"Hi semua perkenalkan nama saya Aletheia Karissa Andrianna, pindahan dari SMA Bintang Bandung!"
Dengan senyum menyembang dan rasa percaya diri Aletheia memperkenalkan dirinya didepan seluruh murid kelas X IPA 1, mereka yang akan menjadi teman barunya di kelas dan juga sekolah ini.
"Bu!" Seorang cowok dengan seragam rapi mengangkat tangan keatas.
Bu Rani selaku guru yang sedang mengajar di kelas tersebut langsung menoleh. "Kenapa, Adam? Mau bertanya?"
Adam mengangguk lalu menatap Aletheia. "Udah punya pacar belum?" Pertanyaan itu langsung disambut sorakan dari teman sekelasnya. "Apaan?! Sirik aja lo pada!"
Bu Rani geleng-geleng kepala. Ia kenal dengan Adam, murid yang satu memang sangat jahil dan suka bercanda. "Bagaimana, Aletheia? Mau menjawab?"
Ini yang mereka suka belajar dengan Bu Rani, selain masih muda, guru tersebut juga sangat asik diajak bercanda dan bercerita. Terkadang mereka semua sering jam kosong ketika Bu Rani yang mengajar, berujung dengan saling ngobrol dan melempar canda tawa.
Iri bener.
"Ale belum punya pacar, Bu." Aletheia menggeleng malu, pertanyaan macam apa ini. Walaupun cantik Aletheia belum pernah berpacaran seumur hidupnya. Alasannya ya karena sang Ayah melarang keras karena takut Aletheia terbawa pengaruh buruk nanti.
"Nah tuh Ale udah jawab," ujar Bu Rani.
"Boleh dong kalau gue daftar jadi pacar lo?"
"Gak boleh." Aletheia menggeleng pelan.
"Kenapa?"
"Nanti Ayah marah."
"NAH LOH SAINGAN LO AYAHNYA!" Suara cempreng Firesa membuat mereka yang ada di kelas itu menutup kedua telinga. Perempuan berwajah manis itu memang sangat suka berteriak dan juga sangat bawel.
"Apaan sih mak lampir! Ikut campur aja lo, ini itu sesi obrolan antara gue dan calon pacar!" ujar Adam.
"Idih! Emang Aletheia yang cantik gitu mau sama lo yang mirip beruk?!" balasnya pedas.
Mereka tertawa termasuk Aletheia dan Bu Rani.
"Kenapa lo yang sewot? Atau jangan-jangan lo cemburu ya?" tanya Adam menggoda, menaik turunkan alisnya menatap Firesa.
"Gue? Cemburu? Enggaklah. Walaupun elo cowok terakhir dimuka bumi, gak bakalan mau gue!" jawab Firesa mengibaskan rambutnya. "Lagian hati gue udah stuck ke Kak Clarel!"
"Suka kok sama pacar orang!"
"ADAM SETAN! SINI GUE JAMBAK RAMBUT LO!" Firesa mengambil ancang-ancang mengejar Adam. Seolah peka dengan apa yang terjadi selanjutnya Adam langsung berlari.
"BU RANI! ADAM YANG GANTENG INI MAU DI PERKAOS BU!"
"GANTENG KAGAK BURIK IYA!" teriak Firesa.
Bu Rani memijit pelipisnya, menghembuskan nafas panjang sebelum menjewer telinga Firesa dan Adam.
"Adam, kamu ini gak ada kalem-kalemnya. Lihat tuh kembaran kamu-" Bu Rani melirik Agam yang tak lain adalah kembaran Adam. Cowok tampan berwajah datar itu menatap Adam malas lalu membuang muka kearah lain. "Dia aja kalem, cool-cool gimana gitu... Lah kamu mirip petasan!"
Adam cengengesan. "Agam jaim, Bu. Di rumah aja dia mirip sama saya," jawabnya, bohong.
"Sudah. Adam! Firesa! Kalian ini gak malu apa ngasih kesan yang buruk di hari pertama Aletheia disini?"
Aletheia menoleh. "Gak papa kok, Bu. Mereka lucu..."
"Duh senang banget dipuji calon pacar," jawab Adam berbunga-bunga.
"Hilih taik," cibir Firesa pelan.
Adam mendelik. "Nahkan! Firesa duluan yang nyari ribut sama saya, Bu. Padahal saya ngomong sama Ale tapi dia nyahut aja!"
"APA LO?!"
"LO YANG APA?! DASAR MAK LAMPIR!"
"ADAM! FIRESA! KELUAR DARI KELAS, SEKARANG!"
Marahnya orang sabar itu bahaya.
°°°°°
"Hi."
Aletheia yang sedang menulis langsung mendongak ketika mendengar suara menyapanya. Ia tersenyum ketika dua orang perempuan berdiri disampingnya.
"Kenalin-" Firesa mengulurkan tangan. "Gue Firesa, yang paling cantik jelita!"
"Bukan!" Perempuan disebelah Firesa menggeleng. "Namanya Firesa, yang paling miris dan menderita!" koreksinya membuat Firesa merenggut kesal.
