Little Fairy: Wherever You Are

By azizahnvtsr

622K 68.2K 15K

"Every night I almost call you just to say it always will be you,wherever you are,Darcy." Darcy Capella Styl... More

Introducing
O n e
T w o
T h r e e
F o u r
F i v e
S i x
S e v e n
E i g h t
N i n e
T e n
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22.
23.
24.
25
26
27
29.
30
31
32.
33
34.
35
36.
37.
38
39.
40.
41.
42.
43
44
45.
46
47.
48
49
50

28

12K 1.4K 751
By azizahnvtsr

Cambridge, Massachusetts.

"Lalu pasal berapa yang akan di kenakan kepada tersangka di negara X ini?"

Hening.

Peter tidak menjawab pertanyaan ku.

Aku meliriknya dan melihat dia yang ternyata saat ini tengah melamun sambil mencoret-coret bukunya.

Aku mengamati wajahnya. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu, sesuatu yang lagi-lagi membuat dia kesal.

Kening Peter berkerut, bibirnya membentuk suatu garis lurus, tidak tersenyum dan tidak sedih. Matanya menatap tajam kearah buku di tangan nya, dan ia menekan ballpoint itu dengan keras sehingga aku yakin tak lama kertas itu akan robek.

"Stiles?" Panggilku sambil menggoyangkan bahunya pelan selama beberapa kali, hingga akhirnya dia berhenti melamun.

"Oh, sorry, D. Ada apa?" Tanyanya sambil memberiku senyum yang dipaksa.

Aku tidak berkata apa-apa dan hanya melihat wajahnya yang mengerut karena memiliki pikiran itu.

"You ok?" Tanyaku.

Dia menatap mata hijau ku dalam-dalam, lalu kali ini memberiku senyuman kecil tapi tulus miliknya. "I am now." Jawabnya.

Aku tak kuasa menahan senyuman mendengar ucapan nya. "Kau kenapa? Kau ada masalah?" Tanyaku lagi.

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya,

Aku tidak suka melihat Peter yang sedih seperti ini.

Aku tidak mau Peter memendam perasaan dan masalahnya sendiri.

"Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang berpikir." Ucapnya, mengalihkan wajah dariku.

"Berpikir tentang apa?" Tanyaku lagi dengan hati-hati.

Peter tidak menjawab.

Aku menghela napas dalam.

"Aku bisa terima jika kau tidak mau menceritakan masalahmu padaku, Stiles. Tapi aku hanya ingin kau tau bahwa apapun yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu, ok?" Ucapku sambil memberikan dia senyuman termanis ku. Peter menatapku dalam, dan perlahan dia mengusap pipiku lembut.

"Aku bukannya tidak mau cerita padamu." Gumamnya. "Aku hanya takut bahwa kau tidak akan menyukaiku jika aku menceritakan semua nya padamu." Ucapan nya membuatku terenyuh.

Dia tidak tau bahwa ucapan yang menunjukkan rasa takut nya itu  membuatku semakin suka padanya.

"Apakah masalahmu itu terjadi di masa lalu?" Tanyaku. Dia mengangguk pelan. "Kalau begitu aku tidak perduli. Semua orang memiliki masa lalu yang berbeda dan aku tidak akan menilai seseorang dari masa lalunya." Ucapku menenangkan.

Peter terdiam,

Lalu kembali mengusap pipiku. "It's about my family." Ucapnya.

Sudah kuduga..

Dia pasti ada masalah dengan keluarganya.

Aku tau bahwa Peter punya masalah dengan keluarganya ketika ia berkata seperti itu di mobil.

"Aku melakukan suatu kesalahan besar, D." Ucap Peter. Ia memejamkan matanya dan menarik napas dalam.

