," panggilnya, yang dijawab dengan anggukan, "Iya, Non?" Mai bertanya seraya menunjukkan jam di handphone-nya yang menunjukkan pukul 22.48, "Udah lewat jam 9 nih, Mas, kenapa gak pulang?" Adam menjawabnya, "Mas belom pengen pulang-" potongnya kemudian menoleh kepada teman-temannya, "Kalo kalian pengen pulang, pulang aja dah gih," suruhnya, tapi teman-temannya menggeleng dan Luky membalas, "Lu pulang, kami pulang deh."
"Mas nunggu seseorang, ya?" tanya Mai lagi. Adam tertawa renyah dan mengangguk, "Iya, kamu pasti tau Mas nunggu siapa, Non-" Mai memotongnya dengan jawaban, "Ah, Rara, bestie aku, kan? Adik kesayanganmu, kan?" dia tertawa kecil membuat Adam tertawa kecil juga. "Mungkin Rara gak dateng lagi kek pas birthday party Mas yang ke-20 deh," sambung Adam diikuti tawa renyahnya kembali.
Mai melihat itu hanya bisa tersenyum, namun hatinya sedih dan merapalkan doa agar sahabatnya datang setidaknya sekali saja untuk menghargai pacarnya yang sedang menunggunya. Adam berhenti mengobrol dengan Esok setelah melihat raut wajah gusar pacarnya, "Udah, Non, gausa dipikirin, dia gak bakalan da-" ucapannya dipotong oleh suara perempuan muda berumur 24 tahun yang tampak anggun berjalan mendekati meja itu,
"Gue dateng," potongnya, "Well, happy birthday, my best brother, Mas Adam." Adam melihat itu langsung berdiri, hampir membuat kursinya jatuh, namun beruntung, kursi itu langsung ditangkap oleh Esok. "RARAAAA!!!" dia berteriak dan lari untuk memeluk adik sepupunya yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri. Perempuan yang dipanggil oleh Adam, Rara, merentangkan tangannya. Mereka berpelukan dan berputar-putar seperti dua anak kecil yang duah tak lama bertemu, melepaskan rindu dengan berpelukan.
"Mas... Mas gak nyangka dedek bakal dateng. Mas kira dedek bakal kek birthday party Mas yang dulu-dulu." Rara tertawa kecil dan menyatukan kedua telapak tangannya, "Nyuwun pangapunten ingkang seageng-agengipun." Adam tertawa, kemudian memegang kedua tangan adik sepupunya itu, "Maafnya diterima dengan kado bole gak?" Rara langsung mengasih paper bag bertuliskan YSL (Yves Saint Laurent), membuat mata Adam terbelalak. Dia tak habis pikir Rara akan memberinya barang-barang bermerek seperti YSL. "Gak usah diliat sekarang, besok aja, ye. Pegel nih gue etdah, udah boleh duduk belom, nih?" tanya Rara sambil tertawa kecil yang membuat Adam gemas, dia menarik Rara kepelukannya dan menciumi pucuk kepala adik sepupunya yang terbaluti kerudung pashmina hitam.
YOU ARE READING
Matahari Untukku Selamanya
Teen FictionAda pula matahari dan hari esok yang menanti, namun siapa yang akan perempuan itu pilih, matahari atau hari esok? Bara atau Esok?
