Aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti kami akan bersahabat. Aku dan dia? Serius, kami sangat berbeda. Dia adalah cewek paling sok yang pernah aku temui. Sumpah, dia seperti tidak bisa melihat ketidaksukaan orang lain padanya. Dan jangan harap aku akan mengobrol dengannya. Otaknya juga, menurutku, tidak seberapa. Tapi anehnya, dia tidak pernah merasa bodoh. Seolah dia hidup dalam dunia yang sempurna. Menjengkelkan!
Tahun ini, di kelas enam, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan berubah. Aku tidak akan lagi jadi cewek badung yang sering bikin onar. Satu-satunya harapanku adalah jangan sampai duduk sebangku dengan si Naina. Tapi tentu saja, hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Pak Hasan, wali kelas kami yang sudah berumur, memanggil kami satu per satu, kemudian mulai memasangkan kami secara acak. Dan tentu saja, nasib buruk menimpaku. Aku harus duduk dengan Naina. Awalnya aku ingin protes, tapi akhirnya aku hanya bisa pasrah.
Beberapa minggu pertama duduk dengannya, aku benar-benar cuek. Kami tidak pernah ngobrol, apalagi pergi ke kantin bareng. Tidak ada hal-hal seru yang biasanya dilakukan teman sebangku. Rasanya seperti duduk dengan orang asing. Tapi ya, itu pilihanku—aku yang memilih untuk bersikap dingin.
Tapi Naina... dia lain. Dia terlalu baik, bahkan untuk orang sepertiku. Bayangkan, dia sering membagi bekalnya tanpa diminta. Dan jujur, siapa sih anak SD yang bisa menolak makanan? Tidak peduli sebadung apa pun, perut yang lapar tetap bisa meluluhkan hati.
Selain soal makanan, Naina juga suka curhat. Awalnya aku risih, merasa aneh dengan kebiasaan dia yang tiba-tiba mengajakku ngobrol soal hal-hal pribadi. Aku bukan tipe orang yang suka mendengar curhatan orang lain. Tapi lama-kelamaan, aku mulai terbiasa. Setiap hari, ada saja cerita dari Naina—entah itu soal keluarganya, teman-teman di luar sekolah, atau hal-hal kecil yang terjadi di sekitarnya.
Perlahan, tanpa aku sadari, kami mulai semakin dekat. Sikap dinginku mulai mencair. Aku yang awalnya ingin menghindar, justru mulai menikmati waktu yang kuhabiskan dengannya. Kami tertawa bersama, berbagi cerita, dan bahkan mulai melakukan hal-hal seru yang biasanya dilakukan teman sebangku.
Ternyata, begitulah awal persahabatan kami dimulai. Dari musuh bebuyutan menjadi sahabat karib. Lucu, kan? Kadang hidup memang penuh kejutan.
---
Oh iya, aku ini cewek, meskipun belum terlalu feminin. Aku lebih suka main bola daripada duduk manis di kelas sambil ngobrol tentang tren fashion terbaru. Suatu hari, aku mengaku pada Naina bahwa awalnya aku benar-benar tidak suka berteman dengannya. Aku merasa dia terlalu "sempurna" dan aku tidak cocok berteman dengan orang macam dia.
Lalu, apa jawabannya? Dengan senyum lembut, Naina hanya bilang, "Aku tahu. Karena kamu bukan tipe orang yang akan menjelekkan aku di depan umum. Kamu mungkin melihat kekuranganku, tapi kamu tidak akan menggunakannya untuk melukai aku. Itu beda sama orang lain. Mereka pakai topeng, kelihatannya ramah, tapi siapa tahu apa yang mereka omongkan di belakang."
Kata-katanya membuatku terdiam. Saat itu aku sadar, Naina berpikir dengan hatinya. Dia punya empati yang tinggi, sesuatu yang jarang kutemui pada orang lain.
Sedangkan aku? Jujur saja, aku tipe orang yang berpikir hanya saat situasi mendesak. Bertindak refleks atau spontan, tanpa terlalu banyak pertimbangan. Kami memang berbeda, tapi mungkin justru itulah yang membuat kami bisa saling melengkapi.
Setelah lulus SD, kami membuat janji untuk selalu bersekolah di tempat yang sama. Itulah hebatnya persahabatan kami—keinginan untuk tetap bersama, bahkan ketika dunia mulai menawarkan jalannya masing-masing. Kami berencana untuk mendaftar ke SMP favorit. Masalahnya, nilai Naina tidak begitu pintar, dan aku tahu kalau dia akan kesulitan jika harus bersaing lewat tes.
YOU ARE READING
Olivia And Her Trouble
Teen FictionAku adalah figuran yang mendapat banyak masalah karena ikut campur dalam kisah utama klise percintaan sahabatku yang bak peri dengan cowok tengil tukang bikin ulah. Bukan salahku karena Naina, sahabatku memang menghindarinya. Namun seseorang mencoba...
