(1)

36 9 4
                                        

"Kamu itu seperti matahari pagi, menghangatkan namun hanya sementara.." ~Arunika~



•••∆•••

Tali sepatu dengan warna hitam bercorak maroon yang senada dengan warna sepatu nya itu baru selesai ia ikat kan.  Tangan nya meraih sandwich yang terletak di piring atas meja makan.

Di masuk kan segigit roti dengan sayuran  ke dalam mulut nya. Mulut mungil itu terus mengunyah,  sedangkan  mata nya tertuju pada rumus Fisika yang ada di buku catatannya saat ini.

" Jadi kecepatan rata rata itu rumus nya perpindahan di bagi  perubahan waktu. Terus kalo mau nyari jarak perpindahan, yaitu...kecepat..."

"Runii..."

Kegiatan menghafal rumus gadis itu di hentikan oleh teriakan seseorang yang memanggil nama nya dari arah luar.

Terpaksa gadis yang memiliki nama Runi itu mengalihkan pandangannya dan menyahut panggilan seseorang tersebut.

Runi melangkahkan kakinya ke arah pintu depan dan menyuruh seseorang yang memanggil nya tadi untuk masuk.

"Ck.. langsung masuk aja Bi." Titah Runi yang terlihat kesal.

Cowok yang di panggil  "Bi" oleh Runi tadi hanya mampu nyengir kuda dan mengikuti Runi yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah nya.

Sampai di ruang tamu yang kebetulan berjajar dengan ruang makan, dua manusia itu di sambut oleh wanita cantik dengan rambut yang di tata rapi, bukan seperti wanita umur 30-an pada umum nya. Tak lupa tas kecil yang berada di tangan kiri nya.

"Eh Bintang, tumben pagi banget dateng nya" Sapa wanita itu yang tak lain adalah bunda Runi-Ajeng.

"Iya nih Bunda, mau numpang sarapan. Hehe." Aku Bintang sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Runi dan Bintang adalah sahabat sejak kecil. Jadi Bintang sudah kenal akrab dengan bunda Runi. Bahkan sesekali Bintang menginap di rumah Runi jika kedua orang tua nya sama sama ada tugas di luar kota.

Tak heran, jika Bintang memanggil Ajeng dengan sebutan bunda , sama seperti Runi memanggil bunda nya.

"Ah kamu ini. Ya udah sok sarapan. Bunda mau berangkat dulu" ucap Ajeng seraya berlalu meninggal kan mereka berdua.

Bintang tersenyum hangat dan mengangguk kan kepalanya kepada Ajeng. "Hati hati bunda"

Setelah kepergian Ajeng, Bintang langsung duduk dan menyantap nasi goreng buatan bik Siti-pembantu di rumah Runi.

Sedangkan Runi masih fokus dengan hafalan nya dan juga sepotong sandwich yang masih belum habis sedari tadi.

"Fokus banget sih Ru" tegur Bintang

Runi hanya bergumam sebagai jawaban. Karena pikirannya benar benar sedang dalam rumus Fisika yang sangat sulit itu.

Bintang yang merasa di acuhkan pun akhirnya memutuskan menghabiskan sarapan nya dan cepat berangkat sekolah.

Runi mengalihkan pandangannya ke arah  Bintang yang dengan lahap memakan nasi goreng buatan bik Siti.

Senyum tipis berhasil lolos dari bibir mungil nya. Debaran singkat juga ikut mengiringi senyum manis gadis itu.

Runi mendekat ke arah Bintang, mengacak sebentar rambut hitam lebat beraroma woody itu. Membuat si pemilik rambut menoleh ke arah nya dan menaikkan sebelah alis nya seolah bertanya why?

Runi mengambil tisu yang terletak di depan Bintang dan membersihkan sedikit sisa makanan di sudut bibir cowok itu. "Makan lo kayak anak kecil" cibir Runi.

ArunikaStories to obsess over. Discover now