We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Chapter 1

155 23 9
                                        

Ayame berlarian sembari menjinjing rok bajunya. Wajah wanita muda itu tampak pias. Dengan peluh yang membanjiri dahinya, dia menuju ke Istana Bailian berada. Menaiki tangga dengan cepat tanpa khawatir dia akan tersandung dan terjatuh. Begitu sampai di pintu ganda kamar junjungannya, dia langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu dulu.

"Permaisuri!!"

Orang-orang yang berada di dalam kamar terperanjat kaget dan langsung menatap ke arahnya. Ayame terengah-engah. Tanpa memperdulikan pandangan para penghuni kediaman, dia berlari lagi dan langsung duduk di bawah kaki pemilik Istana.

"Permaisuri.." ia kembali memanggil. Susah payah berbicara karena napasnya terputus-putus.

Wanita ayu yang dipanggil permaisuri mengernyit dengan wajah bingung, "Ada apa? Pelan-pelan saja."

Ayame menarik napas. Sedikit ragu untuk mengatakan. Namun dia juga tidak tahan jika menyimpan berita besar seperti ini.

"Y-yang Mulia," suara Ayame sedikit gemetar, "Yang Mulia sudah kembali."

Haruno Sakura melebarkan matanya dengan wajah yang gembira, "Benarkah?"

Ayame mengangguk, "Tapi... Permaisuri, tunggu!!"

Sakura mengabaikan ucapan Ayame dan terus berlari menuju Istana Utama. Dia bahkan tidak mengenakan mantel tebal. Sedangkan musim dingin tengah berada di puncaknya. Bulir-bulir salju berjatuhan membasahi kepala Sakura. Tiara hairpin yang menghiasi sanggulan rambutnya pun bergoyang seirama. Kedua tangan lentiknya dengan erat memegangi rok pakaiannya. Mencegahnya agar tidak tersandung dan terjatuh.

Sudah sejak lama dia menanti hal ini. Akhirnya setelah kecemasan yang dia rasakan selama hampir satu tahun ini menghantuinya sirna. Kelegaan dia rasakan. Sampai-sampai dia hampir tidak bisa menahan air matanya. Rajanya telah pulang, suaminya telah kembali. Dengan membawa kemenangan dan juga tanpa luka.

Begitu sampai di depan Istana Utama dirinya tersenyum lebar. Uap keluar dari sela napasnya yang terengah. Matanya menatap lurus barisan pasukan prajurit yang datang dari kejauhan. Menyorot lembut pada sosok yang memakai baju zirah berwarna emas di antara pasukan itu.

"Permaisuri, pakai mantel Anda."

Sakura mengabaikan lagi Ayame yang sudah menyusul. Pelayannya itu memakaikan mantel di bahunya. Ia tetap terfokus pada rombongan sang raja yang baru datang dengan senyum manis.

Dan senyum Sakura membeku ketika melihat sosok lain duduk di atas kuda Yang Mulia.

Raja baru saja pulang dari peperangan yang terjadi satu tahun terakhir. Ini adalah perang besar dan tercepat yang terselesaikan. Menurut kabar yang sampai di Istana Kerajaan Suna, musuh berhasil dipukul mundur dan terpaksa menyerah. Mereka akhirnya menyetujui negosiasi damai. Kerajaan Suna pun pulang membawa kedamaian tanpa harus melibatkan lebih banyak pertumpahan darah. Kerajaan musuh sudah ditaklukan.

Sorakan-sorakan kemenangan terdengar mengiringi pasukan yang dipimpin oleh Sabaku Gaara, Raja Kerajaan Suna. Mulai dari gerbang perbatasan bahkan sampai ke Istana Kerajaan. Ungkapan bangga, syukur, dan haru mengiringinya. Doa-doa untuk kemakmuran dan umur panjang juga membanjirinya.

Sakura akhirnya tersadar dari keterpakuannya setelah merasakan ada orang lain yang berdiri di sampingnya. Ia menoleh sekilas, sosok Ibu Suri berdiri anggun dengan senyum halus yang lembut. Lalu dia kembali menatap ke depan. Sang Raja ternyata sudah sampai di undakan tangga paling bawah. Baru saja turun dari kuda dan tengah membantu orang lain yang naik di kuda yang sama dengannya. Memberi arahan dan berkata dengan lantang menyuruh pasukan bubar untuk beristirahat di markas masing-masing.

Begitu pasukan berlutut dan bubar, Raja pun mulai menaiki tangga Istana. Tangan lebarnya menggandeng tangan lentik wanita muda yang dia bawa. Hal itu tak lepas dari pandangan Sakura . Tangan wanita itu yang bertaut di depan perut pun saling meremas kuat.

HUANGHOU || SasuSaku Stories to obsess over. Discover now