Awalan

222 26 22
                                        

Wanita berusia kepala dua itu dengan lihai mulai menggoreskan beberapa warna dengan kuas kesayangannya. Beberapa kali ia melakukan kesalahan dan segera menggantinya dengan warna lain.

Bajunya mulai tercetak dengan bekas cat yang menempel, kuas berjatuhan di lantai dan banyak kertas berserakan membuatnya terlihat berantakan tidak terawat.

Senyuman mengembang dengan manis di wajahnya, anak rambut ia selipkan ke belakang telinga dengan rambut pendek yang ia kunci ekor kuda. Alunan musik terdengar memenuhi ruangan diikuti gumaman senandung wanita itu yang ikut bernyanyi.

"Lebih bagus tambah putih atau kuning, ya?" tanya pada dirinya sendiri. Ia mengusap dagu beberapa kali, bingung menentukan warna agar lukisan yang sedang ia buat menjadi menarik.

Sosok punggung wanita yang terlihat anggun terlihat dari belakang, itulah yang sedang ia lukis. Tetapi, belum selesai lukisan yang ia buat, dirinya menghela napas panjang.

Mencari inspirasi di sekeliling yang berantakan, ia menggaruk bagian kepala yang tidak gatal. Penglihatan terhenti kepada sebuah kamera hitam yang berada di atas meja penyimpanan alat lukisnya. Senyuman menipis kala mengingat sesuatu.

Mata melirik ke arah pigura dan sebuah kartu putih yang bersebelahan di nakas meja. Ia langsung teringat sesuatu yang membuatnya menepuk kedua pipi dengan kencang, membuat cetakan merah di sana.

"Dasar pelupa!" tegasnya pada diri sendiri, ia langsung panik. Menyambar tas selempang juga mengambil beberapa lembar uang yang berada di atas meja.

Tangan mengambil ponsel di bawah lantai yang layarnya mati dengan alasan suara notifikasi ponsel selalu mengganggu fokus melukisnya sehingga ia matikan. Ia keluar ruangan dan menutup pintu dengan kencang.

Tiap langkah kaki dengan cepat menuruni tangga. Keluar rumah setelah mengenakan sepatu putih olahraganya. Wanita itu langsung bergegas keluar, tidak lupa mengunci pintu rumah.

"Aduh, kenapa ponselnya gue matiin tadi?!" Ia merutuk dengan kesal. Kebiasaannya selalu sulit untuk dirubah dari dulu. Jari tangan ia gigit beberapa kali sementara langkah terus berlari dengan cepat.

Ia bahkan melupakan penampilan yang berantakan dan penuh warna dari cat bekas melukis tadi, sehingga menjadi daya tarik dari beberapa orang yang melihatnya di jalan.

"Hah .... Hah .... Gue telat!" Beberapa meter sudah ia lewati, napas terengah-engah dengan tangan yang memegang gagang pintu. Ia memejamkan mata dan menguatkan diri, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

Pintu belum terbuka, ia malah panik kembali melihat pantulan bayangan sendiri di kaca pintu. Dengan segera ia melepaskan ikatan rambut dan membenarkannya. Bajunya ia coba rapihkan walaupun penuh cat warna.

"Ayo! Semangat!" teriaknya kepada diri sendiri, tangannya akan membuka pintu dengan mendorong ke arah luar. Akan tetapi, secara mendadak seseorang keluar dari dalam membuatnya menabrak orang itu saat ingin melewati pintu.

"Aduh, hidung gue," ringisnya mengaduh kesakitan. Tangan mengusap beberapa kali hidung yang berdenyut. Dikarenakan mata terpejam saat menabrak, ia secara reflek meraba orang di depannya.

"Ekhem! Lo ngapain?" tegur orang yang sedang ia raba sekarang. Suara lelaki itu terdengar sangat familiar di telinganya.

Tubuh wanita itu langsung menegang bersamaan dengan mata yang terkejut terbuka, melihat lelaki yang sudah dikenalnya ini. Ia terpaku beberapa saat karena terpana, sedangkan lelaki itu menaikkan alis dengan bingung.

"Gu--gue nggak sengaja." Dengan cepat ia menyingkir sambil menundukkan kepalanya merasa malu. Merutuk dan menggerutu karena terlalu ceroboh serta selalu banyak bertingkah.

Kanvas dan Kamera✓Stories to obsess over. Discover now