Pertengahan bulan April Korea sudah memasuki musim semi. Jalanan kota Seoul dipenuhi bunga ceri yang bermekaran. Semerbak aroma bunga mengguar di sepanjang jalanan kota Seoul.
Beberapa orang tampak menikmati keindahan bunga berwarna merah muda itu. Beberapa lagi tampak acuh, bukan tidak ingin menikmati tapi mereka yang notabennya pekerja kantoran adalah orang-orang sibuk dan tidak punya banyak waktu untuk bersantai menikmati pemandangan hari itu. Kota ini memang terkenal sebagai kota yang sibuk apalagi Ini adalah hari kerja. Semua orang bergegas agar tidak terlambat menuju tempat kerja mereka, Han Soe Hee termasuk diantaranya.
Hari ini Soe hee terlambat bangun pagi. Kemarin rasanya seluruh badan Soe hee remuk setelah bekerja paruh waktu di 2 tempat berbeda. Alhasil hari ini dirinya harus bergegas mengejar bus agar tidak terlambat.
"Ahjussi ... Ahjussiii berhenti ..." Soe hee berteriak memanggil bus yang beranjak meninggalkan halte. Ia berlari mengejar bus itu. untunglah sopir bus itu berbaik hati menghentikan busnya. Buru-buru dirinya naik ke dalam bus.
"hheuhh heuhh Kamsahamnidahhh" ucapnya dengan nafas terengah-engah. Soe hee melihat sekeliling bus, tidak ada tempat duduk tersisa, ia pun harus rela berdiri.
Setengah jam berlalu, bus tiba dikawasan Hannamdong. Soe Hee bekerja sebagai pelayan paruh waktu di salah satu minimarket di daerah tersebut.
Soe Hee buru-buru turun setelah bus berhenti. Ia melirik jam dilengannya. Dirinya sudah terlambat 15 menit. Jalan terakhir adalah Ia harus berlari mengejar waktu agar tak semakin terlambat.
Begitu tiba di Minimaker keberuntungan tak bepihak pada Soe Hee, sang Manager toko melihat kedatangannya.
"Kau terlambat lagi? Kau ini niat bekerja tidak? Apa kau sudah tidak ingin bekerja disini lagi?" tanya sang manager dengan nada tinggi.
"Maaf pak" ucap Soe Hee membungkukkukan badannya
"Jika kau sudah tidak ingin bekerja, besok kau tidak perlu datang kesini lagi."
"Maaf pak, saya tidak akan mengulanginya lagi" Soe Hee kembali meminta maaf, wajahnya tertunduk.
"Sekali lagi kau terlambat aku akan memecatmu!" ucap manager toko lalu pergi meninggalkan Soe hee.
Soe hee buru-buru pergi ke ruang ganti untuk berganti pakaian.
Selesai berganti pakaian Soe hee menghampiri nona Young-Ae yang sedang menata barang di etalase.
"Maaf Nona Young aku terlambat" ucap Soe hee pada Young-Ae, sesama pekerja paruh waktu ditempatnya bekerja.
"Sudah berapa kali kau terlambat? gara-gara kau terlambat jadwal pulangku juga terlambat" ucap Young-Ae ketus.
"Chuesonghamnida ..." (Chuesonghamnida : maafkan saya), Soe hee membungkukkan badannya.
"ini lanjutkan" Young-Ae menyerahkan troli berisi botol-botol air mineral kepada Soe hee lalu pergi.
Sepeninggal Young-Ae, Soe hee melanjutkan pekerjaan Nona Young, lalu mengambil alat pel untuk membersihkan toko.
Satu, dua pelanggan berdatangan, Soe hee bergegas menuju meja kasir saat pembeli akan membayar. Di minimarket itu Soe hee bekerja sebagai pelayan sekaligus kasir.
"Total harganya 15.000 won" ucap Soe hee kepada seorang pelanggan.
Pelanggan tersebut memberikan uang 20.000.
"Kamsahamnida" ucap Soe hee seraya memberikan uang kembalian.
Kegiatan itu terus berulang setidaknya untuk 8 jam kedepan. Entah berapa puluh kata terimakasih yang dilontarkan Soe hee selama satu hari itu. Seperti itulah rutinitas Soe hee di siang hari, sedangkan malam hari Soe hee akan bekerja sebagai pelayan SPBU.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Gwishin
Romansakehidupan yang sulit dan penderitaan yang bertubi-tubi membuat Soe Hee memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun bukan kematian yang ia dapatkan melainkan penglihatan akan satu sosok tak kasat mata. Anehnya hanya sosok itu yang dapat Soe Hee lihat...
