Jari-jari mungil itu menari-nari di atas keyboard laptop dengan lihainya. Sesekali Ryana atau yang lebih akrab dipanggil Ana itu meminum kopi yang ada diatas mejanya. Masih pagi tapi sudah hampir menghabiskan segelas kopi? Memang sudah menjadi kebiasaan buruk seorang Ana.
Ketukkan pintu mengalihkan perhatian Ana.
"Masuk."
Seorang wanita cantik memasuki ruangan Ana.
"Nona, sebentar lagi anda ada pertemuan dengan klien dari PT.Hadsa di cafe xx." Tria, yang merupakan sekretaris Ana memberitahukan jadwal Ana.
"Oh baiklah. Tolong kau suruh Andre menyiapkan mobil." Tria menganggukkan kepalanya lalu segera berlalu pergi. Andre adalah supir pribadi Ana. Ana segera mematikan laptonya dan pergi meninggalkan ruangannya.
Perjalanan menuju ke café berjalan dengan lancar. Kesepakatan kedua belah pihak juga sudah terbentuk. Ana melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 3 sore. Tak terasa pertemuannya ini memakan waktu 3 jam lamanya.
Ana mendongak menatap awan yang bergumul hitam di atas sana.
"Ayo kembali ke perusahaan. Setelah itu pulanglah. Nikmati akhir minggumu." Andre sedikit terkejut mendengar penuturan Ana. Pasalnya jarang sekali Ana memberi keringanan seperti ini. Ana yang seorang workaholic suka menyamakan standar kerjanya dengan para bawahannya. Andre yang sudah lama menjadi sopir pribadi Ana sudah terbiasa jika harus menunggu atasannya itu sampai tengah malam di perusahaan.
"Lalu bagaimana dengan anda nanti nona?" Andre bertanya sambil menyusul Ana yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju parkiran.
"Aku masih mempunyai kaki dan tangan untuk mengemudi sendiri." Timpal Ana yang tengah mengecek pekerjaannya di tab.
"Terimakasih Nona." Andre membukakan pintu penumpang untuk Ana. Mobil mewah itu berjalan melewati padatnya jalanan Jakarta.
Ryana Beltran atau yang lebih sering dipanggil Ana adalah seorang perempuan manis berumur 26 tahun yang sangat gila kerja. Ia selalu mendedikasikan waktunya untuk bekerja. Jarang sekali Ana memiliki waktu luang untuk bermain. Jangankan bermain, mengunjungi kedua orang tuanya ia sangat jarang melakukannya. Dalam waktu sebulan Ana bisa pergi ke luar negeri sampai 3 kali. Lembur di kantor bahkan tidur di kantor menjadi hal biasa bagi Ana.
Di umurnya yang menuju 27 ini Ana masih cuek-cuek saja perihal menikah dan berkeluarga. Ia berpandangan bahwa perusahaannya, pekerjaannya dan tanggung jawabnya akan keteteran jika ia menikah. Lagipula Ana bisa mewujudkan apa-apa yang ia inginkan tanpa adanya pasangan di sampingnya.
Perusahaan yang ia dirikan lebih berarti menurut Ana. Bahkan tak jarang ibunya berusaha menjodohkan Ana dengan beberapa anak kenalannya, tapi mereka jelas kabur satu per satu mengetahui kebiasaan Ana yang sangat bukan istriable sekali.
Melakukan dinner bersama hanya akan membuang waktu para lelaki itu. Ana hanya akan menjawab seperlunya, seluruh perhatiannya selalu pada pekerjaan.
Ana menghela napas lelah sambil menatap pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Ia menyenderkan tubuhnya di kursinya, menutup matanya meresapi rasa lelah yang ia rasakan. Hari ini Sabtu malam Minggu. Apa yang bisa dilakukan seorang workaholic sepertinya jika tidak hanya bekerja? Menyelesaikan beberapa proposal yang memerlukan tanda tangannya, serta mengecek laporan keuangan yang masih menanti di atas mejanya.
Ia melirik kearah jam dinding. Pukul 11.00 dan pekerjaannya serasa tak habis-habis. Ana kembali menutup mata dengan helaan napas yang lebih keras dari sebelumnya. Namun beberapa detik setelahnya ia tersenyum tipis. Kembali mengerjakan tugasnya dengan semangat dan ditemani secangkir kopi.
YOU ARE READING
This Girl Doesn't Need A Boyfriend
RomanceRyana Beltran Pengusaha sukses yang selalu beranggapan kalau ia tak membutuhkan kehadiran seorang laki-laki. Wanita berusia 26 tahun yang sangat dingin dan gila kerja. Prinsipnya yang tak mau menikah karena enggan membuka hati membuat keluarganya...