"Aku punya seorang kakak lelaki. Dia beda empat tahun denganku. Dia tipe lelaki idaman semua wanita. Tampan, kaya, pintar, ramah, dan penyayang. Aku juga sangat menyayangi dia, D. Orangtua ku  menyayangi dia. Bahkan semua orang tau bahwa Ethan adalah anak emas ayah dan ibuku." Ucapnya. "It's all about Ethan, you know? Ethan ini, Ethan itu, semua tentang Ethan dan tidak pernah tentang Peter. Jujur, aku iri padanya. Maksudku, mana ada sih orang yang tidak cemburu jika saudaranya mendapat perhatian yang berlebih daripada dia? Tapi aku tidak membencinya, dia sangat sayang padaku dan dia selalu membantuku, aku tidak bisa membencinya dan aku sangat menyanyangi dia." Ucapnya.

Aku melihat matanya yang memerah.

"Lalu ketika aku berusia 12 tahun dan Ethan berusia 16, aku ada suatu pertandingan sepakbola. Itu pertandingan yang sangat penting bagiku karena pemenangnya akan dikirim ke London untuk babak final. Dan hari itu, aku ingin Ethan yang mengantarku kesana. Aku ingin Ethan melihat pertandinganku, karena pertandingan ini sangat penting bagiku dan Ethan merupakan orang terpenting dalam hidupku." Ia menarik napas dalam. "Ethan tentu saja menuruti keinginanku. Dia mengantarku kesana, memberiku semangat, dan ketika aku mencetak gol kemenangan, Ethan dengan bangga nya berteriak bahwa aku adiknya. Aku merasa sangat bangga, sangat bahagia memiliki kakak sepertinya."

Aku melihat air mata menetes ke pipi Peter, melihatnya menangis membuatku ingin ikut menangis.

"Ethan terlihat sangat bersemangat dan terlihat baik-baik saja. Tapi ternyata, saat itu dia sedang sakit. Aku tidak menyadari hal ini dan malah memaksanya untuk mengantarku. Aku egois." Air mata Peter turun semakin deras, membuat hidungnya memerah. "Dan saat perjalanan pulang, Ethan tidak bisa menahan rasa sakitnya. Dia jadi tidak bisa mengontrol kemudinya, dan kemudian, kejadian yang secepat kilat itu terjadi, ada sebuah truck yang menabrak kami. Ethan melemparkan dirinya kearahku dan melindungiku. Kami berdua terluka dan tak sadarkan diri. Tapi Ethan...." Ia menyeka air matanya. "Ethan tak sadarkan diri selama-lamanya."

Tak terasa air mata ku ikut jatuh.

Aku tidak bisa membayangkan nya jika aku berada di posisi Peter.

"Ketika aku tau bahwa Ethan meninggal, aku merasa seperti tertampar, D. Aku merasa sangat sedih, sangat kehilangan, dan aku merasa sangat bersalah.  jika bukan karena ulahku yang memaksa nya untuk mengendarai mobil ketika dia sedang sakit, Ethan pasti masih ada disini. Pasti saat ini dia sudah jadi dokter lulusan Harvard sesuai impiannya." Ia tersenyum sedih, dan aku semakin sedih melihatnya.

"Peter..." Gunamku sambil memegang tangannya. Dia tersenyum sedihz

Peter yang biasanya cerewet, hiperaktif, tidak bisa diam, sekarang terlihat sangat sedih, sangat terluka.

He's broken.

"Dan bagian yang paling menyakitkan adalah, ibuku menamparku ketika aku baru sadar dari koma ku." Ucapnya sambil tertawa miring.


Aku terhenyak mendengarnya.

"Apa?" Tanyaku lagi.

Peter menatapku dalam. "Dia menamparku, Darcy. Dia menampar anak bungsu nya dan berteriak di depan wajahku bahwa semua ini salahku. Bahwa Ethan meninggal karena salahku. Bahwa aku membunuh Ethan." Ia kembali terisak. "Sedangkan ayahku, ayahku hanya berdiri di belakang ibuku dan membiarkan ibuku berteriak sesukanya."

Aku melihat Peter yang menangis di depanku.

Dan aku sendiri ikut menangis.

He's lost inside..

