Angin berembus pelan, membawa ketenangan di kala senja. Warna jingga nan gelap menandakan matahari kan meninggalkan bumi dari tempatnya. Berganti peran dengan bulan yang sebentar lagi akan muncul dengan gagahnya. Sayangnya, malam ini bukan bulan purnama. Bulan purnama merupakan salah satu keindahan sang Maha Pencipta yang ‘tak akan pernah lekang oleh waktu. Ketika menatapnya seakan mata ‘tak bisa berkedip, keindahannya menyembunyikan jutaan rahasia yang semu dan kenangan yang menyakitkan.
Seorang gadis termenung di pelantaran rumahnya menunggu senja yang menjadi kebiasaan sejak dia masih menginjak masa sekolah menengah pertama.
“Ki, masuk ke dalam rumah. Sudah berapa kali Mama katakan kalau sore-sore begini tidak boleh di luar, apalagi bengong begitu.” Terdengar suara sang ratu sudah marah dari dalam rumah.
“Iya Mama, sebentar lagi Kiki masuk,” balas sang gadis dengan tidak menolehkan kepalanya.
“Jangan lama-lama,” titah sang ratu sekali lagi.
Dia adalah gadis kuat dengan tembok kokoh di luarnya. Dia pendiam dan suka memecahkan masalahnya sendirian. Dia dengan sejuta rahasia yang tak mampu ditembus dengan cara biasa. Dia yang sukar didekati. Dia adalah gadis penuh misteri. Anindita Putri Kirana. Itulah namanya, biasa dipanggil Kiki oleh orang terdekat dan teman masa kecilnya. Sekarang dia dipanggil dengan nama Dita oleh teman sekampusnya.
Gadis tersebut beranjak dari tempatnya ketika senja telah usai. Pada malam hari, Kiki membuka laptopnya untuk mulai mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan seminggu lagi. Kiki terbilang mahasiswa yang rajin serta disiplin. Namun, tangannya berhenti bergerak ketika kursor membawanya tempat folder yang menyimpan sejuta kenangan. Di kliknya folder dengan nama ‘puisinya’, dibukalah salah satu file dan dibacanya dengan lirih.
Anila berembus menyingkap rambut nan gemulai
Atma bergejolak tatkala aksa menatap sang putri yang melambai
Jantung berpacu menatap raga yang kian mendekat
Penuh misteri saat wajah ini bersitatap
Senyumannya membuat buana runtuh
Seakan memberi titah pada ucapannya dengan patuh
Apalah daya, diri ini telah terpedaya
Oleh rasa yang kian membuncah setiap harinya
Pada dia, yang kini telah bahagia
Bersamanya ….
Tiba-tiba perasaan Kiki menjadi nano-nano setelah membacakan puisi itu. Dirinya dibawa kembali pada kejadian beberapa tahun silam. Pikirannya kini berlayar, seakan bernostalgia menikmati setiap jengkal momen yang tercipta. Namun, itu tidak berlangsung lama. Suara dering handphone mengganggu dirinya.
“Halo, ada apa?” ketus Kiki saat menjawab telepon itu.
“Oke, jangan sampai lengah. Beritahu aku jika ada informasi penting tentang dia,” ucap Kiki.
Dia terlihat serius saat melakukan percakapan di handphone. Entah apa yang dibicarakan, sehingga membuat dahinya berkerut.
“Merepotkan sekali,”dengus Kiki sesaat setelah mematikan teleponnya.
Lebih baik aku belajar sekarang agar hatiku tidak panas, batin Kiki.
-TBC-
***
Wah kenapa nih si Kiki? Apa yang membuatnya kesal? Ada yang bisa tebak gak?
Penasaran?
Tunggu aja dulu
Jangan lupa vote dan krisannya ya! Kalau ada typo, komen aja. Jangan sungkan-sungkan, nanti panuan.
Becanda hehe😂
Salam kenal dari Author, hi!
YOU ARE READING
Misteri Rasa
Teen Fiction"Cukup sudah! Rasanya sudah terlalu jauh," putus Dita. Anindita Putri Kirana. Gadis yang kerap disapa Dita oleh teman sekampusnya. Nama yang cantik bukan? Mari mengenal lebih jauh tentangnya. Anindita artinya sempurna, Putri adalah anak perempuan d...
