1 - Tim

8 0 0
                                        

Beberapa tahun belakangan, SMA Bumi Jhaya 36—para muridnya menyingkatnya dengan sebutan BJ 36—terkenal akan kenakalan murid-muridnya. Tawuran, bullying, pemerasan, serta aksi senioritas yang berlebihan menjadi suatu pemandangan rutin di sana. Bahkan, kabar tersebut sudah menyebar luas di kalangan sekolah-sekolah lain. Sekolah lain yang juga terkenal akan eksistensi murid-murid nakalnya menjadikan SMA BJ 36 sebagai lawan dan rival yang dirasa cocok untuk dijadikan lawan bertarung. Sementara itu, sekolah yang terkenal akan eksistensi murid-murid baik nan berprestasi tentu saja berusaha jaga jarak, baik itu dari area SMA BJ 36 maupun dari murid-muridnya.

Namun, terhitung sejak tahun ajaran dua tahun lalu, tingkat kenakalan murid-murid SMA BJ 36 mulai menurun. Memang, tidak semua dari murid nakal itu langsung bertobat dan menjadi murid baik, tapi penurunan yang signifikan membuat pihak sekolah serta OSIS menjadikan hal ini sebagai ajang pembersihan dan perbaikan guna melahirkan reputasi SMA BJ 36 yang lebih baik. Tidak lagi hanya dianggap sebelah mata sebagai sekolah penampung murid-murid kepala batu yang tak bisa dididik.

Penurunan tingkat kenakalan murid-murid SMA BJ 36 memunculkan banyak tanda tanya. Siapa dalangnya? Siapa kiranya sosok pemberani yang melakukannya? Pertanyaan terus bermunculan, tapi tak kunjung terjawab. Hal itu melahirkan banyak rumor terkait siapa sebenarnya sosok pemberani tersebut, meskipun pada faktanya masih berupa praduga tak berdasar.

Salah satu rumor yang paling banyak dipercaya masyarakat SMA BJ 36 adalah kemunculan sebuah organisasi rahasia yang didedikasikan untuk memberantas tindak kenakalan siswa BJ 36. Alasan rumor tersebut menjadi nomor satu yang paling dipercaya didasari oleh terorganisasinya pengungkapan tindak kenakalan yang biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi, yang jika diamati lagi mustahil dilakukan hanya oleh satu orang. Tetap tidak ada yang tahu dalang di balik organisasi misterius tersebut—yang kemudian disebut-sebut sebagai BU (backstage union). Bahkan, sumber dari rumor tersebut pun tidak jelas datangnya dari mana. Meskipun begitu, rumor ini tetap menjadi informasi yang paling dipercaya seluruh masyarakat SMA BJ 36, tak terkecuali staf pengajar yang tiap-tiap hari meladeni tingkah laku penuh ragam siswa SMA BJ 36.

"Ck! Apaan, sih?! Gue mau masuk. Awas!"

Tingkat kenakalan murid SMA BJ 36 memang betul mengalami penurunan, tapi bukan berarti murid-murid nakal tersebut lantas hilang begitu saja bak ditelan bumi. Murid laki-laki itu, misalnya. Dilihat dari gaya berpakaiannya yang urakan, terlebih lagi nada bicaranya yang keras dan terkesan kasar membuat murid baru sekali pun tahu bahwa murid laki-laki itu adalah satu dari sekian banyaknya murid nakal penghuni BJ 36. Dengan kedua alis yang saling bertaut membentuk huruf V, ia melipat kedua lengan di depan dada sambil berdecak kesal pada sang ketua OSIS yang tengah menjalankan inspeksi paginya.

"Jaketnya dilepas dulu, baru masuk."

Mendengar titah sang ketua OSIS, siswa berambut pendek acak-acakan itu kembali berdecak kencang. Sama sekali ia tidak berusaha menutupi kekesalannya pada aturan tak berdasar itu.

"Apa hubungannya jaket sama gak boleh masuk? Apa sekarang jaket gambarin citra murid nakal? Iya?"

Ketua OSIS berpakaian rapi tanpa cela itu diam saja. Dipandanginya terus teman-sesama-pelajar yang berdiri berhadapan dengannya tak kalah tajam. Decakan lagi-lagi terdengar mengisi keheningan antara mereka berdua. Dengan sangat terpaksa, dibukalah jaket tebal berwarna biru gelap itu hingga kini menampakkan kondisi seragam putihnya yang membalut tubuh tingginya. Tanpa perlu repot-repot membenarkan seragamnya yang agak kusut, ia menyampirkan jaketnya di bahu kiri, dan kembali menatap ketua OSIS yang masih berdiri tegak di hadapannya.

"Dasi. Bawa, kan?"

Masih dengan kekesalan yang bersarang dalam dirinya, siswa itu merogoh saku celananya dengan gerakan kasar. Dari saku celana itu, keluar selilit kain berwarna abu-abu. Dasi yang seharusnya dililit di leher justru dipintalnya secara asal ke saku celana. Dengan gerakan tidak santai, dililitnya dasi itu sehingga akhirnya membentuk simpul yang tentu saja bisa ditebak tidak rapi akibat gerakan tangannya yang kasar dan penuh emosi.

Backstage HeroTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang