Pagi ini gue udah perjalanan menuju sekolah dianter sama mimom gue, waktu gue nyisirin rambut hp gue berdering. Gue liat layar hp gue terpampang nama Nicla, lalu gue menganggkat telfon dari Nicla.
Niclabrown calling you..
"Halo Nic, tumben telfon pagi-pagi." sapa gue.
"Acel, lo bisa jemput gue nggak? Mami papi gue pergi tadi pagi tanpa ngabarin gue, udah mau telat juga lagi hiks hiks." jawab Nicla sesegukkan.
"Yaudah, lo tunggu depan rumah lo ya." kata gue lalu menutup telfon dari Nicla.
"Mimom, kasian Nicla gak ada yang nganterin, bisa jemput Nicla dulu ya mi? "tanya gue ke mimom yang fokus menyetir.
"Iya sayang." kata mimom.
Gue dan Nicla udah turun dari mobil lalu pamit sama mimom, setelah mencium kening gue mimom pamit untuk pergi dan gue mengiyakan. Gue dan Nicla berjalan masuk menuju ke kelas, banyak siswa yang udah mulai baris di barisan kelas masing-masing. Gue berlari ke arah kelas lalu mengajak Nicla untuk secepatnya baris di lapangan, saat gue berlari menuju barisan Rayhan menarik tangan gue.
"Apaan sih Ray, udah mau mulai nih upacara nya." kata gue sambil melambaikan tangan gue ke arah Nicla yang udah baris duluan.
"Jangan lupa selesai upacara lo ke uks ya! gue tungguin lo disana." ucap Rayhan kemudian meninggalkan gue.
"Ampun dah, kadang gak jelas emang lo. Tapi kenapa gue sayang sama lo? gilaa." gumam gue sambil menahan tawa.
"ACELLIN JANGAN LUPA!!?" teriak Rayhan yang akhirnya membuat teman-teman dan adek kelas gue melihat ke arah gue.
Seketika itu gue langsung berjalan cepat menuju barisan gue, berharap dewa penyelamat datang nolongin gue dari kejadian memalukan ini. Waktu berjalan, hingga matahari muncul demi perlahan menyinari wajah para siswa di sekolah gue. Setelah penutupan upacara barisan dibubarkan, para murid masuk ke kelas masing-masing. Gue pamit sama Nicla dan langsung menuju uks, waktu gue jalan lewat depan ruang osis gue ketemu sama Gintar.
"Mau kemana lo? Buru-buru amat sih." ucap Gintar yang berdiri dihadapan gue.
"Kemana hayoo, udah ah gue buru-buru gini malah ditanyain." jawab gue lalu berlari supaya Gintar tidak lagi nanya ini itu.
Keringat menetes dipelipis gue, nafas gue memburu sambil menengok kanan kiri untuk memastikan Gintar nggak ngikutin gue. Gintar Rayhan sahabatan mulai dari kecil, menurut cerita teman-temannya. Namun persahabatan itu sedikit renggang entah karena apa. Jadi gue gak mau Gintar tau kalo gue temen deket dan gue milikin perasaan lebih sama Rayhan. Saat gue berjalan mundur masuk ke uks, gue menabrak sesuatu lalu gue terjatuh.
"Assshhh." rintih gue sambil memegang pantat gue.
"Punya mata dipake dong, siapa suruh jalannya mundur." kata seseorang di atas gue, Rayhan.
Gue berdiri lalu mengibaskan rok gue dan membenarkan rambut gue yang sedikit berantakan akibat lari tadi.
"Suka suka gue kali, mau jalan mundur! jalan nyamping! jalan jongkok! Bukan urusan lo." ketus gue lalu pergi menuju meja admin di uks.
"Baca buku itu sampe abis, tiba-tiba gue gak mood." ucap Rayhan lalu berganti pergi ninggalin gue.
"What!? Gue disuruh, trus ditinggalin gitu aja." gumam gue syok karena gue susah payah lari dan hasilnya cuma gini.
Gue memandang buku yang ada di atas meja admin, sesaat hati gue merasa sakit. Merasa perjuangan gue buat kesini sia-sia, gue mengambil hp yang ada di saku baju lalu menelfon Nicla. Setelah gue izin dengan Nicla dan Pak David gue berjalan menuju tempat tidur lalu melepas sepatu dan berbaring. Seketika itu gue tertidur.
KRIIINGGGGG....KRINGGG...
Suara bel terdengar di telinga gue lalu gue terbangun, Gue melihat sekeliling karena bingung kenapa gue bisa ada disini. Gue turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju meja admin, saat gue melewati tempat tidur sebelah, tangan gue ditarik oleh seseorang. Gue berada di balik tirai uks bersama dia.
