Arshan Gentala [End]

By Anurayyan

724K 35.3K 2.9K

⚠️Mampir aja dulu, sapa tau suka⚠️ Genre: #FiksiRemaja #Humor #Fantasi ••• Rank in 2 #humor Rank in 1 #fiksiu... More

00||00
00||01
00||02
00||03
00||04
00||05
00||06
00||07
00||08
00||09
00||10
00||11
00||12
00||13
00||14
00||15
00||16
00||17
00||18
00||19
00||20
00||21
00||22
00||23
00||24
00||25
00||26
00||27
00||28
00||29
00||30
00||31
00||32
00||33
00||34
00||35
00||36
00||37
00||38
00||39
00||40
00||41
00||42
00||43
00||44 End?
Extra Part 01
Extra Part 02
Extra Part 03
Extra Part 05
Extra Part 6

Extra Part 04

6.1K 189 9
By Anurayyan

EXTRA PART 4





•••

  Hari ini Lula sudah siap dengan seragamnya untuk berangkat ke sekolah. Seperti biasa, ia akan ikut bersama Eros.

  Kali ini tak ada raut ceria seperti biasa, karena hari ini adalah hari senin, hari yang amat sangat tidak Lula sukai. Alasannya? Tentu saja karena harus berpanas-panasan saat upacara.

  Sembari menuruni tangga, ingatannya kembali berputar pada kejadian kemarin di mana papa dan ayahnya terlihat begitu senang dengan kedatangan om Lintang, bahkan mereka membicarakan banyak hal, dan sepertinya sudah membuat janji untuk berkumpul.

  Apa ia terima saja tawaran pacaran dari om Lintang? Lagipula om Lintang itu tampan, mapan, dan tentunya idaman Lula sekali.

  Ah sudahlah, nanti saja ia pikirkan, lagipula bisa saja om Lintang hanya bercanda kemarin.

  Tapi sepertinya tidak mungkin! Foto-foto kecilnya di kamar pria itu sudah membuktikan jika pria itu benar-benar sudah menyukainya sedari kecil.

"Pagi pa, ma."

"Pagi, sayang."

  Mereka mulai sarapan pagi seperti biasanya, hanya ada dentingan sendok yang mengalun.

  Setelah selesai, Lula pun pamit, begitupula sang papa yang akan berangkat ke kantor.

"Abang, ayok berangkat."

  Eros menoleh pada Lula yang tiba-tiba muncul, ia tersenyum, tak lupa mengusap puncak kepala gadis itu setelah memasukkan ponselnya ke saku celana.

"Cantik banget sih adek Abang."

"Tau kok."

  Keduanya pun masuk ke dalam mobil, meninggalkan pekarangan rumah.

  Tiba di sekolah, Lula segera menuju kelasnya, menyapa siapa saja yang berpapasan dengannya, kemudian menaruh tasnya di dalam kelas. Bertepatan dengan itu bel upacara berbunyi.

  Dengan malas ia melangkah menuju lapangan, dan terhenti kala dirinya bertemu dengan Rayyan, teman sekelasnya yang muncul dari belakang.

"Hai La, kusut banget tuh muka."

"Males upacara, panas."

"Nanti baris di deket gue, biar Lo nggak kena panas."

  Lula menoleh semangat. "Boleh, badan kamu kan tinggi."

"Yaudah ayok," tanpa menolak, Lula menerima perlakuan Rayyan yang menepuk puncak kepalanya, lalu menggenggam tangannya menuju lapangan.

  Rayyan itu teman dekat Lula, tapi belum pernah di ajak ke rumah, mungkin kapan-kapan ia akan mengajak Rayyan ke rumahnya.

  Tanpa keduanya sadari, dari sudut lapangan ada sepasang mata tajam yang menatap ke arah keduanya.

"Shit!"

"Cio, saya mau sekolah ini pindah kepemilikan atas nama saya."

"M-maksud bapak, sekolah ini mau di beli?"

"Hm."

"Tapi pak---"

"Kamu saya pecat jika tidak bisa melakukan itu."

"Siap pak, akan saya laksanakan."

"Bagus."

"Apa bapak mau ikut saya kembali ke kantor?"

"Tidak, saya masih harus bertemu calon istri saya." Senyum yang terbit di bibir pria itu membuat sang sekretaris tercengang, pasalnya ini pertama kalinya ia melihat bosnya tersenyum.

"B-baiklah kalau begitu."

  Sepeninggalan sekretarisnya, ia segera menghampiri Lula di barisannya, panasnya terik matahari ikut membuat hatinya terbakar kala melihat sang gadis begitu dekat dengan laki-laki lain. Ck, menyebalkan.

   Persetan dengan tatapan para guru dan juga siswa siswi, yang ia mau sekarang adalah membawa gadisnya pergi dari sini.

"O-om Lintang," Lula sangat terkejut begitu tahu jika yang menarik pinggangnya barusan adalah teman papanya, begitupun dengan Rayyan.

"Siapa La?" Bisik Rayyan, namun masih dapat terdengar oleh Lintang.

"Saya calon suaminya," sela Lintang dengan raut datar yang terpasang sedari tadi.

"B-bukan," elak Lula, mengerjap menatap Rayyan.

"Ck, kamu ikut saya pulang," ia berdecak, langsung membopong tubuh Lula tanpa persetujuan gadis itu.

  Rayyan yang tak bisa berbuat apa-apa, hanya diam menatap temannya dibawah pergi, sedangkan yang lain hanya melongo.

"Huwaaa, om turunin Lula."

"...."

"Om! Lula belum pulang, jangan di bawah pergi."

"...."

"Om Lintang!"

"Hm.

"Lula nggak mau masuk mobil." Lula berusaha memberontak saat Lintang akan memasukkannya ke dalam mobil. Tenaganya yang kecil sama sekali tak berpengaruh bagi Lintang, bahkan sangat mudah memasukkan tubuh mungil itu.

"Nggak usah cemberut," ucapnya setelah menghidupkan mesin mobilnya.

"Om ngapain sih bawa Lula pergi, nanti kalo guru Lula marah gimana?"

"Om marahin balik."

"Ish." Lula memalingkan wajahnya ke luar jendela, mengabaikan Lintang yang malah tersenyum geli.

"Kamu jangan kayak gitu, om gemes liatnya. Nanti kalo om khilaf terus makan kamu, emang mau?"

  Kepala Lula menoleh cepat. "Om kanibal ya?!"

"Bukan, sayang."

"Terus apa dong?"

"Lupain. Sekarang kita ke apartemen om."

•••

  Lintang yang sedari tadi mendengar ocehan Lula sepanjang jalan sama sekali tak terganggu, malah semakin dibuat gemas dengan gadis itu.

"Ini apartemen om?" Lula menatap kagum apartemen milik Lintang, di dalamnya benar-benar sangat luas dan mewah.

  Setelah masuk semakin dalam, dirinya kembali di buat tercengang kala menemukan fotonya ada di mana-mana. Kali ini bukan hanya foto kecil seperti di kamar pria itu, tapi juga fotonya yang sekarang.

"Om."

"Hm," sahut Lintang yang sedari tadi menatap Lula, bahkan tatapannya tak pernah lepas sedetik pun dari gadis itu.

"Om dapat foto Lula sebanyak ini dari mana?" Lula ikut menatap Lintang.

"Ada deh."

"Om beneran suka sama Lula dari kecil?"

  Karena kelewat gemas, Lintang sedikit membungkuk lalu mengecup hidung Lula. Gadis itu sedikit terkejut, namun tak memberi penolakan ataupun protes.

"Iyya, om mau suatu saat nanti kamu jadi istri om."

"Tapi kan Lula masih sekolah."

"Om tunggu kamu sampai lulus."

  Entah keberanian dari mana, Lula tiba-tiba memeluk Lintang.

"Nanti om keburu tua," cicitnya.

  Bukannya marah, ia malah terkekeh, lalu menggendong Lula menuju kamarnya.

"Om gendong Lula mulu, emang nggak capek?"

"Enggak, om malah suka kalo gendong kamu terus."

  Lula yang merasa malu di tatap sedekat ini, menyembunyikan wajahnya, dan menghirup aroma Lintang yang menurutnya sangat wangi.

