Gosong

138 3 2
                                        

Di pagi hari yang cerah, dengan embun yang masih menempel pada dedaunan, ditemani kicauan burung yang seakan-akan sedang berlomba.
Berdirilah seorang gadis di depan jendela, sinar matahari pagi menyinari wajah cantiknya.

Dengan senyuman yang manis ia memejamkan matanya, mencoba menikmati sejuknya udara pagi dan segarnya angin sepoi-sepoi yang seakan-akan mengelus lembut rambut indahnya.

"Ah damainya," kata gadis itu pelan. Senyuman manis masih terukur di wajah cantiknya, Dia berharap kedamaian ini akan bertahan lama. Namun terkadang, apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kehendak yang di atas.

Kedamaian yang baru sebentar dirasakan itu, lenyap begitu saja ketika pukulan keras tiba-tiba datang mengenai kepalanya.

Plakk

Suara pukulan yang keras terdengar, melebihi kerasnya batu ginjal.

"Aduh woyy sakittt banget anjirrrtt sialan b*ngsat." Maki si gadis sambil mengusap-usap kepalanya yang mungkin akan muncul benjolan sebesar cinta penulis kepada pembaca.

"Binarrr, berani-beraninya ya kamu ngomong kata-kata kasar sama mama, lagian ngapain berdiri di depan jendela kaya gitu, bukannya mandi, ngerusak pemandangan tau."

Orang yang mengaku-ngaku sebagai Ibu dari gadis itu, dengan tanpa belas kasihan menarik telinga sebelah kiri si gadis, sampai si empunya telinga meronta-ronta tidak karuan karena kesakitan.

"Aduhh emakk maaf kirain siapa, mak sakit maaa, lepasin maaa, kuping Binar entar melar maa, mama mau anak gadis mama nggak cantik lagi huhuhu". Rengek Binar yang masih meronta-ronta tidak karuan.

"Mamaaaa." Suara bass dari luar kama menghentikan kegiatan seorang Ibu yang sedang menjewer telinga anak gadisnya itu.

"Iya Bintang anak mama yang paling ganteng, ada apa nak." Jawab sang Ibu dengan suara lembut, selembut bulu boneka Shaun the sheep.

"Ishh giliran Bintang aja disayang-sayang, dilembut-lembutin, anak mama si Bintang kejora doang apa." Ucap Binar kesal seraya mengelus-elus telinganya yang memerah akibat jeweran sang Ibunda Ratu.

"Binarrr, sama kakak sendiri nggak boleh ngomong kaya gitu, aduhh nurunin siapa kamu sih," omel Anita.

Binar merasa kesal dengan jawaban Ibunya itu, dia menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan menutup dirinya dengan selimut rapat-rapat sambil menggerutu.

Anita hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak gadisnya yang out of the box itu. Nggak bisa basa Enggres. 🙃

Anita melangkahkan kakinya keluar kamar dan menanyakan perihal mengapa anak laki-lakinya yang paling ganteng itu memanggilnya.

"Ada apa nak, kamu lapar, mau makan." ucap Anita dengan penuh kelembutan.

Binar yang mendengar perkataan ibunya yang sangat perhatian terhadap kakak laki-lakinya itu, membuatnya menjadi semakin kesal.

Sebenarnya dia ingin sekali keluar dari selimut karena udara di dalamnya sangat pengap dan panas. Bahkan beberapa tetes keringat telah mengalir di seluruh tubuhnya. Tetapi rasa gengsi mengalahkan itu semua dan dia harus mempertahankan ngambeknya, semangat Binar.

"Kenapa nak, ada apa." Ibunya bertanya sekali lagi.

"Mama nyium bau sesuatu nggak." Jawab Bintang seadanya bagaikan tanpa raga, tanpa jiwa, dan tanpa tenaga lengkap dengan muka bantalnya sambil sesekali menguap.

Anita bingung, dia mencoba menerka-nerka sebenarnya bau apa yang dimaksud oleh anak gantengnya itu. Anita mengendus-ngendus bagaikan pengendus handal mencoba untuk mengenali bau yang dimaksud.

Setelah beberapa tahun mengendus, eh beberapa menit maksudnya sang Ibu akhirnya menyadari bau apa itu.

Anita menjerit histeris bagaikan orang yang kesurupan setelah Ia menyadari bahwa dirinya sedang menggoreng ayam untuk lauk.

"Aaaa aduh Bintang anak mama paling ganteng, ayam mama gosong, kenapa kamu diam aja sih. Minggir-minggir mama mau ke dapur." Anita bergegas pergi menuju ke arah dapur, dia berharap masih ada kesempatan untuk menyelamatkan ayamnya yang tergoreng mengenaskan itu.

Mendengar teriakan sang Ibu tentang gosongnya ayam, Binar langsung bergegas bangkit dari tempat tidurnya dan menuju keluar kamar sambil tertawa terbahak-bahak, dia menertawakan kecerobohan ibunya sendiri pemirsa, benar-benar calon
anak durhaka si Binar.

"Lah gimana sih maa hahahahahaha." Binar terus saja menertawakan kecerobohan ibunya, sedangkan Bintang kakak Binar yang paling ganteng itu, sudah kembali ke kamarnya untuk melanjutkan ritual yang sempat tertunda, yaitu tidur.



Halooo
:)

BinarStories to obsess over. Discover now