Semarang, di bulan Maret.
***
Suara derum motor yang terbilang sedikit bising itu, memasuki sebuah kawasan kompleks perumahan sunyi nan asri, dengan terus melaju dengan santai dan cueknya melalui deretan rumah model bergaya modern minimalis, yang pastinya membuat siapapun yang tinggal di kawasan ini akan jauh lebih nyaman juga aman, yang di tambahnya dengan penjagaan satpam kompleks yang terbilang ketat.
Lelaki yang mengendarai motor ninja berwarna hijau itu, perlahan mematikan mesin motornya karna terbilang sedikit bising yang masih melaju pelan karna jalanan rumahnya yang agak sedikit menurun. Rumah lelaki ini, terletak kurang dari empat rumah dari gerbang portal kompleks perumahannya, yang akan berhenti tepat di depan sebuah perkarangan rumah yang cukup memiliki lahan yang cukup luas, dengan beberapa tanaman bunga juga, hijaunya rerumputan di halaman taman depan, samping kanan juga kiri, hingga belakang yang mengelilingi rumahnya ini menjadi terlihat sangat asri nan nyaman.
Laki-laki itu memparkirkan motornya tepat di garasi rumahnya setelah sempat turun sejenak dari motornya untuk membuka gerbang rumahnya yang tidak terlalu tinggi, lalu laki-laki itu perlahan melepaskan helmnya yang sempat terpasang di kepalanya, dan mengibaskan rambutnya dengan gerakan ke kanan juga ke kiri dalam tempo yang cepat.
Sejuknya angin sore berhembus menyambut kedatangannya yang tersenyum sembari menghela nafasnya lega, karna sudah berhasil menyisir jalanan kota Semarang sore ini yang terbilang ramai yang cukup padat. Satu persatu kakinya melangkah santai menuju teras utama untuk melepaskan kedua sepatunya, dengan pintu utama yang di lihatnya seperti biasanya yang terbuka dengan lebarnya tidak heran.
"Ma, Jason pulang!"
Sunyi.
Jason menghela nafasnya lega, lalu terduduk di bangku kayu di teras depan rumahnya untuk melepas kedua sepatunya itu. Di tentengnya santai kedua sepatunya yang sudah berada di salah satu tangannya untuk di simpannya ke dalam rak sepatu yang berada di ruang belakang dekat tempat mencuci baju, jasonpun berakhir kembali melangkah kan kakinya menuju taman belakang mencari sosok mamanya, dimana keluarganya sering kali berkumpul menghabiskan waktu sore disana.
"Mama?" Alisnya mengernyit bingung. "Mama kenapa?"
"Eh, udah pulang kamu jas? Kok tumben sore banget pulangnya"
Clarissa menengadah menatap wajah putra bungsu lelakinya yang terlihat begitu, kusam juga lelah karna baru saja pulang dari sekolahnya. Padahal, ini terlihat bukan style yang seperti biasanya. Karna, putranya ini selalu berpenampilan rapi, trendy, cool, seperti anak-anak, remaja seusianya.
Kegiatan tambahan ekstrakulikuler basket ke banggan putra bungsunya ini, sempat membuat Clarissa menatap Jason putranya sedih, sekaligus bangga karna waktu mudanya ini bisa terisi dengan baik. Namun, disisi lain waktu jam pulang sekolahnya, yang sering kali terlalu sore yang membuatnya terkadang menjadi sedikit kasihan karna melihat kondisi Jason terlalu lelah, yang juga terkadang di tambah dengan beberapa tumpukan tugas organisasi yang sering kali di bawanya pulang karna, putranya tahun ini yang dengan beruntungnya terpilih menjadi wakil ketua OSIS di sekolahnya.
"Basket dulu tadi mah, mumpung masih kelas 1 sma jadi puas-puas in dulu deh, sebelum berkutat taun depan sama persiapan UN" jelas Jason yang mencium tangan Clarissa mamanya.
Clarissa tersenyum menanggapi jawaban putranya, yang langsung menggeser posisi duduknya, dengan menepuk-nepukan tangannya pada space kosong di sebelahnya. "Nggak sibuk kan? Duduk sini, mama mau bicara sebentar"
ESTÁS LEYENDO
Ankaja. (Antara Semesta, Kanya Dan Jason)
Novela Juvenil"Gua baru tau, kalo ada cewek nyebelin tapi bisa bikin kangen" ucap Jason dengan menatap Kanya lekat. "Terus? Harus salah gue gitu? Harus gue yang.." Cup. Kanya terdiam melamun menatap Jason lekat menahan desir hatinya yang seakan bersiap lompat ka...
