Kesal dan malu, namun menyenangkan
- Denah Andina A
Tuk!
Sebuah gelas plastik berisi jus alpukat mendarat tepat di hadapan Denah. Dengan senyum lebar, cewek itu mengucapkan terimakasih kepada sahabatnya, Viona. Mereka sudah bersahabat sejak kecil, hanya saja terpisah sejak kelas 8 hingga dua minggu lalu, saat Denah menjadi murid baru di SMA Prestasi. Denah cenderung pemalu, sedangkan Viona lebih senang berterus terang. Meski sifat mereka berlawanan, namun sejauh ini belum ada yang bisa membuat keduanya bertengkar, kecuali saat berpendapat tentang jus alpukat favorit-nya Denah. Kata Viona, jus alpukat menjijikan, warnanya yang hijau dan teksturnya yang lembut membuat ia enggan untuk mencobanya. Terlebih, Denah tidak pernah memakai gula untuk jusnya itu.
“By the way, mereka siapa?” tanya Denah tanpa mengalihkan tatapan dari sekumpulan orang yang duduk di bagian pojok kantin itu. Terdapat tiga orang laki-laki dan satu orang perempuan.
“Yang duduk semeja sama Rega?” Rega adalah teman sekelas mereka yang terkenal jahil. Wajahnya tampan, namun sayang, kelakuannya yang usil membuat teman-temannya—terutama perempuan—menjadi hilang respect padanya.
Denah mengangguk sambil menyesap jus alpukatnya.
“Mereka itu satu keluarga. Si anak pertama yang mukanya ganteng parah, namanya ka Arga, tapi lo jangan coba-coba deketin dia kalo nggak mau jadi tumbalnya si Ara”
“Ara temen sekelas kita?”
Viona mengangguk “kakaknya dia, cinta mati banget sama kak Arga. Kalo ada yang deketin kak Arga, beberapa minggu kemudian bakal lenyap dari sekolah ini” ujarnya dramatis sambil memperagakan dengan tangannya.
“Ngilang gitu?” tanya Denah dengan wajah polos.
“Ya ga semisterius itu... Lo kebanyakan nonton film fantasi, sih” geram Viona “orang itu tiba-tiba pindah sekolah dengan alasan yang nggak masuk akal gitu”
Denah manggut-manggut mengerti, walaupun ia sendiri masih tidak percaya akan separah itu efeknya “Terus kalo yang cewek itu?”
“Nah kalo yang itu” Viona menujuk ke cewek yang duduk di sebelah Rega “namanya Rahil, adik mereka bertiga. Selain cantik, dia juga baik banget. Sifatnya sedikit mirip Rega, nggak bisa diem tapi jailnya nggak separah Rega”
Denah sudah pernah bertemu dengan Rahil sebelumnya. Tepatnya tiga hari yang lalu saat di perpustakaan. Dilihat dari segi manapun, Rahil adalah gadis cantik dengan aura wajah yang lembut. Pantas saja ketiga kakak laki-lakinya itu tampak amat menyayangi Rahil sebagai adik bungsunya.
“Nah kalo yang itu...” Viona menunjuk ke arah cowok yang memiliki lesung pipit dalam di kedua pipinya “namanya kak Raga, orangnya humble banget, sifatnya beda jauh sama ka Arga yang dingin plus galak. Padahal mereka itu sodara kembar. Satu sekolah aja percaya nggak percaya kalo mereka kembar, abisnya semua-muanya beda. Cuma umur doang yang sama”
“Tapi... kok, lo bisa tau semuanya gitu, sih?”
“Ya ampun Den, satu sekolah juga tau kali siapa mereka dan gimana sifat mereka. Tapi gue tau sifat Rahil karena emang dia junior gue di ekskul Seni” sedetik kemudian, bel berdering tanda jam istirahat telah usai. Bertepatan dengan berlalunya empat orang yang sejak tadi di bicarakan itu--tepat di sebelah meja yang sejak tadi di tempati Denah dan Viona.
o0o
Bel pulang sudah berdering sejak sepuluh menit yang lalu. Viona sudah pulang lebih dulu karena ada urusan yang mendesak katanya. Setelah menyelesikan urusannya di dalam bilik toilet, Denah mencuci tangannya di washtafel sekaligus bercermin. Matanya beralih dari bayangannya di cermin ke bayangan cewek yang tengah membenahi ikatan rambutnya. Denah tersenyum saat Rahil menatapnya.
YOU ARE READING
Arga & Denah
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Menikah di usia dini apalagi masih sekolah adalah hal yang tidak pernah Denah bayangkan seumur hidupnya. apalagi jika calon suaminya itu galak dan ketus seperti Arga, ya walaupun Arga adalah paket komplit yang di idam-idamka...