"Jahat banget sih lo!" Firesa memukul lengan perempuan berambut hitam itu.
"Sakit!" Ia mendengus. "Nama gue Clara, temannya si mak lampir," ujar Clara terkekeh pelan.
"Aletheia," balas Aletheia membalas uluran tangan mereka berdua. "Salam kenal ya."
Clara mengangguk. "Sip. Mau ke kantin bareng gak?"
"Emang boleh?"
"Ya bolehlah masa enggak!" jawab Clara dan Firesa kompak. "Ayo."
Aletheia berdiri, tangannya ditarik Clara dan Firesa keluar dari kelas menuju kantin. Sesampainya di koridor lantai satu tak sedikit pasang mata yang menatap mereka. Wajar saja karena Clara dan Firesa termasuk siswi famous, selain karena cantik mereka berdua juga berteman dengan senior yang merupakan anak OSIS.
"Btw kita masih punya dua teman lagi, mereka berdua Kakak kelas. Palingan sekarang ada di kantin," jelas Firesa.
Selamat di koridor Firesa tidak berhanti mengoceh, berbagai hal ia jelaskan kepada Aletheia.
Mari sedikit mengenal mereka.
Yang pertama ada Firesa Kinar Sabila. Cewek manis yang bawel pakai banget, dijulukin Mak lampir di kelas karena suaranya yang cempreng. Ia juga galak. Pengagum nomor satu seorang Clarel Kavindra Erlangga pada pertemuan pertama mereka.
Lalu ada Clara Erva Artharin, cewek pecinta cokelat. Masuk kedalam jejeran siswi cantik karena pesonanya sendiri, cewek feminim yang banyak disukai.
"Lama banget lo!"
Ada Kenzia Chiara Fransiska, wakil ketua OSIS yang lumayan cantik. Selain itu ia adalah pacar dari seorang Clarel Kavindra Erlangga dari sebulan yang lalu. Entah mengapa mereka bisa berpacaran padahal dulunya mereka sama sekali tidak dekat. Di tambah perbedaan usia diantara mereka, Kenzia yang lebih tua dari Clarel.
Namun karena Kenzia yang memang menyukai sosok Clarel sama seperti Firesa, ia terima-terima saja ketika Clarel menembaknya.
"Ya lo kira jarak dari kelas gue ke kantin dekat, Kak?!" balas Firesa sewot lalu duduk disebelah Kenzia.
Kenzia mendengus pelan, atensinya beralih kepada Aletheia. "Siapa nih? Cakep banget," decaknya kagum membuat Aletheia menjadi kikuk.
"Dia murid baru di kelas kita, sekaligus gabung sama kita-kita!" jawab Firesa.
"Hi, Kak. Nama saya Aletheia."
Kenzia menyenggol lengan Aletheia. "Santai, santai. Jangan kaku gitu, lo-gue aja kayak Firesa sama Clara. Btw gue Kenzia, panggil aja Kak Zia!"
Aletheia mengangguk. "Oke, Kak."
"Gue terkacangi," ujar Violet elus dada.
"Sama, Kak! Yang sabar ya," balas Clara mengelus bahu Violet.
"Gue Violet."
Terakhir ada Violette Bintang Tamara, sekretaris di OSIS. Teman baiknya Kenzia di kelas, orang yang paling sabar hadapin sifat Firesa dan Kenzia kalau gilanya lagi kumat.
"Duh maaf banget, Ale. Gue gak tau kalau ada lo, jadinya tadi gue cuma beli empat makanan doang!" ujar Violet meringis menatap makanan diatas meja lalu menatap Aletheia merasa bersalah.
"Eh gak papa kok, Kak. Kalian makan aja, biar gua beli makanan sendiri!" Aletheia berdiri tapi lengannya lebih dahulu ditahan oleh Clara.
"Rame loh," ia melirik antrian penjual makanan. "Kalau lo beli sekarang bakalan lama, keburu bel bunyi. Mending makan berdua sama gue," tawar Clara.
"Gak usah, lagian yang rame cuma dibagian Nasi. Gue bisa pesan... Mie ayam atau yang lain," jawab Aletheia.
Benar juga. Clara kembali menatap Aletheia. "Yaudah, perlu gue temenin?"
"Gue bisa sendiri," jawab Aletheia tersenyum sekilas lalu melenggang pergi.
"Cantik banget tu orang, insecure gue!" ujar Kenzia menatap punggung Aletheia yang mulai menjauh.
"Be yourself aja, setiap orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Lagian lo juga cantik," jawab Firesa.
Kenzia tersenyum cerah. "Wah ada gerangan apa lo mu-"
"Ya walaupun masih cantikan gue."
"Bangke!" umpatnya seraya mendelik kearah Firesa. Baru aja senang dipuji tapi Firesa malah membuatnya kembali kesal.
"WOI ITU CEWEK TIGA HARI YANG LALU 'KAN?!"
Itu suara Jendra T_T
°°°°°