"Mereka berdua berhenti menganggapku ada ketika Ethan meninggal. Mereka tidak pernah mengurusku. Aku selalu diurus nanny, D. Bahkan ketika aku terima rapor pun orangtua ku tidak datang. Hell, mereka tidak datang di acara kelulusanku." Ucapnya pelan. "Aku berusaha keras, Darcy. Aku berusaha sangat keras untuk menjadi anak yang baik bagi mereka, untuk menjadi seperti Ethan. Aku belajar keras dan mati-matian agar aku bisa juara kelas, agar aku bisa menjadi valedictorian di SMA, agar aku bisa lolos kedokteran Harvard, tapi mereka tidak perduli padaku. Mereka tidak perduli padaku, Darcy. Mereka hanya memberiku uang untuk sekolah, untuk kebutuhanku, tapi tidak pernah memberiku kasih sayang. I'm trying fucking hard to be perfect for them, Darcy." Ia mengusap air matanya. "Tapi mereka tidak pernah melihat dua kali kearahku. Ibuku tidak pernah bisa menatapku lebih dari lima detik. Ayahku tidak pernah bicara lebih dari tiga potong kata padaku. Aku tinggal di sebuah rumah besar sendirian karena mereka sibuk bekerja dan sibuk mengabaikan aku, anak yang mereka lupakan." Ucapnya.

"Aku terus berusaha menyenangkan mereka, hingga akhirnya aku lelah. Mereka tidak pernah menghargai aku. Jadi aku pun mulai berhenti melakukan hal-hal yang tadinya bertujuan untuk menyenangkan mereka. Aku berhenti terobsesi dengan kedokteran, karena itu impian Ethan, bukan impianku. Dan aku pun memilih jurusan hukum yang memang aku inginkan. Aku bahkan jarang pulang ke rumah orangtua ku. Aku sering menghabiskan waktu dengan Tyler dan keluarganya. Aku bekerja paruh waktu untuk mencukupi kebutuhanku sendiri dan berusaha untuk tidak memakai uang orangtua." Ucapnya pelan.

"Jujur, Darcy. Melihat ketidakperdulian orangtua ku ini membuatku semakin merasa bersalah karena sudah membunuh Ethan. Aku pemb-----"

Aku mencium bibir Peter untuk menghentikan ucapan nya. Aku menciumnya dengan air mata yang berjatuhan ke pipiku.

Peter menatapku tepat di manik mata.
Dan aku membuka suara.

"Don't be fucking silly, Peter Stiles. You are not a murderer." Ucapku tegas. "It's called a fucking accident, Peter. You are not a fucking killer. You heard me? You are not." Ucapku dengan penekanan di setiap kata.

Peter menatapku dan tidak berkata apa-apa selama beberapa saat .

Dan kemudian dia membuka suara.

"Kau menciumku karena kau tidak mau mendengar celotehanku atau karena kau ingin menciumku?" Tanyanya.



Seriously?

Aku sedang serius tapi pertanyaan nya sangat berbeda jauh dari topik utama..

"Both." Ucapku jujur.

Peter terdiam dan menatap mata hijauku seolah mencari-cari kejujuran disana. Dan kemudian dia tersenyum,

Senyuman kecil tapi tulus yang membuatku menyukainya.

"Boleh diulang lagi?" Tanyanya.

Aku tak kuasa menahan tawa mendengarnya. "Why not?" Ucapku.

Peter tersenyum dan mencium bibirku lembut, aku membalas ciuman nya dengan senyuman yang menghiasi wajahku.

Peter sendiri saat ini tersenyum.

Ia melepaskan ciuman kami dan kembali menatapku dalam.

"Setelah aku sembuh dan keluar dari rumah sakit, aku kembali berlatih karena aku ingat pesan Ethan padaku sebelum kecelakaan itu. Ethan bilang bahwa aku harus berangkat ke London dan memenangkan pertandingannya. Jadi, aku pun kembali berlatih, untuk Ethan." Ucapnya. Ia mengusap pipiku dengan ibu jarinya. "Aku berangkat ke London, tapi aku berjanji pada diriku sendiri bahwa ini pertandingan terakhirku. Aku tidak mau ikut sepakbola lagi. Aku tidak mau berolahraga lagi." Gumamnya.

