• Prolog •

73 24 12
                                        

~ Titik Terang ~
Oleh : Faiza Isna

“Tidak!”

Suara itu menggelegar. Cempreng namun terdengar tegas. Memekakkan tiap telinga yang mendengarnya. Seketika, dua manusia di depan sana, yang tengah duduk berhadapan di bangku taman memutus kontak mata dan saling melepas tautan jemari. Mereka kompak beralih pandang pada seorang gadis berjilbab instan dipadu gamis rumahan yang tampak meredam emosi melalui sorot matanya. Merasa ditatap, gadis itu segera memalingkan wajah dan langsung berlali. Ia tak memedulikan teriakan seorang lelaki yang berulang-ulang memanggil namanya. Hembusan napas kasar terus beradu mengiringi derap langkah tergesa gadis berkacamata itu.

Setelah sekian menit, ia memutuskan berhenti. Berdiri di tengah jalan beraspal yang tampak sepi. Maklum, kondisi desa ini masih sangat asri. Faktanya, baru pukul delapan malam pun kondisi jalanan mulai berangsur lengang. Dalam situasi ini, desisan suara jangkrik antar pohon mengisi atmosfer hampa yang ada.

Ia mencondongkan kepalanya yang terbalut jilbab pada langit malam tanpa bintang setitik pun. Kedua tangannya mengepal pada sisi tubuhnya. Kini, napasnya perlahan mulai mengalah dan berangsur tenang. Terbitlah bulan sabit tipis pada ujung bibirnya. Sedetik kemudian, setetes bulir air berhasil luruh lewat ekor matanya.

“Allah, hadiah apa lagi ini?” senyumnya nampak sendu.

Benarkah ia ditakdirkan untuk berteman dengan pilu yang tiada henti terus memburu?

“Sakit, ya Allah. Sakit.”

Tangan kanannya meremas erat dada sebelah kiri. Kini air matanya tak mampu terelak. Ia membiarkanya jatuh bertemu tanah bersamaan dengan turunnya titik-titik air dari langit.

“Maafkan Ila ... M-maaf karena Ila selalu mengeluh atas hadiah yang Kau beri,” rintih gadis itu pelan namun terdengar getar dari suaranya.

Beberapa detik kemudian.
Tubuhnya merosot, hampir saja berbenturan pada aspal jika tidak ada sepasang tangan yang mencekalnya. Tubuh itu dibopong seorang lelaki. Dia segera berlari mencari puskesmas terdekat. Kedua netranya lurus menatap jalan tanpa berani menunduk pada gadis dalam bopongannya. Napasnya turut terengah-engah. Dalam hati, lelaki itu merapal istigfar berkali-kali.

Semoga gadis ini baik-baik saja, ya Allah. Batinnya berujar pelan, laki-laki itu meringis.

🌀🌀🌀

Bagaimana prolognya?
Semoga kalian suka 🌹

Syukron wa jazakumullah Khairan sudah berkenan mampir dan membaca kisah ini 🙏

Al-Qur'an tetap bacaan yang utama, yak 💚

#stayhealth#masihdirumahaja

Titik Terang Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora