Bagian 1

4 1 0
                                        

-Zephyrine-
.
.
.
Happy Reading 🤍🌻

Katanya hubungan virtual itu palsu ya? Katanya lagi, hubungan virtual itu sesuatu yang enggak mungkin benar-benar terjadi? Dan katanya lagi, yang namanya virtual itu hanya sebuah kebodohan?!

Namanya Zephyrine Khafa Himavarsa, namun orang lain sering memanggilnya Zepp atau Zephy. Ini adalah tahun ke-17 seorang Zephy tinggal di bumi. Anak dari Ayah Hilman dan juga Mama Zoya. Mempunyai seorang abang yang masih betah menjomblo, padahal dia sudah mapan di usia dini. Zhaki Khafi Hilmivarsa nama abang Zephy. Laki-laki berumur 20 tahun itu adalah seorang dosen disalah satu universitas di bandung.

Kehidupan Zephy sebenarnya tidak ada yang istimewa sama sekali. Hanya saja sedikit bermasalah tentang jalan percintaannya.

"Selamat pagi sodara-sodara sekalian!" Bukan, itu bukan pembukaan sebuah pidato. Itu hanya suara cempreng seorang Zephy yang baru keluar dari kamarnya.

"Ihh kok ga ada yang jawab sapaan adek sih." Kesalnya.

"Ya gimana mau ada yang jawab, orang di rumah ini gak ada siapapun." Khafi berucap begitu saja.

Zephy membuntuti sang abang yang pergi ke arah dapur. "Loh emang Bunda sama Bi Wiwit kemana?"

"Pasar." Jawab Khafi sekenanya.

Dukk

"Aduh." Zephy mengusap-usap keningnya yang menabrak punggung kokoh Khafi. "Bisa gak sih kalo jalan itu jangan suka rem ngedadak. Sakit tau, udah tau badan kayak besi."

"Yeee, siapa suruh ngintilin mulu dari tadi. Kayak orang gak ada kerjaan aja." Badan Khafi itu sangat bagus, dengan tinggi badan 174 cm dan juga mempunyai wajah yang elegan, seperti hidung yang mancung, bola mata keabu-abuan dan juga senyumnya yang begitu manis. Jika lebih didefinisikan lagi, Khafi itu nyaris sempurna. Pokoknya seorang abang Zhaki Khafi Hilmivarsa itu cool. Cocok lah jika dijadikan gandengan ke kondangan.

Kembali lagi pada Zephy. "Bang Khafi kapan punya jodoh?" Pertanyaan yang selalu Zephy lontarkan setiap pagi. "Ck kamu ga ada pertanyaan yang lain gitu selain jodoh abang?"

Khafi duduk di sofa yang terletak di ruang tengah diikuti oleh Zephy yang menenteng radio kecilnya. memang rumah orang tua Khafi memiliki dapur dan ruang tengah yang menyatu,  memudahkan jika salah satu dari mereka ingin mengambil cemilan.

"Ga ada. Lagian nih ya bang, abang itu udah mapan udah pas lah buat gandeng cewe." Ujar Zephy serius dengan radionya.

Radio yang Zephy bawa tidak mengeluarkan suara seperti biasanya, sepertinya kehabisan batre.

Helaan napas panjang yang bisa Khafi lakukan, dia juga pusing jika keluarganya menanyakan pertanyaan yang bahkan dia sendiri tidak tahu jawabannya.

"Gini deh abang mau nanya sama kamu."

"Apaan? Ckk. Susah bangett siii." Khafi terkekeh pelan melihat Zephy begitu khusu dengan radionya.

"Sini abang yang benerin." Dengan kesal Zephy memberikan radionya kepada Khafi. "Lagian kamu ini, apa gunanya HP jika kamu masih betah dengerin radio butut ini."

"Ckckck, abang ini ga tau aja gimana sensasi dengerin suara orang lewat radio."

"Whatever."

Beberapa menit kemudian radio yang dibenarkan oleh Khafi selesai, bertepatan dengan Bunda Zoya dan Bi Wiwit datang membawa banyak sekali barang belanja.

"Assalamu'alaikum, Bunda pulangg."

"Wa'alaikumussalam, Bundaaaa." Zephy bangkit menghampiri Bunda Zoya dengan begitu semangat. "Bunda ke pasar kenapa ga bilang-bilang?"

Vous avez atteint le dernier des chapitres publiés.

⏰ Dernière mise à jour : Jul 12, 2021 ⏰

Ajoutez cette histoire à votre Bibliothèque pour être informé des nouveaux chapitres !

(Semua) Karena VirtualOù les histoires vivent. Découvrez maintenant