"Dr.Melati,Sp.OG, 29 tahun, single. Itu yang paling penting." Nino tersenyum senang ketika mengucapkan kata single, itu artinya peluang untuk mendapatkan hati Melati terbuka lebar.
"Yatim piatu." Ucapnya lagi, akan lebih gampang kalau tidak ada orang tua, Melati bisa memutuskan sendiri takdir hidupnya tanpa orang tua yang akan turut campur di dalamnya.
"Mahasiswa terbaik dengan IPK 3,9. Sempurna."
"Pernah menyabet gelar Dokter muda terbaik dua tahun yang lalu, hmm..."
"Pendiri panti asuhan tsuraya, panti yang hanya menampung balita." Menarik, Pikirnya. Pantas sekali dia begitu peduli dengan bayi yang dilahirkan orang yang di tabrak Fio kemarin.
Nino melanjutkan membaca data tentang Melati yang di dapatnya siang ini. Dia bolak-balik mempelajari semuanya dengan serius seolah-olah yang sedang di bacanya adalah proposal yang sangat penting dan akan menentukan masa depan perusahaannya.
Setelah cukup puas dengan berkas di depannya Nino menatap informan yang di sewanya. "Memuaskan, good job." Nino kembali merapikan kertas-kertas tersebut dan memasukkannya kedalam map dengan tersenyum puas. Semuanya akan lebih mudah kalau dia mengetahui sedikit informasi tentang Melati.
"Sudah sejauh mana penyelidikan kamu tentang orang yang aku kasih KTPnya kemarin?"
"Sebetulnya saya sudah menyelidiki semuanya tapi laporan yang saya buat belum selesai."
Nino mengibaskan tangannya. "Ceritakanlah."
"Baik Pak. Dari mana saya harus memulai laporan saya?"
"Kamu bisa mulai dengan namanya. Kurasa."
"Baiklah, Wanita itu bernama Murnisari, berusia 26 tahun, dia seorang TKW yang baru pulang dari tanah arab dan dalam keadaan hamil."
"Hmm...." Nino menyimak semua laporan yang di sampaikan informannya dengan serius.
"Suami dan keluarga besarnya tidak bisa menerima kehamilannya untuk itu mereka semua mengusirnya." Nino menganggukan kepalanya.
"Bapak beruntung, dengan sedikit uang saya rasa mereka tidak keberatan menyerahkan bayi itu."
"Berikan alamatnya, biar pengacara saya yang mengurus selanjutnya."
"Baik Pak." Informan yang di sewa Nino mengeluarkan secarik kertas dan menyerahkannya pada Nino.
***
Melati POV
Aku bergegas keluar ruangan setelah jam tugasku selesai karena siang ini aku sudah janji akan mengantar Bapak pulang. Lagi-lagi kakiku berbelok arah menuju ruang perawatan bayi dan menatap bayi-bayi kecil itu di balik kaca, entahlah hampir setiap hari aku tidak pernah absen melihat bayi-bayi itu, ada kebahagian tersendiri kala melihat berbagai ekspresi yang di tampilkan para bayi-bayi tersebut, mereka menggeliat dan menagis seolah-olah mereka tahu kalau semua orang memperhatikannya.
Aku sangat menyukai tingkah polos mereka dan aku menyukai suara tangis mereka tapi aku tidak pernah berkeinginan punya anak sendiri, anak yang lahir dari rahimku sendiri dengan cara apapun.
Semua itu karena Ibu, Ibu yang telah membentuk dan mempersiapkan aku dari kecil supaya aku tidak mengenal rasa sakitnya penghianatan yang di rasakan Ibu semasa hidupnya. Kematian Ibu telah membuka mataku akan rasa sakit itu dan aku bertekad supaya tidak terjatuh seperti Ibu karena aku tidak ingin punya rasa sakit yang sama dengan Ibu.
"Ehmm.....Bayiku yang mana ya?" Tiba-tiba saja suara bariton seseorang mengagetkanku persis seperti yang Dokter Herman lakukan tadi pagi. Ada apa ini? kenapa hari ini aku begitu sial di kagetkan sama dua orang yang sama-sama menyebalkannya.Pertama Dokter Herman, dokter kurang kerjaan yang memiliki kekasih lebih dari satu dan masih saja berusaha merayuku, dan sekarang ayahnya Fio. Pria paling mesum sedunia yang memanfaatkan semua kelebihan yang dia punya. Ku layangkan tatapan tidak suka pada pria di sampingku yang sedang berusaha memberikan senyuman terbaiknya, aku akui senyumannya memang sangat memikat dia begitu nice dan tampan tapi aku tidak tertarik sedikitpun dengan wajah tampannya itu.