"Tyler tentu saja tidak menyetujui keputusanku, tapi aku sudah kehilangan motivasi, D. Jadi aku tidak mau meneruskan nya." Gumamnya. "Tapi kemudian, di babak final itu, aku melihat gadis kecil berambut coklat yang diikat dengan pita berwarna ungu, dia juga bermata hijau dan menjadi kapten team sepakbola perempuan dari London. Aku melihat permainan nya dan aku terpesona melihatnya. Dia berkeringat, sering terjatuh di lapangan karena ulah lawan, lututnya berdarah, tapi dia tetap berlari dan tetap fokus mengejar bola hingga dia membuat team nya memenangkan liga junior itu. Aku melihat senyuman senang nya ketika pelatihnya menggendong dia dan semua teman nya menyerukan namanya. Aku melihat dua anak kembar yang langsung memeluknya ketika dia kembali ke tribun. Dan aku mendengar ucapan nya tentang betaoa senangnya dia bisa bermain sepakbola seperti ini. Gadis cilik itu membuatku kembali semangat, dan aku tidak berhenti main sepakbola hingga akhirnya aku jatuh cinta dengan lacrosse di SMA ku." Ucapan nya membuatku terdiam.

Gadis cilik berambut coklat.. Pita ungu.. Mata hijau.. Sepakbola.. Kapten team.. Liga junior.. Anak kembar..

"Gadis itu aku?" Tanyaku dengan bodohnya.

Peter memutar mata. "Bukan. Dia Grace." Ucapnya sarkas. Aku menjulurkan lidahku padanya.

"Kau mengenalku dari dulu?" Tanyaku lagi. Dia mengangkat bahu. "Waktu itu aku hanya tau bahwa namamu Darcy Styles." Ucapnya.

"Lalu kenapa tidak bilang dari kemarin jika kita pernah bertemu?"

Peter lagi-lagi memutar mata. "Nanti kau kira aku memata-mataimu." Ucapnya.

Aku ikut memutar mata. "It's true though. You are a stalker."

Peter pouted, but then he smiled.

"Aku stalker pribadimu." Ucapnya.

Aku tertawa. "Creepy." Godaku.

Dia tersenyum dan kembali mendekatkan wajahnya padaku. "Shut up, i want to kiss you again."

And i gladly kiss him back

*****


Meanwhile....

London, England

"Mate, kau sudah melihat acara interview Shawn Mendes?" Pertanyaan Niall Horan disambut dengan dengusan dari anak lelakinya.

"Tentu saja tidak." Jawab Luke Horan acuh sambil terus memainkan ponselnya.

"Kau harus menonton nya, Luke." Ucap Niall mantap.

Luke memutar mata dan menatap mata biru ayahnya. "Untuk apa aku melihatnya, dad? Toh mungkin bocah itu hanya akan memamerkan kemesraan nya dengan gadis itu." Geram Luke .

"Gadis itu punya nama dan namanya adalah Darcy." Ucap Niall tegas, Luke diam.

"Luke. Kau salah paham, nak. Darcy dan Shawn tidak ada hubungan apa-apa, mereka bahkan tidak berciuman, Luke. Itu hanya rekayasa." Ucap Niall sabar. Luke menatap ayahnya. "Bagaimana jika interview itulah yang di rekayasa?" Ucapnya.

Niall menggelengkan kepalanya. "Luke, aku hidup di dunia entertaint jauh lebih lama daripada kau. Aku tau dan aku bisa membedakan mana yang rekayasa dan mana yang asli. Berita itu rekayasa, dan apa yang di jelaskan Shawn di interview itu memang asli dan jujur. Mereka tidak ada hubungan apa-apa, mereka berteman, Luke." Ucap Niall.

"Aku dan Darcy jug dulu berteman." Luke yang keras kepala itu membuat Niall gemas.

"For fuck sake, Luke." Omelnya. "Buka matamu dan buka telinga mu baik-baik. Lihat apa yang selama ini tidak kau lihat dan dengar apa yang selama ini luput dari pendengaranmu." Ucap Niall lagi.

"Darcy gadis yang sangat baik, Luke. Dia sangat mencintaimu. Dan aku tau kau mencintainya." Nada bicara Niall pun melembut. "Jangan melakukan kesalahan yang sama sepertiku dulu, Luke. Aku tidak mempercayai Fairy, aku menyakitinya, dan aku menyuruh dia untuk menyerah atas hubungan kami. Jangan melakukan kesalahan bodoh seperti itu." Ucapan ayahnya itu membuat Luke terdiam.

"Aku bahagia dengan ibumu, aku cinta ibumu, sungguh. Aku menyanyangi Fairy, dia sudah seperti adikku sendiri, tapi aku tak bisa berbohong, saat aku muda dulu, ada perasaan menyesal karena sudah menyia-nyiakan gadis sehebat Fairy. Aku tidak mau kau bernasib sama sepertiku, nak. Aku tidak mau kau menyesal sepertiku. Dan terlebih, aku tidak mau kau membuat anak Fairy menangis seperti aku yang dulu membuat Fairy menangis." Ucapnya.

Luke terdiam, meresapi ucapan ayahnya.

Niall menghela napas lega karena dia tau, saat ini Luke tengah memikirkan segala perbuatan nya.

Niall menepuk-nepuk punggung Luke dan menyalakan televisi di depan mereka, Niall memutar kembali acara interview yang sengaja ia rekam untuk ditunjukkan pada putra sulungnya itu.

Ketika Luke menatap Lurus ke televisi dan menyaksikan jalannya acara, Niall pun berdiri dari duduknya, mengecup rambut putra kesayangan nya. "Perbaiki apa yang harus kau perbaiki sebelum semua terlambat, Luke." Gumam nya sebelum meninggalkan putranya untuk menonton acara itu sendirian.

Luke terdiam, menyaksikan, dan mendengarkan semua ucapan Shawn di televisi.

Seketika itu semua terasa jelas.

Dia sudah salah paham pada Darcy.

Luke sudah menuduh Darcy yang tidak-tidak.

Padahal Darcy tidak bersalah..

Luke merutuk kebodohan nya yang tidak pernah bisa percaya pada Darcy.

Dengan cepat, ia membuka ponselnya dan menghubungi nomor telepon yang sudah lama tidak ia hubungi.

"Tolong jawab teleponnya.." Mohon Luke dalam hati.

"Halo, ini Darcy Capella Styles. Dan jika kau adalah pria yang memiliki nama depan dengan empat huruf yang di awali huruf L dan diakhiri dengan huruf E, maka aku tidak mau bicara denganmu dan hanya ada satu pesan dariku. Fuck you."


Luke mengusap wajah ketika tau bahwa Darcy tidak akan mengangkat telepon nya.

Secepat kilat, dia mengambil kunci mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah yang sudah lama tidak ia datangi.

Ketika ia sudah berada di depan rumah, ia mendapati sosok pria remaja berambut coklat dan bermata hijau seperti Darcy yang tengah bermain bola.

Luke mendekati pria itu.

"Dude, Darcy tidak mau mengangkat teleponku." Ucapnya langsung.

Edward Antarius Styles menaikkan kedua alisnya.

"That's because you are a jerk." Ucapnya.

"Ed, bantu aku." Gumam Luke.

"No." Tolak Edward.

"I'm your favorite, remember?" Kejar Luke.

"You were my favorited. It's a past tense. Kau bukan favorite ku lagi ketika kau menyakiti kakakku." Ucap Edward sambil kembali memainkan bola sepak di kakinya.

"Ed, ayolah. Apa Darcy hanya tidak mau mengangkat telepon ku atau dia ganti nomor telepon?"

"That's not your business."

"Edward, please.. Aku ingin meminta maaf padanya." Ucap Luke lagi.

Edward menatap Luke tajam. "Dia mengganti nomor telepon nya dan dia sudah membuatku bersumpah untuk tidak memberitahu mu. Now, kindly go away." Ucapnya acuh.

"Kenapa dia mengganti nya?" Tanya Luke lagi.

"Because she's tired with your bullshit."

"Jangan berkata kasar. Kau masih kecil." Kali ini Edward memutar mata dengan gaya yang sangat mirip seperti Darcy, membuat Luke semakin merindukan gadis itu.

"Aku sudah besar dan kau lihat ototku ini? Aku yakin aku bisa memukulmu, Luke." Ancaman Edward mau tidak mau membuat Luke tersenyum.

"Kau membenciku sekarang?" Tanya Luke setelah mereka berdua terdiam cukup lama.

Edward melirik Luke. "Siapapun yang membuat kakakku marah, aku akan ikut marah pada orang itu. I'm loyal to her. I trust her. Not like someone who always yell at her for no reason."

Luke terdiam mendengar ucapan Edward yang menusuk hati.

Luke tau bahwa Edward berhak marah padanya.

Luke sudah menyakiti hati Darcy, kakak yang sangat Edward sayangi.

Apalagi mengingat sikap Luke ke Edward ketika pertama kali masalah Luke-Darcy-Shawn itu terjadi.

Luke menyuruh Edward untuk menjauhinya dan berhenti mengikuti Luke.

He pushed Edward away.

Darcy dan Edward menjauhi dia karena salahnya sendiri, dan sekarang ini dia benar-benar menyesal.

"I'm sorry." Gumam Luke.

"Too late for that." Gumam Edward. "Just forget about her. Stop bothering her.She's happy now." Ucapan Edward membuat Luke semakin menyesal.

"Dia baik-baik saja kan?" Tanyanya. Edward mengangguk.

"Dia baik-baik saja dan dia sudah bahagia dengan yang lain. Jadi, jangan kembali padanya dan merusak semuanya lagi. Biarkan kakakku merasakan kebahagian." Ucap Edward.

"Dia sudah punya penggantiku?" Ucap Luke tak percaya.

Edward mendengus. "Tentu saja! Kakakku bisa dengan mudah mendapatkan pengganti yang lebih baik darimu, tau." Omelnya.

Edward yang semakin hari semakin bertumbuh dewasa ini memang bertambah protektif kepada kakaknya.

"Siapa?" Tanya Luke lagi.

Edward mendengus karena sesungguhnya ia sedari tadi hanya asal bicara. Dia bahkan tidak tau apa Darcy memang memiliki pengganti Luke.

Yang dia tau, dia tidak ingin Luke mendekati kakaknya dan kemudian menyakitinya lagi.

"Yang jelas bukan orang seperti kau yang tidak pernah bisa percaya padanya." Ucap Edward.

Dengan begitu, Edward berjalan memasuki rumah dan tidak lupa membanting pintu nya, meninggalkan Luke yang berdiri sendirian dengan penyesalan mendalam.

"Ini semua salahku..." Ucap Luke penuh penyesalan.

****

PETER AND DARCY KISSING SYalalalallala

jadi, Chapt ini khusus masa lalu nya Peter daaaan ada sedikit intipan keadaan Luke di London sekarang.

Chapter ini ceritanya di waktu yang bersamaan tapi di tempat yang berbeda yap.

Semoga kalian suka mancemannn

Jangan lupa vote , comment, follow :D

Love you!

P.s: ada yang dateng konser 5sos gaaa? :")

Continue Reading

You'll Also Like

2.9K 622 16
jalan ke sekayu beli tutup botol these feelings for you are beyond my control tentang luke dan malia Copyright © 2017 by icanarry
3.1M 225K 62
Zoe-cewek unik yang selalu tampak ceria itu adalah tetangga baru Cal, si cowok tertutup yang kelewat apatis. Mengganggu Cal merupakan hobinya, sement...
32.6K 4K 16
❝Jadi sekarang lo milih gue daripada dia? Sekarang lo milih gue ketika lo udah terjebak di 'kakak-adek zone' sama dia?❞ ❝Ngga tau ah. Lo bikin gue mi...
1.7M 116K 63
Aku tidak percaya bahwa aku,Darcy Capella Styles yang dijuluki 'half man' oleh teman-temanku rela merubah sikap,penampilan,dan ucapanku hanya demi se...
Wattpad App - Unlock exclusive features