"Papa! Tidak! Jangan!"
Kuliat sesosok hitam besar dan berbulu sedang mengoyak-oyak tubuh papaku. Tubuh papa tergantung di lengan besar mahkluk hitam itu. Tubuh makhluk itu sangat besar layaknya raksasa dan dia memiliki sepasang tanduk panjang di kepalanya. Leher papa menggantung di salah satu tangan besarnya yang berbulu tebal itu.Lalu tangan yang satunya memukul-mukul perut papa dan sesekali mencabik-cabiknya dengan kuku panjang nan tajam di tangannya. Kukunya yang tajam dipenuhi darah segar papa yang mengalir deras dari luka yang dibuatnya.
"Jangan sakiti papaku! Kumohon...."
Mahkhluk itu seakan tak memperdulikan jeritanku karena sekarang dia bersiap untuk menancapkan tangan besarnya lebih dalam ke dada papa. Berkali-kali dia menusuk dan menusuk lebih dalam dada papa dan darahpun semakin derasnya keluar membanjiri tangannya dan tanah di bawah mereka. Dia menyiksa papa dengan kejam tanpa memperdulikan rintihan papa yang memilukan. Papa hanya bisa pasrah dengan ketidakberdayaannya itu. Aku hanya bisa menonton dan menangisi adegan sadis itu.
"Aghh..." Papa menjerit kesakitan ketika tangan besar itu seakan tangan besar itu memotong paksa isi dalaman daging yang tak berdaya itu.
Krrkk...
"So...fi..a" papa mengucapkan namaku putus-putus saat mahkluk itu menghujam dada papa dengan kuku tajamnya berkali-kali.
Dia seakan-akan ingin membuat lobang untuk mengambil sesuatu di tubuh papaku.Terdengar suara sayatan dari lobang yang dibuat oleh tangan itu dan mahkluk besar itu mencabut paksa organ otot yang masih berdegup dan dilumuri darah keluar dari dada papa. Dia menarik jantung papaku di depan mataku sendiri.
Kali ini aku melihat dengan jelas bagaimana bentuk jantung manusia. Jantung yang kulihat sekarang persisi seperti artifisial jantung yang ditunjukkan Ibu Susi di pelajaran Lintas Biologi. Tapi kini yang kulihat adalah jantung asli milik ayahku sendiri. Tega sekali dia...
"Oh..tidak! Jangan lakukan itu!" aku melihat jantung itu perlahan-lahan terlepas dari saraf-saraf dan daging yang menyelimutinya.
Seketika papa berdiri tegang dan menatap ke angkasa malam yang gelap dan ranting pohon yang sudah kehilangan daun-daunnya. Sinar purnama pun tak sanggup melihat dia seperti itu. Kedua bola matanya berputar-putar lalu berhenti tiba-tiba dan kemudian kepalanya terkulai sembari tubuhnya pun berhenti bergerak.
"Apa yang kau lakukan kepada papaku?"
Dengan enteng mahkluk itu membuang tubuh papaku sembarang di atas tanah. Lalu dia pergi membawa jantung papa. Dengan darah yang masih berceceran di tubuhnya, dia meninggalkan papa tergeletak di bawah pohon peluruh sendirian. Aksinya sudah usai. Dia melintas pergi tanpa memperdulikan keberadaanku di dekatnya.
Tak bisa berkata apa-apa lagi dan badanku kini lemas tak berdaya menyaksikan pembunuhan langsung kepada ayah. Kini aku tak tahu lagi harus berbuat apa-apa hanya menangis sebisa mungkin melihat papaku sudah diperlakukan sekeji ini. Papa...
Apa salahnya? Kenapa dia memperlakukan papa dengan kejam? Apa yang telah dilakukan oleh papa sehingga dia harus membunuhnya? Aku...aku.... TAK TERIMA INI!!!
Kutatap keras mahkluk yang membelakangiku itu. Dia masih berjalan dengan jantung papa yang ada di genggamannya meski jarak kami sudah cukup jauh.
"Bram? Apa yang telah kau lakukan kepada ayah gadis itu? Kenapa kau harus melakukan ini lagi? Sudah cukup! Aku tak bisa menutupi semuanya!" seorang wanita bergaun hitam panjang menghadang langkah mahkluk itu.
"Aku butuh ini untuk membuka gerbang utama. Kau diam saja!" mahkluk itu membungkam wanita yang menegurnya.
"Minggir kau!" dia mengusirnya lagi.
YOU ARE READING
Mimpi Basah (COMPLETE)
SpiritualPernahkah kamu bermimpi menemukan jutaan makan lezat dan menikmatinya dengan bebas? Pernahkah kamu bermimpi bisa terbang dan melayang jauh menjelajahi dunia? Atau pernahkah kamu bermimpi bertemu dengan pangeran/putri yang rupawan? Atau malah dikejar...
