25 November 1814

128 13 7
                                        

Julian

Oops! Questa immagine non segue le nostre linee guida sui contenuti. Per continuare la pubblicazione, provare a rimuoverlo o caricare un altro.

Julian

25 November 1814, Buitenzorg, Hindia Belanda

Embun masih menempeli jendela di pagi itu. Hanya bayangan kabur yang terlihat dari sisi seberang. Kabut menggelantungi langit kelabu. di samping jendela, daun pisang bergoyang bersama angin yang menyapu. Dahannya menari bersama lantunan lagu bisu yang dibawa angin musim penghujan. Semua dalam kesunyian. Rumah hening. Yang ada hanya denting jam, enam kali berbunyi. Diselingi suara langkah pembantu yang menggosoki lantai dengan selembar kain putih.

Aku menarik napas, perlahan. Kusendokkan lagi bubuk teh melati yang baru datang dari Puncak, dibawa andong kemarin sore. Kutuangkan air panas kedalam sepasang cangkir keramik dengan burung-burung gereja berterbangan di sisinya. Air panas meluap melintasi bibir cangkir dan memercik sedikit ke jari manisku. Panas menyengat. Seketika kulepaskan genggamanku pada teko dan ia pun jatuh menggeletak di meja. Isinya tumpah, merembesi taplak. Aku diam, hanya melihat sambil mendekap jariku yang memerah. Sementara itu, kekosongan tumbuh mengisi ruang-ruang. Bersamanya tetes demi tetes air panas jatuh dari ujung taplak ke ubin.

Tepat sepuluh menit kemudian, tepat pukul 6.10, Julian, pegawai sekaligus pendamping setiaku, muncul dari ambang pintu, melangkah ringan sambil membawa setumpuk kertas.

"Selamat pagi, Tuan Raffles, kubawakan surat-surat yang datang pagi ini." katanya ramah, sembari merapikan tumpukan kertas yang dibawanya. Jari-jari panjangnya menari di atas amplop, meluruskan ujung-ujungnya yang tertekuk, kemudian menatanya supaya tiap amplop menghadap kearahku. ia tata juga pena yang tergeletak di meja, lalu membungkuk, rupanya meraih sebuah pena lagi di bawahku. Penaku yang hilang minggu lalu. Namun ia tak segera kembali menampakkan kepalanya.

"Tuanku... adakah tuan menumpahkan air lagi?" tanyanya perlahan. Aku ini, hanya setengah mendengarkan. Suara rintihan malam tadi masih menggema dalam benakku.

"Tuanku, tolonglah!" pintanya sedih. "Sudah, hentikan ini. Ini bukan yang akan diinginkan Nyonya, Tuan." kini, kupalingkan wajahku ke jendela. Mengamati embun di kaca. Menghindari tatapannya dan kesedihannya yang menuntut apa yang tidak dapat kuberikan sekarang. Dan embun mulai meluncur dalam aliran-aliran kecil di kaca jendela. Tanpa menoleh dapat kubayangkan embun yang sama menuruni pipi Julian, embun pagi untuk Tuannya yang tiada pantas menerima. Begitulah aku dan Julian memulai hari ini, dengan ia mengucapkan permohonan lirih sambil menutup separuh wajahnya, kemudian berlalu, dan aku memandangi embun dalam perjalanannya ke tanah.

Sudah dua hari Tuan Raffles menolak semua makanan yang disajikan pelayan. Kadang dua tiga kali kudapatinnya menyeduh teh untuk diminum berdua-Nyonya Olivia dengannya-namun setiap kali juga kudapati tumpahan air di ubin, kadang disertai serpihan keramik. Semenjak jatuh sakitnya Nyonya, Tuan kehilangan sebagian cahaya di matanya. Sepasang mata yang dulu bersinar tajam, di dalamnya terdapat sinar yang kulihat ketika ia menantang seluruh pimpinan kolonial Inggris untuk melawan keputusannya menghapus perbudakan, atau sekedar menyapa pribumi di jalanan. sinar yang sama juga memancar ketika dengan antusias ia mengikuti perkembangan penggalian candi besar yang katanya sudah ada semenjak Wangsa Sailendra menguasai Jawa.

Lady RafflesLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora