Aluna Lovandra seorang gadis indigo, namun Aluna merasa kemampuannya merupakan sebuah kutukan.
Dimana Aluna berada maka disana pasti akan terjadi kematian. Aluna depresi sehingga ia menutup diri dari dunia luar, hingga akhirnya Aluna bertemu dengan...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Semilir angin berhembus kencang bersamaan dengan terdengarnya suara denting jam yang menunjukan pukul 00.00.
Ding dong
Suara denting terus terdengar di sepinya malam. Berbagai suara asing terus berbisik di telinga namun tidak ada satupun manusia yang terlihat.
"Tolong kami gadis terpilih."
"Selamatkan kami dari rantai yang mengikat Jiwa kami."
"Kepalaku sakit, tubuhku bersimbah darah. Aku ingin bebas,"
Gadis yang berada ditengah kegelapan itu menutup telinga karena banyaknya suara yang terdengar.
"Hentikan bisikan ini, aku sangat tersiksa," gumam Aluna seraya menutup telinga menggunakan kedua tangannya.
Bisikan asing tidak lagi terdengar. Namun suasana semakin mencekam hanya kegelapan yang menemani menciptakan rasa takut.
"Aluna datanglah padaku," suara misterius kembali terdengar.
Gadis yang bernama lengkap Aluna Lovandra melangkahkan kakinya mengikuti suara misterius yang memanggilnya.
Aluna menghentikan langkahnya saat suara misterius yang memanggil namanya menghilang.
"Ini bangunan apa?" Aluna membatin menatap bangunan tua yang ada didepannya.
"Masuk dan temukan aku." suara asing kembali berbisik ditelinga Aluna.
Aluna mengusap lehernya saat merasakan ada sesuatu yang menyentuh lehernya.
"Tolong aku hiks."
Aluna menolehkan kepalanya saat merasakan ada sesuatu yang menyentuh pundaknya.
Tubuh gadis itu membeku menatap sosok yang ada didepannya. Sosok perempuan dengan tangan yang terikat rantai dan tubuh bersimbah darah.
Bau anyir dan busuk tercium semakin pekat saat sosok perempuan yang terikat rantai mendekat kearah Aluna.
Dengan tubuh bergetar Aluna berjalan menjauh dari sosok yang berusaha mendekatinya. Demi apapun baru kali ini Aluna melihat sosok yang sangat menyeramkan.
Ding dong
Suara denting kembali terdengar membuat Aluna mempercepat langkah kakinya. Ia ingin segera keluar dari tempat menyeramkan ini.
Nafas Aluna memburu ia memejamkan matanya, saat melihat banyaknya sosok yang berusaha mengejarnya.
"TOLONG," teriak Aluna terus berlari disepanjang lorong bangunan tua.
Aluna menghentikan langkahnya saat melihat seorang perempuan berdiri dengan menggunakan payung hitam.
"Mbak tolong," ucap Aluna dengan suara yang bergetar dan nafas yang memburu.
"Hahahaha kematian akan segera menjemput kala denting terdengar. Dimanapun dan kapanpun kamu berada maka akan ada kepergian yang menemanimu." ucap perempuan berpayung hitam menatap Aluna dengan tajam.
"Tolong saya," lirih Aluna merasakan nafasnya yang tercekat kala sosok perempuan mencekik lehernya.
Nafas Aluna memburu ia saat terbangun dari tidurnya. Aluna mengusap wajahnya dengan kasar, namun sedetik kemudian tangannya terulur lehernya yang terasa sakit.
Dengan perlahan Aluna bangkit dari kasur dan melangkahkan kakinya menuju meja rias miliknya.
"Lebam," gumam Aluna menatap lehernya yang berwarna merah kebiruan seperti habis dicekik.
Aluna menatap wajahnya melalui bantulan cermin. Manik mata berwarna coklat milik Aluna terlihat sendu.
"Aku bukan membawa sial. Kemampuan ini bukan keinginanku," batin Aluna mengingat mimpi yang sudah sering ia alami tapi baru kali ini ia mengalami lebam yang serius.
"Nyatanya kamu hanyalah makhluk tidak berguna. Kehadiranmu adalah malapetaka untuk orang disekelilingmu," suara asing kembali terdengar membuat Aluna mengepalkan tangannya dikedua sisi tubuhnya.
"Arrghh! Pergi dari pikiranku," desis Aluna menatap dirinya melalui cermin.
"Dasar gadis pembawa sial hahaha."
Tangan Aluna terkepal dengan tatapan mata yang tajam menatap cermin yang ada didepannya.
Prangg
Pecahan cermin berserakan dilantai bersatu dengan tetesan darah yang berasal dari tangan Aluna yang terkepal.
"Dasar hantu sialan! Beraninya cuma nunjukin diri dengan suara, sini tunjukan muka kamu biar kita bergelud," gumam Aluna menatap cermin yang pecah akibat pukulan darinya.