"Hai....Apa kabarnya?" Pertanyaan paling bodoh yang pernah ku dengar, sudah pasti aku baik-baik saja kalau tidak baik, aku tidak mungkin berada di sini saat ini."Dari empat bayi yang ada, bisa tolong tunjukan yang mana bayiku?" Rupanya dia tidak menghiraukan muka be-teku. Dia malah asik menebak-nebak yang mana bayinya.
"Aku yakin bayiku yang paling kiri." ucapnya lagi sambil mengarahkan jari telunjuknya menunjuk bayi yang paling kiri, tanpa sadar aku menatap jari telunjuknya yang menempel di kaca. Jari yang tampak kokoh, bersih dan terawat dengan kuku terpotong rapi, pasti jari telah membuat banyak perempuan merasakan indahnya orgasme. Tiba-tiba saja aku merasa mual dengan pikiranku barusan, ku palingkan wajah dengan muka jijik.
"Sayang sekali tebakan anda anda salah Bapak Nino."
"Yah, sayang sekali padahal bayi yang paling kiri itu lebih mirip denganku lho." Nino pura-pura kecewa. "Jadi yang mana bayinya? bisa tolong tunjukan. Aku harap bayiku tidak berjenis kelamin perempuan." Nino menatap sekilas bayi yang berada di box sebelah kiri, lalu tatapan matanya beralih menatapku sambil tersenyum. Ku balas tatapan matanya dengan dingin.
"Kenapa?"
"Karena, aku ingin membuat bayi perempuan bersama kamu." jawab Nino dengan tersenyum jahil mengodaku.
Dia pikir leluconnya lucu apa, tidak sedikitpun aku ingin tertawa malah aku makin merapatkan bibirku dan mendelik tidak suka. Nino tertawa seolah-olah leluconnya itu yang paling lucu. Aku menunggu dia dengan sabar, sampai sejauh mana dia akan tertawa. Nino rupanya baru sadar kalau aku tidak menanggapi leluconnya dia kemudian berhenti tertawa dan mulai kembali menatapku.
Ku tarik nafas sebelum berbicara dengannya. "Bayi anda yang paling kanan, anda beruntung karena bayinya berjenis kelamin laki-laki. Permisi saya tinggal!" Aku berbalik hendak pergi, tapi tangan Nino dengan sigap menarik lenganku.
"Tunggu sebentar, maafkan aku, aku tadi hanya bercanda." Ku tarik tanganku dan memasukkannya kedalam saku jas dokter yang masih aku pakai. Aku diam berdiri di hadapannya dan menunggu dia untuk berbicara lebih lanjut.
"Pengacaraku sudah mengurus semuanya dan keluarga korban sudah menyetujui kesepakatannya, jadi apa hari ini jenazah korban sudah bisa di bawa pulang?"
"Suruh pengacara anda menyelesaikan semua administrasinya, baru bisa membawa pulang jenazahnya." Nino manggut-manggut sepertinya dia cukup mengerti.
"Dan, bayi itu kapan aku bisa membawanya pulang?"
"Secepatnya, mungkin dalam dua tiga hari, setelah semua pemeriksaan kesehatannya selesai aku rasa bayinya sudah bisa di bawa pulang tapi dengan catatan dia tidak mempunyai penyakit apapun yang membahayakan nyawanya dan satu hal lagi, Apa keluarga korban tidak mempermasalahkan hak pengasuhan bayinya?"
"Oh, indahnya......" Sepertinya Nino tidak menyimak semua yang aku bicarakan barusan karena pandangan matanya fokus menatap bibirku seperti tadi malam, entah apa yang ada di dalam otak mesumnya kali ini, ingin rasanya aku membongkar isi kepalanya dan mengeluarkan semua pikiran kotornya. Terlebih lagi aku tidak suka dengan tatapan matanya yang sedang menatapku lapar. Matanya memang indah dia mempunyai sorot mata yang tajam dan hangat, siapapun pasti akan langsung terpesona dengan tatapannya itu. Tapi tidak denganku aku malah ingin mencungkil kedua bola matanya dan membuatnya buta supaya dia tidak lagi jelalatan menatap setiap korbannya.