"Rayhan?" kata gue.
"Lo gakpapa kan? kalo lo sakit kenapa lo gak bilang sih? tapi lo gakpapa kan?" tanya Rayhan sambil memegang leher gue untuk memastikan gue sakit atau nggak.
"Entah kenapa gue seneng liat lo khawatirin gue."
"Acel.. lo gakpapa kan? ada yang sakit?" tanya nya lagi dengan wajah khawatir.
"Enggak." jawab gue pelan.
"Maafin gue, gue udah nyuruh lo terus ninggalin lo gitu aja." Sesal Rayhan pada gue.
"Gakpapa kok, buku nya gue baca di rumah ya. Makasih udah khawatirin gue." Kata gue lalu berjalan keluar uks meninggalkan Rayhan.
"Sekali lagi makasih udah khawatirin gue, gue seneng banget."
Terkadang, gue bingung dengan sikap Rayhan. Dia slalu tiba-tiba dan membuat gue penasaran, terkadang dia bersikap seperti teman, terkadang juga dia bersikap layaknya pacar, dan juga terkadang dia seperti orang yang tidak mengenal gue. Dan dengan terpaksa gue harus menerima setiap berubahan itu.
"ACELLL." teriak seseorang di depan gue.
Gue yang semula berjalan dengan tatapan kosong, sadar lalu melihat seseorang yang memanggil nama gue.
"Kemana ajasih lo, gue barusan ke uks ternyata gak ada lo." cerita Nicla sambil menggandeng gue.
"Lo gak lihat gue lagi jalan." jawab gue cuek.
"Masih sakit lo? Rayhan udah nyamperin lo kan?" tanya Nicla yang tiba-tiba berhenti.
"Jadi dia khawatir karena lo bilangin." gumam gue lalu berjalan mendahului Nicla.
"Udah ah jangan lemes gitu, Acellin Brunella gak pernah kelihatan lemah di depan seluruh orang apalagi di depan gue." ucap Nicla nyemangatin gue.
Air mata gue jatuh membasahi pipi gue, Nicla yang melihat gue seperti itu pun langsung memeluk gue.
"Gue lebih seneng lo belum ngenal yang namanya jatuh cinta Cel, daripada gue harus liat lo nangis karena hal yang gak seharusnya lo tangisin." gumam Nicla dengan suara sedikit gemetar.
"Maafin gue Nic, gak seharusnya lo lihat gue gini." gumam gue.
"Dia bakal nyesel udah buat pipi lo banjir bandang kaya gini." canda Nicla lalu tersenyum pada gue.
Koridor sekolah terlihat sepi, hanya tinggal beberapa siswa yang masih berkeliaran di depan kelas. Bisa di tebak kalau siswa yang berkeliaran itu kelasnya sedang jamkos, dan gue berharap kelas gue juga jamkos. Perlahan gue berjalan mendekati kelas lalu masuk, temen-temen gue sedang bergosip ria dengan membentuk beberapa kelompok. Ternyata kesemogaan gue tadi bener, gue melihat Nicla yang tersenyum senang sama seperti yang gue lakuin sekarang.
Gue duduk lalu mengambil diary yang ada di tas gue, udah lama gue nggak nulis disini.
Dear mici..
Mengenalmu adalah suatu anugerah
Menyakitmu adalah suatu larangan
Memilikimu adalah suatu kebahagiaan
-Ray
"Ekhemm boleh juga tuh kata kata gue update di timeline." ujar Nicla sambil menaik turun kan alisnya.
"Enak aja tuh mulut!"
"Cel, kaya nya Rayhan care sama lo emang kemauan nya sendiri deh." tiba-tiba Nicla nunjukin chat nya sama Rayhan sekitar sepuluh menit yang lalu.
RayhanDinata: gue ga maksud bikin Acel nangis, gue mau nyamperin tapi ada lo.
Niclabrown: iya gue tau, Acel juga ga cengeng cuma baperan ehehe.
RayhanDinata: kabarin gue kalo Acel kenapa-napa.
"Buat apa dia care? Care sebagai pengurus tim nya? Karena gue udah ngurus tim nya jadi dia gak mau gue sakit?"
"Enggak gitu Acel, coba pikir positif nya aja deh." jawab Nicla meyakinkan gue.
Beberapa jam kemudian, setelah melalui beberapa pelajaran akhirnya jam belajar pun selesai. Gue sama Nicla buru-buru untuk ke gerbang, rencananya gue mau pijamas party sama Nicla buat seneng-seneng ajasih.
!!PART INI SUDAH DIREVISI!!
VOTE, COMMENT AND STAY READING SAMPE AKHIR.
-Awangle
050117