Hilangnya Bayangan Dalam Cermin

20 2 0
                                        


Agus membatu ketika melihat bayangannya di dalam cermin di kamarnya hilang. Ia mengusap-usap matanya, yang sembab sehabis menangis karena menonton drama korea Crash Landing On You sepanjang malam. Ia berharap kalau dia hanya sedang berhalusinasi karena air mata masih menggenang di kepalanya. Ternyata, sama saja. Bayangannya tidak juga muncul.

Mungkin aku sudah mati, pikir Agus.

'Mungkin kemarin aku nangis kekencengan, terlalu kenceng sampai akhirnya aku keselek air mataku sendiri, kehabisan napas, lalu mati,' pikirnya lagi.

Agus mendekatkan wajahnya ke cermin. Tiba-tiba ia mundur beberapa langkah, kaget. Selama beberapa detik ia seperti melihat sesuatu di balik cermin. Seperti ada dunia lain di dalam sana. Ia mendekatkan wajahnya lagi ke dalam cermin, kali ini tangannya ikut meraba lapisan kaca.

'AAAAAAAAAAAH!'

Agus tersedot masuk ke dalam cermin.

Kejadiannya begitu cepat. Dalam satu kedipan mata, ia sudah terbangun di dunia lain. Entah di mana. Entah kenapa. Dengan pakaian yang masih sama, matanya masih sembab, tampangnya masih lelah dan bayang-bayang si cantik Yoon Se-Ri masih ada di kepalanya.

Ia terbangun di sebuah taman. Langitnya berwarna jingga, burung-burung berterbangan, matahari mulai terbenam. Semua masih terlihat sama seperti di dunia nyata. Tapi Agus tahu, ini bukan dunianya.

Agus mengawasi sekitar. Ia memperhatikan betul sekelilingnya. Agus seperti tahu taman ini. Taman ini seperti pernah ada di memorinya, tapi ada sesuatu yang menghalangi Agus untuk mengingatnya.

Dari kejauhan, Agus melihat bayangan seorang laki-laki mendekat. Terang lampu kota membuat Agus tidak bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas. Agus segera bersembunyi di balik semak. Ia belum mau berinteraksi dengan makhluk di dunia yang ada di dalam sebuah cermin. Ia takut dimakan hidup-hidup, atau paling tidak, dia hanya ingin menghindari percakapan canggung seperti: 'wah, ini dunia cermin. Semuanya terbalik. Apakah titit anda juga terbalik?'

Laki-laki itu mendekat. Semakin dekat. Wajahnya makin jelas terlihat. Ia kemudian duduk di sebuah bangku panjang. Laki-laki itu seperti sedang menunggu seseorang, raut wajahnya kusut. Agus mengamati dari balik semak. Ia memperhatikaan laki-laki itu dari ujung kaki hingga kepala.

Laki-laki itu mirip sekali dengan... dirinya sendiri! Agus kaget. Tapi masih lebih ganteng aku, batin Agus sambil memegang wajahnya sendiri.

Seketika pertanyaan-pertanyaan muncul di kepalanya; bagaimana dia ada di sini dan di sana secara bersamaan?
Apakah ia telah melakukan time travel?
Apakah laki-laki itu adalah dirinya dalam dunia yang berbeda?
Apakah laki-laki itu adalah kembarannya yang ingin mendominasi dunia?
Apakah laki-laki itu tititnya terbalik?

Bayangan Agus telah hilang dari cermin, menurutnya, hal ini jelas ada sangkut-pautnya. Mungkinkah laki-laki itu adalah bayangannya di dalam cermin? Agus tidak bisa berpikir jernih. Ia masih mengawasi laki-laki itu dari balik semak. Mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengannya.

Setengah jam telah berlalu. Laki-laki itu masih saja terduduk diam di bangku taman. Pikirannya seperti berada jauh di tempat lain. Ia tampak gusar. Sementara itu, Agus masih mengawasi dari balik semak. Ia menahan rasa gatal di hidungnya akibat bergesekan dengan dedaunan semak. Sebentar lagi ia berencana keluar dari persembunyiannya dan menghadapi laki-laki yang mirip dengannya itu.

Namun, tiba-tiba ada yang datang, seorang wanita. Menghampiri laki-laki itu.

'Ck! Udah gatel banget nih hidung,' batin Agus sembari menahan hidungnya yang gatal.

Hilangnya Bayangan Dalam CerminStories to obsess over. Discover now