Zero

44 24 18
                                        

SOMEONE WHO WILL HURT YOU.

•••

Seseorang memakai pakaian serba hitam memasuki pekarangan rumah yang mewah. Langkahnya mendendap-endip perlahan, menundukkan badannya, berusaha berkamuflase dengan gelap malam. Kode tangan 'V' dia tunjukkan pada rekannya di belakang, menandakan posisi aman. Mereka masuk melewati pintu halaman belakang yang terbuka bebas. Manik matanya memutar, mencari letak jendela kamar yang dia incar. Itu dia.

Seketika senyuman terbit dari balik masker. Dia tampaknya sudah tidak tahan. Auranya makin gelap, 'tak menunggu lama dia menusuk jari kelingking dengan gigi taringnya, menghirup dalam-dalam aroma memabukkan yang terasa amis. "I'm coming."

Jendela terbuka secara perlahan, mendorong hingga puncak agar dirinya dapat masuk leluasa. Dia memandang gadis itu terlelap. "Ssh ...." Mulutnya berdesis, giginya bergetar ingin dimanja.

"Mau langsung, apa pelan-pelan dulu enaknya?" pikirnya bertanya.

Dia mendekatinya, menatap lamat-lamat, dan tangannya pun maju merapikan anak rambut yang menutupi wajah gadis itu. "Lo harus mati saat ini juga!"

"Tadi lo emang bisa hidup dengan tenang, tapi sekarang ... i'm sorry. Welcome to death, baby."

Dia memundurkan badan seraya menghirup aroma vanilla di ruangan kamarnya, yang nantinya 'tak akan bisa dia hirup lagi. Tangannya merogoh kantong celana, mengambil benda yang selama ini menemani. Benda tajam, berukuran kecil, nan mematikan. Siapapun bisa tergores begitu saja, walau hanya mengenai ujung. Apabila dia sudah mengeluarkan benda itu maka langkah selanjutnya, BUNUH.

Mari, kita tuntaskan hasrat dan nafsu ini segera!

Sedikit-demi-sedikit, dia menggoreskan pisau lipat itu di lengan gadis cantik tersebut. Lengannya terbuka bebas, dagingnya mulai terlihat, kulit putih mulus seolah berubah menjadi aliran sungai darah. Gadis itu mulai melenguh. "Sshh ...."

Mata korban masih terpejam, sepertinya dia masih bermain-main di dalam mimpinya. Tolong maafkan baju hitam ini karena telah mengganggu tidur nyenyakmu. Gadis tadi berusaha memiringkan badan, tapi itu malah membuatnya semakin tergores karena pisaunya masih menancap dalam lengannya. Jackpot! Poin 20, baju hitam tersenyum.

Namun, senyuman menghilang saat gadis itu berhasil menghempas tangan baju hitam. Dia berdesis kesal dicampur amarah. Anehnya, suaranya masih belum keluar. Dia hanya mengumpat kecil di balik masker. Berani-beraninya ada orang yang mengganggu kegiatan manisnya ini. Tak main-main, baju hitam semakin memperdalam goresan pisaunya hingga menembus nadi.

Gadis itu sontak membuka mata, matanya sudah berlinang air mata, membelalak tak percaya. Perih, panas, dan rasanya, seperti terbakar. Sangat menyakitkan!

"AKHH ... SAKITT ...," pekiknya. Dia mengepalkan tangannya, menahan rasa sakit itu.

Gadis itu merasakan betapa dalamnya tusukan tersebut. Rasanya lengan kanan, seperti sudah patah. Baru kali ini dia disiksa dengan kejam oleh seseorang yang asing dan tanpa adanya alasan yang jelas.

Tak peduli akan rintihan korban. Baju hitam semakin memperluas goresan. Permukaan tangannya sudah becek akan darah. Sesaat, sebelum melanjutkan. Dia menghirup aroma memabukkan tersebut. Bau amis, tapi menyegarkan. Baju hitam kembali bersemangat untuk membunuh.

Gadis itu bergidik ngeri melihatnya. Tak perlu lama lagi, dia pun semakin gencar melukiskan sesuatu dan tak ingin berhenti. Itulah yang dia cari. Membuat korban diam, kesakitan, dan selepas itu bingung.

Seakan sudah selesai di lengan. Dia pun mencari spot yang lebih bagus lagi, yaitu leher. Leher gadis mulus sekali, tak ada luka-luka di sekeliling. Gadis itu menggeleng keras, seakan sudah cukup. Namun, sekali lagi seseorang di balik masker menghiraukan. Sebanyak apapun kau merintih maka sebanyak itulah kau kesakitan.

Goresan pisaunya kembali menari-nari. "Akh ... ple-please stop it ... shh." Darah pekat pun mulai mengalir dari ranjang hingga ke lantai. Rambut gadis itu pun sudah basah akan darahnya di leher tadi.

Seseorang itu sama sekali belum mengeluarkan suara satu kata pun, bahkan dia tetap gencar melukiskan sesuatu tanpa mendengar erangan korbannya. Gadis itu memberontak, tapi yang dia dapat kembali rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.

"Akh ... shh ...." Suara itu terdengar, terus menggema di kamar yang sudah berbau amis tersebut.

Gadis itu hanya bisa pasrah, menoleh sekeliling mencari bantuan, tetapi tak bisa. Pandangannya sedikit kabur, napasnya sudah tak normal. Dia lemah.

Seseorang itu membuka baju yang dikenakan korban-hanya sebatas dada-tidak lebih. Pertama, elusan yang diterima. Sedikit lembut, tetapi menyiksa. Kedua, menusukkan pisau.

Jleb!

"Akhh, sakitt ..., hiks."

Gadis menatap sayatan pada tubuhnya, sedikit melirik kecil kepada seseorang yang telah membuat tubuhnya semacam ini. Mata seseorang itu tajam, dipenuhi nafsu dan hasrat tinggi untuk membunuh. Aura gelap kembali menyelimuti.

"L-lo si-siapa?" tanyanya dengan suara bergetar.

Dia terdiam.

R

Tulisan huruf (R) telah terukir dengan indah di perut korban. Dia lagi-lagi tersenyum mematikan, memandang karya yang telah dia buat. Setelah memandanginya cukup lama, dia mengambil surat yang telah dibuatnya sebelum datang ke mari. Meletakkannya di meja dan tak lupa, kertas itu dia oleskan darah korbannya.

Gadis itu meremang saat membaca tulisan yang seseorang itu tulis. Bulu kuduknya berdiri. Sekali lagi, dia-gadis itu-tak berani mencari masalah dengannya.

Pesan terakhir, jangan mencari gara-gara dengannya. Apabila, tak ingin datang pada kematian.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 02, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Corpus DelictiWhere stories live. Discover now