Episode 1

44 7 0
                                    

Faeesan Pratama Ghossan. Dia adalah anak tunggal dari pasangan Silvi Cantika Ghossan dan Eigel Ghossan. Orangtuanya adalah pemilik perusahaan terbesar di Indonesia bernama Ghossan Property. Perusahaan itu juga sudah membuka cabang di beberapa negara termasuk Prancis.

Faeesan adalah tipe pria yang tidak tertarik sama sekali dengan dunia bisnis. Ia lebih suka menekuni profesinya sebagai dosen ketimbang bergelut dalam dunia kotor itu. Dan kini ia pindah ke Paris dan bekerja sebagai dosen di salah satu universitas terkenal di sana. Menjadi anak dari pemilik perusahaan besar tentu menjadi nilai plus baginya melanjutkan cita-citanya.

Ada alasan kuat yang membuat Pae memutuskan pindah ke negri orang. Di Indonesia ia terus dibayangi oleh sosok Serinai Senja, mahasiswi yang berani melawannya. Tatapan sinis wanita itu hingga kata-katanya mampu menghipnotis seorang lady killer sepertinya.

Konyol.

Benar, hanya karena insiden dimana Rinai menantangnya, Pae seolah merasa ada magnet yang menariknya untuk menguak siapa Serinai Senja sebenarnya.

Di balik kesinisannya, Pae yakin Rinai tidak sekuat itu. Tidak ingin gila karena satu wanita yang tidak jelas asal usulnya, Pae bertekat ke luar negri demi membersihkan otaknya dari bayang-bayang Rinai.

Pria yang kini memakai kaos putih polos dan celana training itu sedang berjalan menyusuri jalanan Kota Paris yang tampak ramai oleh pelancong. Meski dengan pakaian sederhananya, pesona Pae tidak pernah surut. Beberapa wanita berambut blonde melayangkan tatapan memujanya pada Pae. Ada yang sampai memberi undangan terbuka untuk Pae. Kalian tau apa yang dilakukannya? Tentu saja, apalagi kalau bukan membalas godaan itu. Pae mengedipkan sebelah matanya sambil menyeringai. Dan itu sukses menimbulkan pekikan tertahan dari mereka yang terpesona oleh Pae.

Ia tiba di persimpangan jalan. Di depannya ada jalur khusus pejalan kaki yang ditandai dengan garis horizontal hitam putih. Bersama puluhan orang lainnya, Pae melintas dengan tangan di dalam saku. Tingginya yang di atas normal orang Indonesia membuat Pae membaur dengan turis dan warga lokal bersisian dengannya.

Di detik itulah mata tajam Faeesan menangkap sesosok perempuan berambut sebahu yang berdiri lurus berlawanan arah. Wanita itu menutup rambutnya dengan tudung kepala. Pandangannya kosong ke depan. Seakan hanya ada dirinya di sana. Ia mengenakan hoodie kebesaran bewarna putih dan jeans ketat. Sama seperti Pae, wanita itu juga menyimpan tangannya di saku pakaian. Di sisi kirinya ada koper bercorak garis tipis warna pastel.

Waktu seperti berhenti saat itu juga. Kerumunan di sekitarnya mendadak diam kaku, menyisihkan Faeesan dan wanita itu.

Delapan tahun yang lalu wajah itu pernah menatapnya remeh dan sinis. Tetapi, kenapa hari ini sangat berbeda? Serinai yang dulu terlihat sedikit barbar, kini bak manusia tanpa gairah. Wajah pucatnya sangat kontras dengan bibir ranum nan merahnya.

“Serinai..” Dan tanpa sadar Faeesan menggumamkan namanya. Nama perempuan yang memonopoli hatinya delapan tahun ini.

Faeesan tersenyum misterius. Akhirnya, setelah lama menantikan momen ini Tuhan berbaik hati padanya. Ia dipertemukan tanpa rencana. Apakah ini tandanya semesta berpihak pada Faeesan?
Kakinya berhenti melangkah ketika tepat di sisi kanan Rinai. Faeesan sengaja berdiri di sana. Tubuhnya merapat.

“Kamu kembali, Serinai Senja,” bisik Pae kalem.

Walaupun tidak yakin Rinai mendengarnya, Pae tidak peduli. Entah apa yang menyebabkan Rinai bermenung begitu lama.
Pria itu membalikkan badannya. Kini mereka sama-sama menghadap ke tengah jalan. Para pejalan kaki hanya melewati dua manusia itu tanpa menegur sedikitpun.

“Kamu..kenapa bisa di sini?”

Hening. Hanya terdengar suara nyanyian artis jalanan. Tidak ada jawaban sepatah katapun dari Rinai.

Faeesan tidak menyerah. Di dunia ini tidak ada wanita yang bisa menolak auranya. Nenek-nenek sekalipun.
Jelas, Faeesan ahli dalam bidang bermain. Ciumannya bisa melumpuhkan mangsanya dalam sekejap. Begitu profesional dan melemaskan dalam satu waktu. Dan Rinai pasti akan merasakannya suatu hari nanti.

“Sudah keluar dari penjara, ya? Gimana rasanya jadi tahanan?”

Mendengar kata penjara dan tahanan, Rinai langsung tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke samping dan mendapati pria yang pernah menjadi dosennya berdiri penuh percaya diri. Dari samping Rinai bisa mempelajari lekuk wajah Faeesan. Tidak bisa dipungkiri pria itu memang tampan. Hanya saja Faeesan tengil dan sok-sok-an. Ah, iya, playboy-nya jangan dilupakan. Sudah bercap badasss.

