Aroma khas itu menyeruak dalam kamar. Lelaki tanpa baju baru saja membuat kopi. Rutinitas bangun tidur yang tidak pernah absen.
Katanya ini bagian dari ritual wajib menyambut bumi. Baik di apartemen maupun di rumah.
Sekarang dia sendirian di rumah. Mama telah pergi. Papa telah menikah lagi. Kakak-kakak hidup dengan keluarga kecilnya, masing-masing. Ia hanya ditinggalkan sebuah rumah di pinggir desa di salah satu tempat di kabupaten Lebak Banten.
Ia tetap bertahan dengan segala kondisi yang ada.
Rasanya, lelaki itu sudah terlalu lama hidup sendiri. Namun ia sudah terbiasa. Ia tidak perlu merengek pada siapapun agar mau menemani kesepiannya.
Kopi, buku, dan secarik puisi yang selalu ditulisnya adalah teman terbaik yang selalu ia andalkan dalam mengusir sunyi. Ia menatap kertas puisi yang semalam ia tulis;
Meramu rayu
Kulihat seorang penjual jamu menumbuk asap ingatan dalam sebuah wadah berwarna hitam.
Wajahnya sendu seperti kertas usang yang ditinggalkan pemilik toko buku yang hampir tutup usia.
Aku menjelma menjadi tamu. Bertanya tentang harga jamu dan ingatan si ibu tentang ratusan tahun yang mengusik senyum bibirnya.
Ah pada akhirnya aku juga menjadi pendongeng. Ia menjelma anak kecil menanyaiku tentang bibir gelap, tentang mata layu, dan tentang alasan seorang pemuda yang meminta mati di atas sebuah tumpukan buku.
Kami terus melaju dalam lingkaran waktu yang tak terasa menyelimuti cahaya. Kisah-kisah ingatan kedua manusia saling beradu, menjadi hangat kala kedua isi kepala dibiarkan begitu saja, bebas berkeliaran lewat suara yang saling bertemu.
Pada akhirnya suara ibu membisikan lewat telingaku; merayu. Kembali. Ingatlah tentang bagaimana remaja lelaki tersenyum penuh mimpi kala berhasil menuliskan sebuah puisi. Kembalilah nak.
Terdiam adalah jawabanku sebagai penutup dongeng sore itu.
Kertas puisi itu dibiarkan kembali tergeletak di atas meja kerjanya. Ia kembali menyeruput kopi. Berusaha menenangkan diri. Masih pagi. Bumi menyambutnya dengan baik.
"Sudah sebelas tahun, " lelaki itu berbicara sendiri. Memandang keluar jendela kamar.
Dongeng tentang lelaki dan lingkaran bumi yang beradu disekitarnya siap menuturkan keajaiban.
Sekali saja.
|||||||||||•••••••••••••••••••••••••••••
PERNAH DI POST 2016. VERSI 2020 ADALAH PEMBAHARUAN DARI BERBAGAI ASPEK, BAIK PLOT MAUPUN KARAKTERISASI TOKOH
MENGAMBIL BUMBU KISAH NYATA YANG DIPERADUKAN DALAM DONGENG KEAJAIBAN
•
SUNGGUH SAYA INGIN BENAR-BENAR MENUNTASKANNYA. MAKA SAYA MENULIS KEMBALI KISAH INI. SAYA BENAR-BENAR INGIN MEMBACANYA.
SEMOGA KAMU TERHIBUR DAN MENGAMBIL HAL POSITIF DALAM CERITA INI
•
Slow update
VOUS LISEZ
SEKALI SAJA
Roman d'amourTERSERAH MAU DIBACA ATAU NGGAK. SANTUY:) ROMANCE | PUITIS | MELODRAMA Setiap orang berubah. Bumi juga berubah. Kamu. Kita. dan segala yang berotasi dalam lingkaran ini. Hanya sekali saja aku percaya. bahwa keajaiban tidak pernah berubah.