Aku sampai menarik nafas beberapa kali supaya tidak emosi. Kualihkan pandanganku dan kembali menatap bayi-bayi di balik kaca, hanya itu caraku satu-satunya untuk meredakan emosi.
"Akan kamu beri nama siapa bayinya?" Aku bertanya dan menatap bayi yang paling kanan tanpa menghiraukan Nino yang sedang menatapku dari samping.
"Kamu yakin itu bayiku?" Nino malah balik tanya bukannya menjawab pertanyaanku.
"Ya." Mataku masih terus menatap bayi yang sedang tertidur pulas di dalam box.
"Kenapa dia sama sekali tidak mirip denganku?" Kali ini ku tatap Nino yang sedang tersenyum kearahku. Mungkin itu tujuan dia ngomong seperti itu supaya aku balas menatapnya.
"Tidak ada satupun bayi yang mirip dengan kamu kecuali kalau kamu ikut membuat bayi itu." Kenapa aku malah menjawab pertanyaan konyolnya?
"Hahah....." Nino tertawa. Merasa ada angin segar Nino melanjutkan bertanya. "Bagaimana kalau kita yang buat bayi itu, kira-kira dia akan mirip siapa ya?" Mata Nino mulai menelusuriku dari atas sampai bawah dengan jari telunjuk menempel di bibirnya seperti sedang berpikir. "Aku rasa dia akan lebih mirip dengan kamu, dia akan mewarisi bentuk mata almond milik kamu, hidung mancung milik kamu, bibir merah kamu dan....."
Aku menatap dia dengan bibir di rapatkan membentuk satu garis. Siap meledak.
"Muka-judes-milik-kamu." Lanjutnya lambat-lambat sambil nyengir dan megusap tengkuknya.
Kali ini aku tidak bisa berkata apa-apa karena kelewat emosi ingin rasanya aku cekik dia sampai dia meninggal di tempat tapi yang aku lakukan hanya berbalik dan pergi meninggalkan dia yang mulai tertawa.
"Dokter Mel mau kemana? maaf Dokter aku hanya bercanda jangan di anggap serius kecuali kalau Dokter memang berniat ingin membuat bayi bersamaku."
Teriakan Nino membuat mukaku merah seketika, karena yang berdiri di situ bukan hanya Nino seorang melainkan ada beberapa orang yang pasti mendengar apa yang di ucapkan Nino barusan, karena sayup-sayup ku dengar mereka semua tertawa. Aku mempercepat langkahku dengan menundukan kepala.
Nino POV
Hahaha......Senang rasa bisa menggoda dokter cantik itu, apalagi melihat muka be-tenya terlihat sekali kalau Melati sangat membenciku, tapi semakin dia membenciku semakin aku penasaran ingin memdapatkannya. Semakin dia menjauh dan menghindariku semakin aku ingin mendekat dan menyelami hatinya, Ahh....Melati memang perempuan mempesona yang mampu memporak-porandakan hatiku.
Bagaimana tidak seharusnya siang ini aku berada di kantor memimpin meeting dengan investor dari jepang yang akan menentukan masa depan perusahaan, tapi sekarang aku malah berdiri di sini di rumah sakit Hospital of children tempat Melati praktek dengan alasan ingin mengurus semua kekacauan yang di timbulkan Fio, padahal pengacaraku bisa melakukannya untukku tapi aku ngotot ingin menyelesaikan semuanya sendiri yang pada ujung-ujungnya pengacaraku juga yang menyelesaikan semuanya karena aku hanya ingin bertemu dengannya, bertemu dengan Melati dan melihat wajah cantiknya.
Kalau ponselku tidak berdering dan mengagetkanku mungkin sekarang aku masih terus tersenyum memikirkan Melati. Dengan sedikit kesal ku geser tombol berwarna hijau.
"Ada apa?"
"Maaf Pak Nino, Bapak sedang dimana?" Suara Naomi yang di buat manja dan sedikit mendesah membuatku membayangkan Melati yang berada di ujung telepon sana sedang meneleponku saat ini.
"Ada apa?" Sekali lagi aku bertanya.
"Apa Bapak bersama seorang perempuan?" Naomi malah menayakan hal yang sangat tidak penting untuk di bahas seharusnya dia meneleponku untuk memberikan laporan singkat hasil meeting yang di tangani Julian wakilku.
