Miya Utami, seorang proofreader di perusahaan penerbitan terkemuka, terbiasa menghabiskan hari-harinya di antara tumpukan naskah dan aroma kertas. Namun, saat akhir pekan tiba, ia memilih bersantai di kedai kopi favoritnya, menikmati alunan musik jazz lembut dan secangkir es latte.
Hari itu, Miya duduk menunggu pesanan. Matanya bergerak mengamati sekeliling ruangan―sebuah kebiasaan yang sulit dihilangkan, yaitu selalu memperhatikan detail di sekitarnya.
Beberapa pengunjung sibuk melihat ponsel mereka; sepasang kekasih di sudut tampak tersipu malu, dan seorang pria berkemeja formal fokus menatap layar laptop. Perhatian Miya kemudian tertuju pada seorang gadis yang duduk sendirian di dekat dinding kaca yang berembun.
Gadis itu tampak murung dengan rambut lurus cokelat yang menutupi sebagian wajahnya. Ia mengenakan setelan blazer kuning gading yang pas di tubuh rampingnya, namun ekspresi wajahnya terlihat kosong. Tanpa sadar, Miya terus memperhatikan gadis itu, hingga tiba-tiba ia merasa merinding. Perasaan itu menyadarkan Miya bahwa ada sesuatu yang aneh dan salah pada diri gadis tersebut.
Lamunannya buyar ketika barista memanggil namanya. Miya segera mengambil pesanannya. Rasa merinding yang ia rasakan tadi berubah menjadi dorongan kuat untuk cepat-cepat pergi. Ia bergegas keluar karena merasa tidak nyaman, seperti ada seseorang yang sedang mengikutinya. Langkah kakinya pun semakin dipercepat.
Saat hendak menyeberangi jalan yang ramai, ia mendengar suara mesin motor yang melaju kencang dari arah belakang. Miya menoleh dan langsung ketakutan saat melihat motor itu menabrak―atau lebih tepatnya, menembus―gadis berblazer kuning gading yang tadi ia lihat di kedai kopi.
Motor tersebut terus melaju tanpa henti, tetapi gadis itu tetap berdiri tegak. Matanya yang kosong kini menatap lurus ke arah Miya dengan tatapan dingin.
Miya ingin menjerit, tetapi suaranya tertahan di tenggorokan karena syok. Orang-orang di sekitar tidak ada yang menoleh. Tidak ada satu pun yang sadar bahwa gadis itu berdiri di tengah jalan tanpa terluka sedikit pun. Semua orang bersikap seolah-olah gadis itu―dan kejadian menyeramkan barusan―tidak pernah ada.
Gadis itu kemudian mulai berjalan perlahan, tanpa suara, melangkah menuju ke arah Miya.
Miya langsung berbalik dan berlari secepat mungkin untuk menjauh dari kejaran gadis itu.
YOU ARE READING
I'm Not Me ✅
ParanormalAleta, jiwa yang tersesat, akhirnya bertemu seseorang yang bisa melihatnya. Miya, gadis dengan kemampuan indra keenam, mendapati hidupnya dikelilingi oleh kehadiran tak kasat mata-bukan hanya Aleta, tapi juga Amel, gadis hantu yang menghantui kantor...
