Jatuh cinta sama orang yang udah meninggal?!
.
.
.
Aku jatuh cinta dengannya meskipun aku hanya mengenalnya melalui cerita orang.
Gilang Angkasa.
Sosoknya terdengar sangat perfect, persis seperti cowok idaman semua cewek di dunia.
Tapi sayangnya, T...
Hai! Aku kembali dengan cerita baru🌛 Semoga kalian suka dengan cerita ini ya♡
Maaf kalau mungkin ada kesamaan tokoh, alur, dll dengan cerita lain dan jangan lupa untuk tinggalin jejak vote dan comment.
Atau kalau mau follow aku jugaa bolehh kokk hehe (◕ᴗ◕✿)
WARNING⚠️ Terdapat beberapa kata kasar!
• • •
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Selamat pagi, dan salam sejahtera bagi kita semua."
Suara lelaki yang berat dan serak itu terdengar di segala penjuru sekolah. Keadaan sekolah yang hening membuat atmosfer yang ada di sekolah tersebut terasa berbeda. Para guru dan murid yang berada di dalam kelas pun juga diam, tak ada yang berbicara barang sedikitpun. Paling, hanya suara helaan nafas dari beberapa murid yang dapat terdengar di beberapa kelas, salah satunya adalah di kelas 12 IPS 3.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Kabar duka datang dari teman kita, anak murid kita, Gilang Angkasa, murid 12 IPS 3, yang telah berpulang ke Rahmatullah tadi malam, pukul 8."
Suara lelaki tersebut kini berubah menjadi sendu dan bergetar seolah menahan tangis serta duka yang mendalam. Atmosfer yang ada pun juga terasa ikut menyempit, hingga membuat seluruh penduduk sekolah merasakan sesak di hati mereka, bahkan hingga membuat beberapa tangisan mulai berjatuhan.
"Sebagai ungkapan berbelasungkawa yang sebesar-besarnya kepada Almarhum Gilang, marilah kita sejenak menundukkan kepala untuk mendoakan Almarhum Gilang. Agar amal ibadahnya dapat diterima oleh Allah sehingga Gilang mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah. Serta, keluarga yang ditinggalkan dapat diberikan ketabahan dan keikhlasan. Berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing, berdoa mulai."
Sejenak, selama beberapa menit seluruh penduduk sekolah menundukkan kepalanya untuk membacakan doa yang diperuntukkan kepada Gilang sesuai kepercayaan masing-masing. Beberapa guru yang berada di kelas-kelas pun terlihat menitikkan bulir bening sembari berdoa untuk mengenang salah satu muridnya tersebut.
"Berdoa, selesai."
Pengumuman selanjutnya adalah pengumuman tentang sumbangan atau yang kerap di sebut dengan takziyah yang dapat diberikan kepada anggota OSIS yang akan mendatangi kelas per kelas serta pengumuman tentang melayat ke rumah duka yang mulai dilakukan secara bergilir mulai dari guru hingga nanti para murid yang berkenan untuk melayat diperbolehkan untuk datang ke rumah duka ketika jam pulang sekolah.
Hiks. Hiks.
"Gilang, kasian sekali dia. Masa depannya masih panjang, dia berhak untuk mendapatkan kesempatan untuk mengejar mimpinya."
Keadaan kelas 12 IPS 3 yang tadinya tenang mulai terdengar suara parau dari sosok wali kelas yang sedang duduk di meja guru.
"Meskipun seluruh warga sekolah tau bagaimana kejahilan dari seorang Gilang, tapi kejahilan dan kenangan itulah yang membuat kita semua khususnya para guru menyayangi Gilang."
Jeda sejenak, "Yudha, Aril, Fabio, kalian yang sabar ya. Kalian pasti sangat kehilangan sosok sahabat. Ibu harap, kalian jangan lupakan Gilang ya. Selalu sisipkan nama dia di hati kalian." Dan kemudian, tangis wali kelas 12 IPS 3 pun pecah.
