1. Dua Rasa

20 3 0
                                        

Dari kejauhan ditepi Pantai Sundak, terlihat sepasang kekasih yang duduk bersandingan sambil menunggu ombak yang berlarian kearahnnya. Bagi kedua orang itu pantai memang tempat yang sangat tepat untuk menghabiskan sisa hari bersama. Langit jingga yang menawan, debur ombak, dan sembribit angin laut yang menenagkan, ketiga hal yang akan selalu berkolaborsai dengan sempurna.

Ibrahim meneloh, didapatinya wajah ayu Serunai tepat di sampingnya.

"Nai kenapa ya aku jatuh citanya sama kamu?" Pertanyaan bodoh yang selalu Ibrahim lontarkan berkali-kali.

Yang ditanya hanya diam, menatap Ibra bingung. Senyum yang semula ia ukir kini terhapus begitu saja dari bibir mungilnya.

"Kenapa ya aku sayangnya sama orang yang suka sama sahabat aku sendiri"

Padahal Ibra tak bermaksud membawa Serunai jauh-jauh kesini hanya untuk bertengkar, tapi Ibra tetaplah Ibra, laki-laki yang tersesat pada ragu yang ia cipta sendiri.

"Ibra,"

Tutur Nai dengan air mata yang sudah siap jatuh. Lagi dan lagi Ibra membicarakan hal yang tak pernah Serunai sukai, selain membuat Nai kesal pertanyaan dan pernyataan Ibra yang semacam itu akan mengingatkan kembali pada luka lamanya.

Mengetahui gadisnya terdiam dengan kepala menunduk, Ibra mengubah posisinya terduduk di depan Nai.

"Maaf"

Mendengar kata maaf yang Ibra lontarkan, Nai semakin terisak. Sakit, itu yang ia rasakan setiap Ibra meragu padanya. Dua tahun yang lalu Ibra sendiri yang datang, meminta pada Nai untuk menerima hadirnya. Tapi hari ini entah sudah keberapa kali Ibra membicarakan hal yang tak akan pernah Nai sukai. Bagi Serunai dua tahun bukanklah waktu yang singkat, dua tahun itu pula Nai tertatih untuk memulai cerita baru, dengan hati yang masih hancur Ia coba untuk mencintai dan membiarkan Ibra masuk kedalam hidupnya. Tidakkah Ibra lihat betapa beratnya perjalanan Nai untuk Ibra selama ini, mati-matian Nai melapangkan hatinya hanya untuk Ibra, dengan suka rela Nai memberikan ruang untuknya. Padahal Ibra tahu itu tak akan mudah bagi gadis yang sekarang sedang menangis di hadapannya.

"Kenapa Ib?"

"Aku udah bilang berapa kali sama kamu. Tiap kamu bilang kayak gitu rasanya sesak, sakit Ib. Buat apa kamu nunggu aku, ngeyakinin aku dulu, kalau ternyata kamu sendiri ngga pernah yakin buat datang ke aku. Tahun ini tahun ketiga kita, menurut kamu itu belum cukup ya?"

Tak ada jawaban dari laki-laki itu. Melihat Serunai menangis membuat hatinya terasa sakit, meskipun Ibra sadar tangis itu adalah sebabnya. Tanpa sepatah kata Ibra merengkuh tubuh Nai, membiarkan gadisnya menumpahkan air mata dalam dekapnya. Tidak ada tawa dan canda sore itu, yang ada hanyalah suara tangis kecewa Serunai dan keraguan Ibrahim yang masih sama . Senja yang perlahan tenggelam pun seperti enggan menyaksikan pilu dua insan yang tengah sama-sama terluka. Nai aku harus bagaimana? Perasaanku terlampau dalam padamu, apa itu salah?

SINGGAHWhere stories live. Discover now