Gelap. Itulah yang kurasakan pertama kali saat membuka mata, entah berada dimana yang pasti aku tidak mengingat sesuatu, tiba-tiba saja aku sudah berada di tempat aneh ini, dengan tubuh yang tergeletak dilantai dingin, serta...
Tunggu?? mengapa tanganku menempel begini!? Ya ampun apa kedua tanganku terikat dibelakang? Sial! mengapa aku di sekap seperti ini? apa salahku? dan lagi siapa yang melakukan ini semua??
Ingin rasanya berteriak, tetapi entah mengapa aku tak bisa melakukanya seolah bibirku kelu. Tapi apa yang sebenarnya terjadi? mengapa aku tak mengingat sebelumnya? Ah, kurasa aku sudah amnesia.
Bola netraku menatap sekeliling, hanya secelah cahaya yang masuk dari jendela kecil, itu pun sangat tinggi sehingga aku tak bisa melihat isi luar jendela itu, apalagi dengan keadaanku yang diikat seperti ini.
Tiba-tiba suara pintu berderit nyaring, seakan tubuhku membeku ditambah jantungku berdetak amat kencang kala suara sepatu mendominasi ruangan ini. Dengan gerakan pelan tapi pasti, langkahnya berjalan mendekat ke arahku. Sedangkan aku berusaha menatap wajahnya, tetapi sayangnya ia memakai masker dan topi hitam, sehingga aku tak bisa melihat siapa wajahnya.
Langkah tersebut berhenti tepat di depanku, dia berjongkok di-hadapanku, aku yakini bahwa orang tersebut adalah seorang lelaki dari tubuh nya yang jangkung.
"Hei Rachel?"
Apa? dia mengetahui namaku?? apa aku mengenalnya?
Sungguh, aku tak mengenal suaranya, tetapi aku yakin dia pasti sengaja mengubah suaranya agar aku tak tahu siapa dia sebanarnya.
"Kau siapa?" Tanyaku seberani mungkin.
Aku tak tahu bagaimana mimik ekspresi wajahnya, "Kau akan tahu nanti."
"Apa yang sebenarnya terjadi? mengapa aku ada disini?"
Dia nampak berdeham sedangkan aku masih menunggu jawabannya, "Akan kuberitahu semuanya, asalkan kau mengikuti semua perintahku."
Apa?? Dia gila?? untuk apa aku harus menuruti perintahnya? bagaimana kalo dia memintaku yang aneh-aneh.
Seketika wajahku berubah menjadi dingin dengan tatapan tajam aku menatapnya, "Apa?"
Dia mendekat ke arahku sampai tiba ku merasakan geli dengan bisikan halus tetapi berhasil membuatku bergidik ngeri.
"Bunuh Richard."
"TIDAK!"
Aku terbangun dengan nafas terengah-engah, setelah aku menatap sekeliling, seketika tersadar bahwa itu hanyalah mimpi. Dadaku naik turun, lalu aku menghela nafas berusaha tenang, bukan sekali dua kali aku mimpi buruk seperti ini.
Langit masih gelap, aku melirik jam beker yang berdiri di atas nakas. Masih pukul 02.24 pagi, aku mengusap kepala rambutku, lalu ku senderkan tubuh ke papan ranjang.
Tanpa sadar mataku berkaca-kaca, aku tak tahu harus seperti apa kedepannya, capek? pasti. Takut? bahkan sering. Andaikan saja aku tak mempunyai kemampuan seperti ini, pasti aku selalu tenang dan tak akan pernah merasa takut.
Aku ingin seperti orang lain pada umumnya, aku tahu pasti banyak orang yang menginginkan kemampuan seperti ini. Tapi, mereka tak tahu saja bahwa aku selalu takut memiliki kemampuan ini, sungguh aku ingin sekali memusnahkan potensi ini. Tapi aku hanya manusia biasa, mau tidak mau harus menerima takdir serta menjalankannya.
Sudah lama aku mengalami insomnia, dan baru hari ini aku tertidur di ranjang tanpa sadar, aku senang bisa tidur. Tetapi bagiku tidur adalah mimpi buruk yang ingin sekali kuhindari.
Mimpi, aku sangat senang bila aku berada di mimpi yang indah, tapi di sisi lain aku takut. Takut dengan mimpi buruk yang terjadi, karena apapun yang aku mimpikan akan menjadi kenyataan suatu nanti.
Kenyataan? bagaimana bisa?
Tentu saja, karena aku bisa melihat masa depan.
#####
YOU ARE READING
Magic Ability
Teen FictionKisah ke-enam gadis remaja yang memiliki kemampuan ajaib yang berbeda, tetapi siapa sangka dengan adanya kemampuan itu mereka dipersatukan untuk menjalankan tujuan yang sama. Belum lagi, masih banyak sekali rintangan yang harus mereka lewati. Cerit...
