Hujan,,,
satu kata beribu makna yang mendalam di hidupku sampai saat ini, yang mengingatkan ku saat-saat dimana kita berteduh bersama kala itu
Tring..tring..tring..,
Suara alarm berdering di samping telinga membuatku bangun dan beranjak dari tempat tidur yang sangat empuk ini
Karena hari ini libur, tepat pukul tujuh pagi aku keluar dari rumah menggunakan sepeda dan menuju taman dekat rumahku yang sudah di penuhi orang-orang ber olahraga
Setelah mendapat beberapa putaran, tiba-tiba ada rintik air mengenai wajah ku yang perlahan mulai besar dan membuat siapun di taman itu berlarian mencari tempat berteduh
Saat itu mata ku tertuju pada satu tempat, yaitu sebuah warung kecil.
Di bawah derasnya hujan itu, terdengar suara merdu dari dalam warung itu bersamaan dengan alunan musik dari sebuah gitar
Perlahan ku dekati pintu untuk mengintip sosok nyawa penyumbang suara merdu itu. Ternyata ia adalah laki-laki yang tampaknya sedikit lebih tua dariku
Tanpa sadar mataku tak dapat beralih dari pandangan di depanku saat ini, mataku berbinar bahkan sesekali air mataku menetes mendengar lagu itu, diiringi dengan bibirku yang mulai tertarik membentuk senyuman kecil
---
Keesokan harinya aku mulai melakukan aktivitas seperti biasa.
Aku berangkat menaiki sepeda yang ku kayuh dengan setulus hati menyusuri jalan yang teduh di bawah pepohonan sepanjang sisi jalan, dan pastinya sambil mendengarkan melodi kesukaan ku,
“wahh sejuk nya udara pagi ni”, teriak ku dengan merentangkan kedua tangan
-
"Halo semuanya Puput datang”, sapaku dengan suara keras dan sengaja mengagetkan kursi-kursi kosong di dalam kelas
Ya seperti inilah hobiku datang lebih awal sebelum yang lain datang dan memenuhi papan tulis putih dengan coretan spidol berwarna milik ku
Tiba-tiba di tengah keasyikan ku menggambar, ada laki-laki muncul dari balik pintu memasuki ruangan yang biasanya selalu kosong tiap pagi itu.
“kamu siapa? Kenapa ada disini?” tanyaku penasaran
“Oww, kenalin aku Rangga, aku baru pindah ke kelas ini”, jawab nya sembari menyodorkan tangan pada ku dan dengan bibir yang terus tersenyum
Aku sempat kaget dan dada ku kini mulai bertingkah aneh. Ada rasa sesak seperti sesak nafas tapi juga rasa nyeri yang entah berasal dari mana. Ini pertama kalinya aku merasakan hal tersebut, seolah ada hal yang aku ketahui tapi tak dapat ku jelaskan
“Oh iya, aku Puput”, balasku menjabat tangannya dengan cepat setelah tersadar dari lamunan sesaat ku tadi
“Kamu lagi ngapain sih, datang pagi buta, dan sekarang coret-coret di papan tulis. Aneh”, ucap Rangga dengan senyum jail nya
“Terserah aku dong, aku suka aja menuangkan pikiran di papan tulis ini”, jawab ku sedikit menyombongkan diri
Sesaat kemudian teman-teman ku mulai berdatangan, dan aku pun memposisikan diri di tempat duduk.
Di sini lah awal pertemuan kami kembali di mulai
-
“Put, ke kantin yuk, laper bangett”, ajak Klara dengan nada manjanya seperti biasa
“Eh, aku boleh ikut gak?”, sahut Rangga menyela ucapan ku dan Klara
“Wahh, boleh boleh, boleh banget dong, biar kita juga lebih akrab. Iyakan kan Put?”, jawab Klara dengan semangat 45
YOU ARE READING
Melodi Kenangan
Short StoryMelodi yang ada pada kenangan setiap orang itu berbeda-beda, entah melodi yang menyatukan atau melodi sebuah perpisahan Seperti kisah dua sejoli ini, mereka dipersatukan kembali dengan sebuah melodi kenangan yang mereka ciptakan di masa lalu setelah...