  Jantungnya juga mulai tidak normal setiap berdekatan dengan teman papanya ini.

"Mmm... Om."

"Hm."

"Kenapa?" Lintang duduk di tepi kasur dengan Lula yang berada di pangkuannya.

"Tawaran om yang kemarin, Lula terima."

  Lintang terlihat berpikir, pura-pura tak ingat tentang tawarannya kemarin.

  Lula yang tak mendapat jawaban, mengangkat wajahnya lalu menatap Lintang dengan tatapan kesal. "Masa om lupa."

Cup.

"Om ingat kok."

"Om kenapa cium bibir Lula terus?"

"Manis, om suka."

"Emang iya?" Lula menjilat bibirnya sendiri, mencoba mencari rasa manis yang Lintang maksud.

"Nggak ada rasanya ih, om bohongin Lula ya."

  Astaga Lula, tak tahu kah jika saat ini Lintang sedang berusaha menahan sesuatu agar tidak terbangun.

"B-bukan gitu maksud om."

"Stupid! Kenapa tiba-tiba gugup sih bangsat!"

"Kamu lapar nggak?" Ia mencoba mengalihkan, bisa berabe jika adiknya di bawah sana terbangun hanya karena hal sepele yang Lula lakukan.

  Mendapat anggukan antusias dari gadis itu, ia segera berdiri. "Kalo gitu kita keluar cari makan."

"Om nggak turunin Lula?"

"Nanti aja di mobil."

"Om."

"Hm."

"Kita pacaran?"

  Mendengar pertanyaan gadis itu sontak langkahnya terhenti.

"Menurut kamu?"

"Nggak tau." Lula mengedikkan bahunya, kembali mendaratkan kepalanya di bahu pria itu.

"Sampai kapan pun kamu akan tetap jadi milik om, nggak ada yang boleh milikin kamu selain om."

  Setelah mengatakan itu, Lintang kembali melangkah menuju mobilnya, kemudian mendudukkan Lula di kursi samping kemudi.

"Pengen makan apa?"

  Lula terlihat berpikir. Lintang yang selalu gemas dengan gadis itu mendekatkan wajahnya.

Cup.

"Bisa nggak sih, jangan bikin om gemes terus kayak gini," ucapnya, mendapat guratan bingung dari Lula.

"Om yang gemes, kok Lula yang disalahin."

"Oke, lupain. Sekarang kamu mau makan apa?"

"Mm... Lula pengen makan kebab."

"Kebab?"

"Iyya."

"Yaudah, sekarang kita cari penjual kebab yang enak."

"Ada lagi?" Tanya Lintang, fokus menatap Lula, tak lupa tangannya yang menggenggam tangan gadis itu.

"Itu aja, nanti Lula pikir-pikir lagi."

  Lintang mengangguk. "Mulai sekarang kalau kamu pengen sesuatu langsung kasih tau om, apapun itu."

"Om serius?"

"Tentu."

  Binaran di mata gadis itu menandakan jika ia sangat senang.
"Maksihh om Lintang." Pelukannya begitu erat, membuat hati Lintang menghangat.

  Ia pikir Lula akan menolak kehadirannya, apalagi saat tahu jika ia menyukai gadis itu.

Cup.

"Sama-sama sayang," ucapnya setelah mengecup kening Lula.

•••
Vote + koment!!
Ingattt woii, jangan pergi loh
Tabok nih🦶

 













 

Continue Reading

You'll Also Like

ALVASKA By Ray

Teen Fiction

32.7M 3.1M 84
(note: ALVASKA SEASON 2 TELAH DI NOVELKAN) ©2021
2.3M 167K 64
pemuda manipulatif yang bertransmigrasi jiwa ketubuh remaja berandalan yang dibenci orang-orang. Tulisannya masih acak2an(cerita pertama author)
8.5K 495 28
"aku ini Antagonis, tapi kenapa takdir ku menjadi protagonis" Start : 20/03/2021 Finish : ?
4.3M 280K 69
[FOLLOW SEBELUM BACA] Refara, seorang gadis cantik yang hidup sebatang kara. Sejak kecil ia tinggal di panti asuhan dan memutuskan untuk hidup mandir...
Wattpad App - Unlock exclusive features