"Ya." Aku sedang tidak berbohong karena aku memang datang ke sini untuk menemui perempuan yang akhir-akhir ini tidak pernah bisa lepas dari benakku yaitu perempuan bernama MELATI.
"Dimana? di hotel mana Bapak berada?" Naomi sedikit emosi bertanya padaku sampai aku mengerutkan dahi heran, dia sekretarisku sejak kapan urusan pribadiku menjadi urusannya.
"Bukan urusan kamu! sekarang suruh Julian meneleponku!" Bentakku dengan dingin.
sepertinya Naomi tersentak kaget "Ba-baik Pak." Karena dia tergagap menjawab dan akhirnya memutuskan sambungan telepon.
Aku mengusap wajah dan berjalan menuju ruang administrasi dimana pengacaraku sedang mengurus semuanya. Tanpa mengetuk pintu dan berbasa-basi aku langsung duduk di samping pengacaraku, tepat di pinggir jendela kaca yang cukup besar dan lebar, sehingga aku bisa melihat kearah taman yang berseberangan dengan ruang administrasi. Ku mainkan ponsel di tanganku sambil menunggu telepon dari Julian, aku mendengarkan pembicaraan pengacaraku dan kepala administrasi di rumah sakit ini.
Dengan bosan tatapanku beralih kearah taman, tanpa sengaja aku melihat Melati menghampiri seorang laki-laki tua yang mungkin umurnya sudah Lima puluh atau enam puluhan aku tidak tahu karena tidak terlalu jelas dari arah sini. Dia tersenyum lebar, Melati senyum, senyum yang tidak pernah di perlihatkannya padaku. Aku terkesiap dan menegakkan dudukku sambil memperhatikan senyuman Melati, oh.....cantiknya. Kali ini dia tertawa lebar sambil menggerak-gerakan kepalanya setelah laki-laki tua itu membicarakan sesuatu entah apa yang di bicarakannya sampai bisa membuat Melati tertawa seperti itu, aku mendengus tidak suka pada bandot tua itu kenapa dia lebih beruntung dariku, dia bisa mendapatkan senyuman dan tawa Melati tapi aku tidak, aku yang selalu menggodanya tidak pernah mendapatkan sedikitpun senyuman darinya.
"Bagaimana menurut Pak Nino?" Pengacaraku bertanya meminta pendapat dariku.
Aku mengibaskan tangan. "Lakukan yang terbaik menurut kamu. Aku mau anak itu." Jawabku sambil berdiri hendak meninggalkan mereka yang sedang berdiskusi.
Ku langkahkan kaki dengan lebar keluar ruangan dan menuju taman tapi terlambat Melati telah menjauh sambil menggandeng laki-laki tua itu. Siapa sebenarnya dia? ayahnya kah? Tidak mungkin, Melati tidak punya ayah dia yatim piatu. Pacarnya? mana mungkin Melati mau sama bandot tua bukankah dari laporan yang ku dapat tadi Melati masih single, atau jangan-jangan Melati istri mudanya, mungkin saja mereka nikah sirri. Aku cemburu ya, memalukan memang. Aku cemburu pada seorang Melati yang baru tadi malam aku temui dan ironisnya Melati adalah istri orang.
Aku berlari mengejar Melati dan laki-laki tua itu, sudah pasti aku dapat menyusulnya karena mereka berjalan sangat lambat seperti siput dan apa yang akan aku lakukan setelah aku berada di dekatnya? Aku bingung kenapa tangan ini tiba-tiba menarik tangan Melati yang sedang menggandeng laki-laki tua itu.
Melati sampai memekik kaget dan melotot kearahku lalu berusaha melepaskan cekalan tanganku tapi tidak sedikitpun aku berniat untuk melepaskannya, aku semakin erat mencengkram pegelangan tangannya tidak peduli Melati meringis merasa kesakitan.
"Kenapa tidak bilang kalau kamu sudah bersuami!" Emosiku tiba-tiba meledak, aku marah, aku kecewa, aku benci dengan perasaanku ini.
"Lepaskan." Melati berbicara dingin kepadaku seperti sebelum-sebelumnya, hai....... dimana senyuman manis yang tadi dia berikan untuk laki-laki tua itu.