Murid yang tadi ia sebut, Yudha, Aril, dan Fabio, pun hanya diam sembari menunduk lemas. Mereka bertiga baru mendapatkan kabar duka ini ketika sudah berada di sekolah sehingga membuat ketiganya terjebak di sekolah sembari memendam perasaan duka yang mendalam. "Ibu keluar dulu ya, kalian jangan buat gaduh," ucap Ibu Amel, wali kelas 12 IPS 3, sembari melesat keluar kelas dengan isakan tangisnya.
"Cabut yuk," lirih Aril kepada dua temannya yang duduk di sebelah bangkunya.
Fabio mendesah pelan, "Buat apa, Ril? Gilang juga udah dimakamkan. Kita udah nggak bisa ketemu dia."
"Bi, lo jangan gini. Gilang sohib kita. Walaupun kita udah nggak bisa liat jenazahnya, tapi kita masih bisa jenguk rumah baru Gilang. Dia pasti seneng kalau kita main ke rumah barunya," tutur Yudha. Ya, satu-satunya cowok kalem di circle mereka.
"Terserah lah, Bi. Gue mau cabut lewat gerbang biasa. Kalau mau ikut, gue tunggu disana," ucap Aril yang langsung mengangkut tas ransel kosongnya lalu berjalan menuju gerbang yang ia maksud.
"Gue ikut Aril. Lo gimana? Bareng kita apa bareng yang lain?" tanya Yudha sembari berdiri.
Tak menjawab, Fabio ikut berdiri lalu mengambil tas ransel kosongnya dengan kasar sebelum akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari kelas diikuti dengan Yudha yang tampak tenang dan kalem walau hati dan batinnya hancur karena kehilangan sosok sahabat, sohib, teman, bahkan saudara untuknya. Dan ia pun tau jika Fabio pun ikut hancur karena kehilangan Gilang. Hanya saja, ketiganya punya cara yang berbeda untuk mengungkapkan perasaan kehilangannya. Aril yang menampilkan kesedihan dengan sangat kentara, Fabio yang sedari tadi hanya diam dan uring-uringan, serta Yudha yang terlihat baik-baik saja walau sebenarnya ia pun sama hancurnya.
Aril yang melihat Fabio dan Yudha sudah berjalan mendekatinya segera menendang pintu kayu yang merupakan jalan rahasia mereka berempat-dulu, saat masih ada Gilang diantara mereka-untuk membolos sekolah. Setelah ketiganya keluar, Yudha si kalem pun menutup pintu kayu tersebut lalu menguncinya dengan menggunakan rantai setelah tadi Aril menendang pintu tersebut hingga membuat kunci pintu tersebut rusak. Sementara Aril dan Fabio berjalan begitu saja menuju warung langganan mereka untuk mengambil motor masing-masing.
"Nak Yudha, ada apa to? Kok pada emosi banget kayaknya," tanya Mpok Sri dengan takut-takut karena melihat Aril dan Fabio yang memasang wajah datarnya sembari duduk diatas motor mereka dengan kasar.
Yudha tersenyum kecil, "Gilang meninggal, Mpok. Minta doanya ya biar Gilang dapet tempat terbaik di sisi Tuhan."
Mpok Sri terdiam syok dan tak bergeming ditempatnya. Yudha pun kemudian mulai berjalan meninggalkan Mpok Sri yang tengah terkejut itu untuk bergabung dengan kedua temannya. "Jangan ngebut, cukup Gilang aja yang pergi. Lo berdua jangan," ucap Yudha yang didengar oleh Aril dan Fabio.
"Duluan, Bi, Ril. Gue dibelakang," perintah Yudha kepada Fabio. Cowok itu ingin mengawal kedua temannya yang sangat sulit untuk berfikir jernih saat sedang tertimpa masalah, contohnya adalah seperti saat ini. Tak jarang keduanya pun melampiaskan dengan kebut-kebutan di jalan yang dapat membahayakan nyawa mereka. Yudha tak ingin merasakan kehilangan sahabatnya lagi, cukup ia kehilangan Gilang saja.
Sepeninggal ketiga cowok itu, barulah Mpok Sri kembali ke dunia nyata. "Innalilahi wa innailaihi roji'un. Gilang," lirih Mpok Sri
• • •
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
• • •
Dear, Gilang. Bahagia disana ya. I'll miss you♡
—With love, Van.
Note: jangan lupa tinggalkan jejak dan sampai jumpa di part selanjutnya!