Aku sering termangu menatap harap
Merajut setiap luka yang tumbuh
Merangkai setiap pikiran yang bergemuruh
Menimang tanya yang tak kunjung menjadi karena
Di tengah kegelapan malam
Tak jarang air keluar dari dua buah kelopak mata
Setetes demi setetes
Selalu menjadi persoalan
Harus bagaimana kah aku menyelesaikannya?
Mengikuti hati tanpa berlogika
Atau malah mengikuti pikiran tanpa perasaan
Mengenai adorasi yang harus dipertimbangkan
Akankah ku pilih menyakiti diriku sendiri dengan pilihan yang kubuat?
Perlahan di tengah kegundahanku
Rasa harsa itu menjadi aksa
Jauh semakin jauh
Diri semakin memperumit
Tak kunjung temu titik ujung
Jatuh semakin jatuh
Sendiri...
Aku hanya ingin sembuh
Aku hanya ingin tertawa tanpa memaksa
Lalu bagaimana dengan pundak tempat ku mengeluh?
Apakah ada yang bersedia memberi tanpa ku meminta?
Ditengah lalu lalang manusia apa aku hanya bisa diam?
Apakah diri ini masi mencoba merajut makna dari luka yang tersisa?
Takkan ada yang lolos dari luka
Pun tak ada polos untuk berkata "aku siap menderita"
YOU ARE READING
Mengenai Aku, Kamu, Dan Kita
PoetrySebuah rasa yang tak dapat diungkap, hanya dapat diri sendiri untuk mengerti. Sebuah rasa yang di pendam, dapat menyakiti raga dan fisik ini. Namun dapatkah ku membantu? Tuk mengeluarkan segala rasa sesak yang mengganjal darimu? Melalui ini hanya Ak...