Emosiku tersulut melihat sikap Melati yang seperti bunglon, dia akan berlaku manis pada orang lain dan bersikap dingin terhadapku tanpa sadar aku semakin mempererat cekalan tanganku seolah-olah menunjukan bahwa Melati adalah milikku-milikku seorang.
"Nino sakit." Aku menelan ludah dan menatap dia tidak percaya dengan apa yang aku dengar barusan, dia memanggilku Nino, Dia memanggilku Nino dengan suara lembutnya bukan Bapak atau anda seperti yang biasa di ucapkannya. Aku menarik bibirku keatas menahan senyum bahagia.
"Bisa tolong lepaskan." Permohonan dengan tulus tapi aku tidak mau melepaskan cekalan tanganku sebelum dia memanggilku dengan sebutan Nino.
"Bisa ucapkan namaku sekali lagi?" Melati memutar bola matanya dan berkata dengan kesal.
"Bapak Nino yang terhormat bisa tolong lepaskan tanganku." Aku menggelengkan kepala.
Sekali lagi Melati memutar bola matanya membuat aku semakin gemas ingin memeluknya. " Baiklah, Nino bisa tolong kamu lepaskan, pegelangan tanganku sakit." Ku dengar suara laki-laki tua itu tertawa menertawakan kelakuan kami. Aku tersenyum dan melepaskan cekalanku. Melati langsung menarik tangannya dan megusap dengan tangan yang lainnya. Bekas cekalan tanganku tergambar jelas di kulitnya yang putih, aku merasa bersalah karena telah memperlakukan dia dengan kasar ingin aku meminta maaf dan membantu mengusap pegelangan tangannya supaya tanda merah bekas cekalan tanganku hilang.
"Siapa kamu sebenarnya anak muda?" Tentu saja pertanyaan laki-laki tua itu di tunjukan untukku.
"Ahh....ya, aku, kenalkan aku calon suaminya." Aku sudah tidak peduli lagi laki-laki tua itu akan marah atau membunuhku sekalian karena aku telah mengaku-aku sebagai calon suami istrinya.
"Bapak kho, tidak tahu kalau kamu sudah punya calon suami Mel." Laki-laki tua itu balik bertanya pada Melati.
"Dia sakit jiwa, Bapak tidak perlu mendengar omongannya." Melati berusaha menyeret laki-laki tua untuk cepat pergi meninggalkanku.
"Kamu hutang penjelasan sama Bapak dan Ibu Mel."
"Iya, iya nanti Mel jelasin di rumah." Kembali Melati menarik laki-laki tua itu untuk segera pergi meninggalkanku. Tapi laki-laki tua itu tidak bergeming dia malah memberikan tangan keriputnya untuk berjabat tangan denganku.
"Saya Seno, Seno Susanto ayah....."
"Ayahku, dia ayahku." Potong Melati membuat kami berdua tersenyum. Aku tahu Melati hanya menutupi statusnya dengan berpura-pura bahwa laki-laki tua itu adalah ayahnya.
"Saya, Nino. Guarnino Amandio. Calon suaminya." Kubalas jabatan tangan orang yang mengaku sebagai ayahnya Melati.
"Sudah pak jangan di dengerin dia sakit."
"Tunggu dulu Mel, Bapak lihat dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya."
"Pak."
"Bawa laki-laki baik ini ke rumah Ibu pasti senang kalau mendengar kamu sudah punya calon suami." Tanpa di minta atau di tarik Pak seno meninggalkan kami berdua.
"PUAS kamu sekarang!" Melati menghentakkan kakinya dan menyusul laki-laki tua bernama Pak Seno.
"Puas, sangat puas." Gumamku sambil tersenyum. Aku tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang mereka ucapkan barusan siapa tahu mereka berbohong untuk menutupi aib masing-masing.
Ku ambil ponsel dari balik jas dan menghubungi Informan yang biasa aku sewa. "Cari tahu tentang Seno Susanto laki-laki tua yang ada hubungannya dengan Melati, nanti malam saya tunggu hasilnya." Klik aku tutup telepon sebelum mendengar jawabannya dan kembali memasukan ponselku ke balik jas yang aku pakai.
***
Mumpung kerjaan lagi sedikit dan otak bisa di ajak bwt nulis akhirnya aku bisa update cepet.....
Di tunggu vomment nya ya.....
Kasih masukan donk bwt ide cerita selanjutnya????!!!