Keningnya berlipat. Sejak kapan Faeesan ada di dekatnya? Oh, apa tadi katanya? Rasa menjadi tahanan, ya?
Rinai mengangkat satu sudut bibirnya. Menatap Pae dengan remeh.

“Urusan orang kok dikepoin.”

“Saya pikir kamu mati berdiri. Abis dari tadi ditanya malah diem,” tambah Pae.

“Oh, jadi seperti itu cara berpikir seorang dosen?” Rinai menekankan kata dosen untuk menyentil harga diri Pae. Rasa lapar yang menderanya sejak keluar dari bandara diabaikannya. Percuma ingin makan, uangnya habis untuk membeli tiket ke sini. Makanya Rinai melamun memikirkan bagaimana ia akan melanjutkan hidup di negri antah berantah.

Faeesan pikir kedewasaan Rinai membawa dampak positif. Setidaknya berubah menjadi wanita yang lebih ramah dan feminim. Rupanya masih sama dengan yang dulu. Faeesan jadi tidak habis pikir. Ngapain saja Rinai delapan tahun di penjara? Makan-tidur-pup?

“Kamu masih Senja yang dulu.”

Sontak Rinai mengangkat alis dan melemparkan pandangan bertanya pada Faeesan. Telinganya pasti salah dengar. Seumur hidup baru sekali ini ada orang yang memanggilnya dengan nama belakang.

“Nama saya Rinai,” koreksi Rinai. Geli rasanya dipanggil Senja. Padahal itu adalah bagian dari namanya.

“Saya manggil kamu Senja,” kekeuh Pae.

“Saya biasa dipanggil Rinai, Pak,” tekannya tak ingin digugat lagi.

“Ya, suka-suka saya, dong. Saya suka manggil Senja.”

Kepalanya panas mengeluarkan asap mengepul, andai dirinya sedang di film kartun.

“Keras kepala,” gerutu Rinai kesal. Jelas-jelas sudah dibilang ia biasa dipanggil Rinai. Faeesan malah ngeyel.

Pria di sebelahnya mengedikkan bahunya acuh. “Kamu mau kemana?”

Tumben nih cowok peduli. Nggak, ini pasti trik dia buat jadiin gue pacarnya yang ke-100.

Rinai menggelengkan kepalanya cepat. Hampir saja ia jatuh dalam jebakan Pae. Ingat Nai, Faeesan itu seorang playboy kelas kakap. Harus diwaspadai kebaikannya, pikir Rinai.

“Nggak usah kepo jadi orang,” ketus Rinai sambil mengamati kota.

Dari tadi ia melamun hingga tidak sempat melihat bagaimana Paris yang katanya penuh romansa.

“Niat saya baik. Siapa tau kamu butuh bantuan. Tunjukin jalan, misalnya.”

“Nggak perlu. Saya bisa sendiri.”

Tanpa sepengetahuan Rinai, pria itu mengangguk kecil. “Saya ganti pertanyaannya. Ada yang bisa saya bantu?”

Hell?! Trik macam apa lagi itu?

“Bapak lebih cocok jadi receptionist dari pada jadi dosen,” ujar Rinai tanpa berniat bercanda.

Tetapi, reaksi Pae justru sebaliknya. Ia tergelak hingga bahunya berguncang.

“Nggak ada yang lucu,” semprot Rinai semakin kesal. Suasana hatinya sedang tidak enak. Dan Faeesan semakin merusaknya.

“Ya, sudah.” Diliriknya arloji di tangan.

“Saya ada keperluan,” lanjut Faeesan. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar kartu kecil terlipat.

“Ini kartu nama saya. Di sana ada alamat saya. Kalau kamu butuh bantuan, pergi saja ke sana.”

Setelah mengucapkannya Pae berlalu begitu saja mengambil arah awal.
Sedang Rinai termenung di tempatnya. Matanya beralih menatap kartu kecil itu. Ia membuka lipatannya. Tidak disangka ada selembar uang terselip di sana.
Perutnya semakin keroncongan. Rinai melirik kopernya, lalu kembali menatap uang dan kartu pemberian mantan dosennya.

Apa boleh buat. Dengan terpaksa Rinai menggunakan uang itu untuk membeli makanan. Biarlah di sana Faeesan menertawakannya. Ini menyangkut masalah hidup dan mati. Kalau Rinai tidak makan makan, ia bisa terlantar menjadi gelandangan di Paris. Memalukan.

“Pak Pae, uangnya gue pakai. Nanti kalau gue udah kaya, gue ganti,” ucap Rinai sendiri.

Diraihnya koper dan membawa benda itu kemana ia pergi. Untuk saat ini tujuan Rinai adalah restoran terdekat.

Dari kejauhan Faeesan melihat Rinai yang menarik kopernya menjauh dari tempat semula. Diam-diam seringainya muncul lagi. Rinai benar, ada harga yang harus dibayar karena kebaikannya menolong wanita itu.

“Serinai Senja, kamu harus tanggungjawab.”

***

TARAKTAKDUNG TARAKTAKDUNG 😂

Selamat membaca Eps. 1 My Jerk Lecturer, yaa 🌻 🌻

Aku harap kalian suka 😘

Jangan lupa tinggalkan vote dan komentar di sini,

See you next day 🤗💞💞


My Jerk LecturerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang