Keringat bercucuran deras di pelipis Rhea. Gadis itu merasa bingung apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia melangkahkan kakinya, berhenti sejenak. Rhea menatap seragam sekolahnya yang sudah berlumuran darah dan memutuskan berlari cepat menghindari kerumunan orang.
Kerajaan Oliena termasuk kerajaan yang cukup makmur. Udara segar menyapa setiap insan di kota itu. Bangunan kuno berdiri indah di tengah pusat kota. Para pedagang berjualan di pinggir jalan, rumah-rumah penduduk terlihat sangat tertata rapi dan indah. Hutan di pinggir kota menambahkan kesan asri kota tersebut. Tentu saja dibawa pemerintahan Duke William yang membantu kekaisaran negeri ini. Negri dengan segala misterinya. Atau mungkin sihir?
Peta Daerah Kerajaan Oliena
Sihir yang berada di tengah-tengah masyarakat tanpa mereka sadari. Legenda penyihir di menara terdengar di telinga para masyarakat, tanpa tau kebenaran. Bagi mereka sihir adalah dongeng.
Dongeng pengantar tidur anak-anak.
Hanya dongeng atau bahkan mitos.
Sihir yang berasal dari sel sel dalam tubuh manusia tertentu atau faktor genetik seseorang. Hanya segelintir orang yang memiliki sihir murni. Namun di tengah mitos sihir, penduduk kerajaan Oliena percaya bahwa ada sihir hitam di kota tersebut.
Sihir hitam yang dimiliki oleh para pasukan bayang.
Dark knight.
Organisasi sihir hitam yang di dirikan dengan satu tujuan. Balas dendam. Dark knight menawarkan layanan. Layanan membalas dendam tentunya. Para anggota dark knight tidak tau siapa pendirinya. Namun satu hal yang mereka tau, Dark knight di bangun beberapa tahun lalu dan merekrut para anggotanya yang memiliki potensi. Anggotanya yang penuh ambisi, dendam, dan kecewa. Mungkin rata-rata anggota dark knight adalah rakyat jelata yang tidak miliki apapun.
Para pemerintah yang menutup mata tak peduli dengan rakyatnya. Para petinggi negara yang korupsi. Dark knight ada untuk itu, membalas dendam para petinggi negara dengan negara lainnya. Tujuannya satu. Untuk memecah belahkan negara dan merampas pemerintahan. Dan lama kelamaan, tanpa mereka sadari para koruptor negara lenyap. Mengadu dombakan mereka dan akhirnya lenyap tak tersisa.
Alasan tidak logis dari pendiri Dark knight mungkin.
Sihir hitam.
Para anggota Dark knight memiliki itu. Sihir hitam. Entah darimana asalnya, hanya bayangan dan pencahayaan remang yang tau. Rahasia mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
Rhea berlari mendekat kearah rumah penduduk. Ia mencomot jubah merah di jemuran. Punya siapapun itu Rhea tidak peduli. Lagi pula bukankah berbagi itu indah?
Ayolah, Rhea tidak mencuri. Ia dengan baik hati membantu pemilik jubah untuk berbagi dengan sesama manusia. Mungkin saja pemilik jubah ini pelit bukan? Jadi alangkah baiknya Rhea membantu pemilik jubah untuk berbagi.
Rhea mengenakan jubah itu. Ukurannya sedikit terlalu besar dan mengakibatkan tubuh mungilnya tenggelam. Panjang jubah itu sebetis kakinya. Rhea berjalan melangkahkan kakinya menuju kerumunan orang. Sesekali Rhea memegang dadanya yang terasa lebih sakit dari sebelumnya. Ia menghirup oksigen rakus berusaha untuk tetap bernafas. Rhea berjalan tanpa arah, membiarkan kakinya menuntutnya kemanapun.
Rasanya ini mustahil terjadi.
Bagaimana mungkin Rhea terseret di dunia ini? Sangat tidak masuk akal, di luar Nurul manusia, eh nalar manusia.
Rhea terjebak di dunia ini. Tanpa siapapun yang ia kenal, jauh di lubuk hatinya gadis itu merasa ketakutan dan bersalah. Merasa bersalah menghabisi nyawa para prajurit demi perlindungan diri. Gadis itu kesepian, tidak ada yang menemaninya sedari kecil. Ia dibuang orang tuanya, penyakit Alexithymia yang membuatnya dijauhi orang dan tidak memiliki teman. Bagi gadis itu teman. Tidaklah penting. hanya menguras energi untuk berinteraksi dengan orang-orang dan membuatnya lelah.
Gadis itu menghela nafas. Dadanya terasa sangat sakit seperti sebelumnya. Rhea ingin sekolah menarik kata-katanya tentang ingin merasakan emosi. Ah... Bukankah itu tujuan Rhea kabur? Mencari sosok yang mirip dengannya? Atau Rhea berusaha melupakan sosok itu dan menjalani hidup dengan dada yang sakit? Entahlah Rhea masih bimbang. Sel dalam otaknya mungkin sudah lelah untuk berpikir.
"Dimana dia berada?" Gumam Rhea melirik kearah manapun.
Pusat kota Oliena sangat padat. Kereta kuda berlalu lalang melintasi jalan, anak anak kecil yang berlari-larian sembari tertawa dan ibu-ibu yang sibuk bergosip.
Rhea menutup topi jubahnya.
Ia berjalan menjauhi kerumunan dan samapi di gang sepi. Hawa dingin tercipta, tawa menyeramkan terdengar jelas di telinganya. Rintihan kesakitan menyayat hati. Langkah kaki Rhea terhenti.
"Masa iya gue bantu tuh orang, emang gunanya apa coba" Rhea mendengus dan berjalan tanpa menghiraukan kejadian itu.
"Lagian ntar gue yang bonyok gimana? Kan ga lucu, eh lucu deh hehehehe" cengir Rhea alih alih cantik malah terlihat sangat menyeramkan.
Namun naas.
Salah satu dari kelompok itu melihat Rhea.
"Heh apa yang kau lakukan?!?!?!" Sentak seseorang bertudung hitam menyembunyikan wajahnya.
Pergerakan Rhea terhenti. Bingung ingin menjawab apa.
"Punya mata ga? Liat gw lagi jalan anjirt! Bocah ngapa ya" Rhea memutuskan menjawab pertanyaan itu dengan asal.
"Ah pendatang baru ya?" Sosok tinggi dengan jubah hitam menghampiri Rhea.
"Sepertinya gadis itu tidak tau siapa kita, Rafa. Mungkinkah... Kita harus memperkenalkan diri kita?" Sosok tinggi itu berhenti di depan Rhea.
Samar-samar Rhea melihat tato leher lelaki itu. Tato dengan bentuk pisau.
Rhea menyipitkan matanya. Ada 3 sosok dengan jubah hitam dan wanita paruh baya berbaju mewah dengan aksesoris yang berlebihan. Wanita itu meringkuk memeluk lututnya. Tatapan mata wanita itu menatap penuh harap kearah Rhea. Kondisi wanita itu benar benar mengerikan. Darah merembes di lengannya, pelipisnya berdarah, luka lebam biru di ujung bibirnya, pakaian mewahnya yang kini sudah compang camping penuh darah dari perutnya dan make up-nya yang luntur menambahkan kesan menyeramkan dalam dirinya.
Sosok di depan Rhea menatap tajam gadis itu. Tudung merah kebesaran menutup hingga ujung hidung dan aroma darah tercium dari Rhea.
Sosok bertudung itu menyibak tudung di kepala Rhea. Menampakan wajah Rhea yang terkena bercak darah, wajah datar dan bola mata berwarna coklat terang menghipnotis semua orang yang memandangnya.
Rhea menyeringai.
"Jadi siapa anda Asep?" Tanya Rhea dengan aksen rendah.
"Asep?" Sosok itu kebingungan. Siapa yang gadis itu panggil Asep?
Tanpa memberi jeda teman sosok bertudung itu memukul wajah Rhea. Orang yang di panggil Rafa itu memukul Rhea dan mengabaikan temannya melamun.
Tangan Rafa ditangkis cepat oleh Rhea. Rafa melayangkan tendangan di perut Rhea, gadis itu dengan sigap menangkap kaki Rafa dan menariknya membuat lelaki itu tersungkur. Rhea memukul tengkuk leher Lelaki itu. Tepat pada saraf fatal, yang dapat melumpuhkan atau membuat seorang pingsan. Rafa pingsan di tempat.
Sosok tinggi itu menggeram marah. Ia segera menarik pedang di pinggangnya. Teman temannya yang lain memberikan ancang-ancang serupa.
Sosok tinggi itu bernama Luke.
Luke mengayunkan pedangnya hendak menebas kepala Rhea. Rhea menahan pedang itu sebelum mendarah di lehernya. Menggunakan tangan kosong. Darah merembes keluar dari pegangan erat Rhea. Luke tersentak kaget. Bagaimana mungkin gadis ini menahan pedang tajamnya tanpa meringis kesakitan?
Rhea tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia menendang betis Luke dan membuat lelaki itu jatuh kehilangan keseimbangan. Rhea melepas genggaman tangannya di pedang itu dan menghempaskan pedang tersebut. Dengan tangan penuh darah Rhea mencekik leher Luke. Mata luke melotot seketika. Ia mencoba menghirup udara. Namun pegangan Rhea semakin kencang.
Tau temannya dalam situasi buruk. Mereka menyerang Rhea serentak dari belakang. Gadis itu mendecih sinis.
Salah satu dari mereka melepaskan pedangnya. Takut akan berakhir serupa dengan Luke. Namanya Zayyan. Ia melirik kearah kedua temannya, Lukas dan James. Kedua temannya menyerang serentak kearah Rhea dan mencoba menebas apapun yang bisa di tebas. Namun sekuat apapun dan selincah apapun ayunan pedang mereka, Rhea dengan sigap menghindar dan menjatuhkan keduanya dengan cepat.
Zayyan memegang tato pedang di lehernya. Bayangan hitam mengumpul disekitarnya. Rhea meneguk ludah. Bagaimana mungkin?
"Mustahil" gumam Rhea takjub, tentu saja takjub, bagaimana mungkin kau tidak takjub melihat sihir hitam yang ada di novel dan Film-film?
Zayyan menyatukan kedua tangannya, dan membuat bola bayang hitam pekat dari kedua telapak tangannya. Angin dingin berhembus menusuk tubuh Rhea. Rhea menggigil. Zayyan melepaskan bola itu dan menembaknya kearah Rhea. Rhea menghindar. Entah apa efek jika terkena bola hitam itu. Yang jelas satu. Itu berbahaya.
Zayyan mulai menyihir belasan bola bayang itu dan mengarahkan ke arah Rhea. Rhea berlari menghindar. Gadis itu berlari ke arah Zayyan sembari mengambil pedang milik James di tanah. Rhea mengangkat tinggi-tinggi pedangnya dan menebas bola hitam itu. Namun pedang tersebut malah terserap oleh bola itu. Bayang. Bola bayangan itu menyerap segala hal yang terkena oleh bola tersebut. Rhea meneguk ludah, keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
Zayyan tersenyum meremehkan.
Rhea menyeringai. Ia berlari kencang tanpa takut dan menghindari bola bola bayang itu. Dan dengan cepat Rhea menimpa Zayyan dengan tubuhnya. Tangan Rhea mengunci kedua tangan Zayyan. Tudung lelaki itu terbuka. Menampakkan wajah tampan, rahang yang kokoh, bibir yang tipis, alis yang menukik tajam dan mata elang berwarna biru terang.
Zayyan meneguk ludah.
Wajah gadis itu benar benar cantik dari dekat. Walau kulit putihnya terkena darah namun terlihat sangat menggoda dan cantik sangat.
Diantara kekaguman Zayyan, Rhea mengambil pisau kecil di saku seragamnya dan menempelkannya di leher lelaki itu.
"Hai ganteng, tapi kayaknya lo harus mati deh" Rhea menyeringai.
Zayyan dengan cepat menarik tangannya yang di cekal kuat oleh Rhea dan mendorong tubuh Rhea. Kini kondisinya terbalik, Rhea berada di bawah dan Zayyan diatasnya.
Lelaki itu menyeringai lebar.
"Ah sepertinya anda salah nona" Zayyan terkekeh kecil namun terlihat tampan.
Rhea mencoba mengangkat tangan. Namun tenaga lelaki itu sangat kuat. Dada Rhea kembali terasa seakan-akan di tusuk.
Zayyan mengambil belati di pinggangnya. Ia menancapkan belatinya di leher Rhea. Tidak kuat namun menyebabkan darah bercucuran.
"Hentikan" suara rendah bergema di sekitar.
"Tuan" Zayyan berdiri dan membungkukkan badannya hormat. Lelaki paruh bawa dengan rambut yang sudah memutih dan tubuh yang kokoh menatap menilai Rhea. Rhea berdiri dengan santai.
Dibalik jubah hitam, pria itu mengambil belati dan melemparkannya ke arah wanita paruh baya di belakang yang mencoba kabur. Tepat pada jantungnya. Dan mengakibatkan wanita itu mati di tempat.
Rhea bergeming di tempat.
"Kau mempunyai potensi nona"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ahay, jangan lupa vote dan tinggalkan jejak kaki ya guys 👣