Kubuka pintu rumah sambil menenteng tasku yang berat karena buku yang miliki ratusan halaman didalamnya.
"Seharusnya kamu yang nganterin dia ke rumah sakit!! Kamukan bapaknya!! Dia itu anak kita berdua! Bukan hanya anakku!!"
"Kenapa harus aku??? Aku kurang apa?? Sekolah udah aku sekolahin masak kerumah sakit aja gak bisa!!"
Ah, mereka bertengkar lagi. Padahal aku baru saja menginjakkan kakiku kedalam rumah.
Aku mencoba tak menghiraukan mereka, aku melangkah menuju dapur untuk sekedar meredakan dahagaku dan otomatis aku harus melewati kedua orangtuaku itu.
"Ya karena kamu itu bapaknya!!!"
"Ya kan Rio ada dirumahkan?? Kenapa enggak suruh dia aja yang nganterin Ara ke rumah sakit?? Kenapa harus aku?? mereka udah gedek! Percuma sekolahin tinggi-tinggi kalau hal kayak gini aja harus aku yang ngelakuin."
Kalimat itu sudah lebih dari cukup menghancurkan hatiku. Kulempar tas yang sebelumnya ku tenteng.
"ENGGAK USAH MIKIRIN GUE!!! GUE BISA NGELAKUIN SEMUANYA SENDIRI!!! ENGGAK USAH MIKIRIN GUE!! INI YANG JADI ALASAN KENAPA GUE SELALU PERGI KELUAR DARI RUMAH INI!!! KARENA INI!!! KALAU GUE BEBAN BUAT KALIAN, BIARRIN GUE PERGI!!!"
Setelah itu aku pergi kekamar dan membanting keras pintu kamarku.
Aku mendengar teriakkan ayah dan ibukku.
Aku tak menghiraukan itu.
Kuambil silet di samping tempat tidur, silet yang masih meninggalkan jejak darah karena seminggu yang lalu.
Dengan rasa sakit dan marah ku sayat urat nadi di pergelangan tangan kiriku sampai darah keluar seperti sungai. Ngilu dan pedih hanya itu yang kurasakan, tubuhku melemah, bibirku pucat dan pandanganku menggelap.
Dengan napas yang mulai melemah,
"Ya allah maafkan hambamu yang mendahului ren-ca-na-mu..."
YOU ARE READING
MY LAST
RandomBerisi Quotes (apapun bisa cinta, persahabatan dan lainnya.) puisi, cerpen atau keluh kesah alias sambat.. 😁
